
Pasukan kecil sudah dalam gendongan kehangatan seorang ayah. Niko mampu menenangkan Dion dan Alana dalam sekejap lalu beralih pada canda tawa.
Dua bocah itu seketika lupa kalau mereka telah menangis.
"Hahaha, kalian lucu sekali. Habis nangis ketawa." ujar Niko
Pasukan kecil tergelak bersama.
Diluar kamar
Pemandangan telah menghentikan langkah orang yang melintas. ayah dan ibu Rianti serta paman Madih memperhatikan. Pintu yang tidak tertutup sempurna akibat ulah Niko yang masuk tanpa permisi, telah membentangkan kisah yang selama ini mereka tidak tahu.
ya ampun gak tega banget gua liatnya. itu bocah segala nangis manggilin bapaknya. Madih sambil menyeka ujung mata yang membendung.
jadi begini yang selama ini mereka lewati. ayah Rianti berfikir.
Flash back
"Bagaimana jika kalian tunda pernikahan sampai satu tahun dulu. Saya melihat mental anak saya belum siap." Hardik ayah Rianti.
"Tidak bisa, sungguh ini bukan saya yang tega, tapi keadaan lah yang mendesak."
"Keadaan macam apa?"
"Dion dan Alana pak."
"Hemm, Niko bapak sangat paham perasaan seorang anak. Bapak sangat mengerti bagaimana putri bapak sendiri. Sedih saya lihatnya. Walaupun dia gak cerita, tapi saya tahu."
"Kalau begitu, tugas bapak hanya merestui kami saja. Saya akan buktikan kalau kecemasan bapak tidak akan terjadi "
keras sekali anak muda ini
__ADS_1
..........
Usai sudah adegan tangis di kamar yang menyesakan dada. Niat hati ingin menghilangkan penat yang berbau Artha grup, malah semakin ikut kemanapun Rianti pergi. Dia lupa jika telah melahirkan penerusnya.
Niko berhasil membujuk pasukan kecil untuk bisa bermain di area luar. Kini giliran paman madih yang ajak bermain cucu ponakan. Dengan gaya khas, paman Madih selalu berhasil membuat pasukan kecil tertawa tidak mengerti dengan bahasanya.
Dalam kesempatan inilah, Niko mencari keberadaan Rianti, wanita yang sudah tak berdaya di hadapan anak-anaknya.
Perasaannya khawatir jika Rianti semakin frustasi dan menyiksa diri. Tapi Niko salah, lelaki itu tercengang setelah menemukan keberadaan Rianti yang sedang berada di pohon jambu biji.
astaga
Niko yang sedang memakai outfit santai, celana bahan pendek yang dikombinasikan kaus hitam polos, serta jam tangan hitam mewah membuat dirinya tampan saat menaiki pohon.
"Kak, ngapain segala ikutan naik. Nanti pohonnya roboh."
"Emangnya yang gua naikin pohon cabe." Niko meneruskan panjatnya. Dengan lincah dia berhasil duduk di dahan yang sama dengan tempat Rianti duduk.
"Iya kak. Hebat" lirih.
stop Rianti, stop. Jangan flashback lagi ke hal masa lalu.
Rianti menghentikan pikirannya yang hendak memutar memori masa lalu tentang panjat pohon. Saat itu Satria terkagum dengan Rianti yang bisa memanjat. Terlebih Satria tidak bisa melakukannya.
"Eh ngapain?" Rianti kaget dengan aksi Niko yang mepet.
"Gua mau ngambil jambu yang di samping lu itu. kelihatannya lebih menggoda daripada jambu-jambu yang lain" Niko mengadi-adi.
"Sini, aku yang ambilin aja."
"Gak usah, gua kan mandiri."
__ADS_1
"Enak juga ya ternyata pacaran di atas pohon begini." lanjutnya lagi
"Apa?" Rianti sudah akan memukul Niko.
"Eeiittss, gak boleh banyak bergerak. Nanti kita berdua bisa jatoh." ucap Niko menakuti.
Pasrah sudah, Rianti tak dapat berkutik. Lebih baik dia meneruskan makan jambu biji.
"Cantik" gumam Niko. Respon Rianti masih datar. Sampai akhirnya Niko menyelipkan daun jambu biji di telinga Rianti. Tidak ada bunga daun pun jadi.
"Cantik Ri, kaya model obat cepirit. Ada daun jambu bijinya."
Rianti hampir tersedak karena geli. "Terimakasih kak atas pujian yang indah itu."
Kretek..kretek..
"Mampus tuh kan, apa gua bilang. Kita bakalan jatoh." Niko panik. Rianti langsung berpindah dahan.
"Kak sini pegang tangan aku."
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa bahagia !