
Berubah haluan,
Rianti mengurungkan niat untuk menaiki wahana kincir, ingatannya yang melintas bahwa Niko pria garang terbesit ide untuk mengajaknya naik kora-kora saja.
"Kak, aku gak jadi naik kincir. Kita naik kora-kora saja ya?"
"Tidak masalah."
kora-kora apaan si.
Rianti sudah mendapat dua tiket dan memilihkan tempat duduk di paling ujung. Spot yang paling tinggi ketika di ayun. Lumayan untuk memacu adrenalin, sekalian dia penasaran dengan reaksi Niko.
Wahana sudah mulai digerakkan, pertama ayunan masih begitu rendah, lama-lama merangkak dengan kecepatan tinggi. Jeritan sudah mulai menggema.
Rianti melirik Niko dengan ekor mata, yang dilirik ternyata sedang melihatnya juga,
"Apa lihat-lihat?" lelaki itu cengengesan, senang karena Rianti sedang memperhatikannya. Terlebih Rianti tertangkap basah saat mereka beradu pandang.
"Siapa yang melihat? orang cuma melirik. Emang gak boleh? ya sudah jika tidak boleh."
"Boleh, buat lu aja tapi, kalau lu lagi kepengen banget lihat ketampanan gua ini."
Mendengar itu, Rianti ingin bergeser sedikit menjauh.
"Mau kemana? jangan geser kita bukan lagi ditempat yang aman." Niko sudah melingkar kan tangan di pinggang Rianti, membuat wanita itu membulatkan mata.
__ADS_1
"Kak, tanganmu gak usah kaya gini. Aku bisa jaga diri."
"Gua lagi gak nyari kesempatan, gua cuma pengen lindungi lu aja. Disini pengamanannya kurang baik. Kalau terjadi apa-apa sama lu, gua bakalan hancurin tempat ini."
Pasrah, Rianti tidak dapat berkutik sampai wahana berhenti. Diantara jeritan para orang, Rianti hanya bisa memejamkan mata agar tidak dituduh lagi. Rianti merutuki Niko yang semakin menjadi.
Lelaki yang sesungguhnya sedang mencari kesempatan tertawa puas dalam hati, dia menang lagi untuk kedua kalinya. Kemenangan part dua yang membuat Rianti begitu kesal.
"Ri, maafin gua ya."
"Lah tumben minta maaf, kirain kagak bisa nyebut kata maaf." Kesal. Setelah permainan selesai Rianti ingin sekali menjauh dari Niko.
"Iya, maafin gua yang terlalu sempurna Sampai lu mengagumi gua dalam diam. diam-diam melirik, cie..cie..cie.. hahaha" tertawa puas.
Niko gila.
Rianti masih berdiam diri, mulutnya ditutup rapat agar tidak mengeluarkan kalimat yang akan menimbulkan percikan obrolan dengan Niko. Karena Rianti saat ini sangat begitu kesal dengan Niko yang seenaknya merengkuh pinggang.
"Ri, lu marah ya? kalau iya, gua harus apa? dan kalau marahnya udah selesai bilang gua, soalnya ada yang mau gua omongin." Niko terkekeh.
benar-benar Niko, ucapanku dikembalikan olehnya. aku kira cuma uang belanja aja yang ada kembaliannya.
Pertahanan bibirnya mulai goyah, hidungnya kembang kempis menahan gelak. punggungnya tampak bergoyang dilihat dari sisi Niko yang mengekor.
Rianti berhenti mendadak membuat Niko tidak bisa mengerem. Niko menabrak Rianti yang sedang melihat jam tangan.
__ADS_1
"Kak"
"Lu berhenti mendadak, terus gua harus apa?" Niko menyela lalu tersenyum simpul untuk kemenangan part kesekian.
"Kan bisa kakak fokus, terus ambil arah samping." Meninggikan intonasi tapi tetap mempertahankan mimik wajah yang sopan.
"Iya Rianti iya."
"Iya apa?"
"Iya gua maafin, karena lu udah berhenti mendadak jadi bikin gua gak fokus terus nabrak."
Rianti menghentakkan kaki, gemas dengan pria dihadapannya yang tidak pernah mau mengucapkan kata maaf. Melihat pemandangan ekspresi Rianti, membuat Niko menyemburkan tawa.
Di tengah kegaduhan dua insan yang terlibat perseteruan, pengunjung yang berada disekitarnya mulai menyadari dan memperhatikan, orang yang sedang mendominasi di pasar malam tersebut adalah petinggi Artha grup, perusahaan terbesar di negeri ini.
Mau mendekat tapi takut, karena rumor yang beredar mereka tidak bisa di dekati oleh sembarang orang.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa bahagia.