
Ciumannya membuat Jamie terpaku. Begitu lembut, nyaris seperti usapan dibibir. Damian mendongkak, ekspresinya melembut. Rasa takutnya menghilang ketika pria itu menangkupkan tangannya yang hangat di wajah Jamie.
"Jangan berteriak, Sayang. Aku berjanji, aku tidak akan menyakitimu, Kekasihku."
Hanya dengan sentuhannya, Damian berhasil memusnahkan kepanikan Jamie. Sial, apa ini? Magick Draicon?
"Aku tidak akan menyakitimu, Jamie. Itu hal yang terakhir yang kuinginkan. Aku ingin menolongmu." Ekspresinya semakin ganas dan serius." Tapi sebelumnya... sial..."
Damian menciumnya lagi.
Jamie terkulai dalam pelukannya. Percikan diantara mereka saat ini sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Jamie mengasah, menangkupkan leher Jamie dalam telapak nya. Kedua lengannya memeluk leher Daiman, merasakan otot sekeras batu dibalik kulitnya yang hangat. Jamie bergelayut pada Damian seperti wanita yang tenggelam. Dicecapnya laki-laki itu saat lidah Damian dengan berani menjelajahi mulutnya, lidah Jamie beradu dalam duet panas dan memabukkan. Rasanya ajaib, gila dan liar sama seperti saat pertama kali Damian merenggutnya.
Ini tidak nyata. Tidak benar. Atau apapun istilahnya, tetapi saat itu, sentuhan pria itu didalam mulutnya begitu nikmat dan menuntut dalam desakan lembut lidahnya.
Jamie mencengkeram kemeja Damian, menariknya mendekat. Barulah Damian menghentikan ciumannya. Erangan rendah terdengar dari bibjr pria itu saat ia melangkah mundur, tanpa melepaskan cengkeramannya. Gairah menyala-nyala dalam tatapan.
Dengan waspada sekaligus cemas, Jamie menjilat bibir. Aku baru saja mencium pembunuh kakakku. Draicon yang pernah kucoba bunuh.
Damian meletakan telapak tangannya di pipi Jamie."Sssh," bisiknya."Aku tidak akan menyakitimu."
"Kalau begitu cabut mantra sialanmu ini."Jamie menghentikan gerakannya,
terlena oleh sentuhan yang menyenangkan. Ia menatap Damian, mengamati dagu persegi yang kuat, hidung mancung dan tulang pipi yang tinggi itu. Ketampanan klasik. Dan serigala bersemayam didalamnya.
Ia pernah mencoba membunuhnya di New Mexico namun Nicolas, pengawalnya, menyembuhkan Damian. Kemudian Damian memantrai Jamie, mencegahnya menggunakan Magick. Magick hitam yang diberikan kane, pemimpin Morph, telah lenyap. Damian menjelaskan kaum Morph takkan menginginkan Jamie lagi tanpa kekuatannya.
Damian berbohong, Jamie menyadarinya.
Lalu ia melarikan diri, namun Damian berhasil menemukannya. Apapun yang terjadi ia akan terus berusaha melarikan diri dari Damian.
"Aku tidak bisa. Kekuatan dalam dirimu adalah Magick hitam. Sampai aku berhasil melenyapkannya, mantra itu akan tetap ada."
"Aku akan menemukan cara lain, Draicon. Aku akan mengalahkanmu, Damian."
Bayangan hitam melintasi wajahnya."Ada yang perlu kauketahui, Jamie. Kau dalam bahaya. Kau butuh bantuanku."
"Bantuanmu? Lebih baik aku mencium Morph. Setidaknya mereka memberiku kekuatan."
Damian termenung memandangnya."Apa yang dilakukan Kane untuk memberikanmu kekuatan Magick?"
"Aku bercinta dengannya,"cibir Jamie.
Bibir penuh itu membentuk garis tipis. Pria itu terlihat berbahaya dan gusar. Damian mendekat tampak seperti ingin mengigit leher Jamie. Tidak, ia menghirup wangi tubuh wanita itu, seperti serigala mengendus bau kelinci. Damian mundur selangkah. Kepuasan sangat maskulin terpancar di mata nya.
"Kau tidak melakukannya. Aku tidak mencium bau tubuhnya ditubuhmu. Kau tidak pernah bersama pria lain selain denganku."
Dagu Jamie terangkat."Siapa bilang? Mungkin saja sebagai ganti bercinta akan ada orang yang rela membantuku melepaskan mantramu."
Wajahnya terlihat muram. Damian tersenyum singkat, namun mata hijaunya bicara banyak. Kemarahan dab rasa memiliki khas pria.
"Jangan lakukan itu, Jamie. Tubuhmu jauh lebih berharga. Lagi lupa, bila kau berani mencobanya, aku akan menemukan pria itu dan membuatnya menyesal pernah menyukaimu."Damian berhenti sejenak, belainnya pada leher Jamie terasa lebih halus dibandingkan hasrat membunuh yang terpancar djmatanya."Aku akan mencabik tubuhnya. Perlahan-lahan."
__ADS_1
Kilasan taring putih menghiasi senyum sinisnya...giginya memanjang seakan- akan pria itu akan berubah wujud. Jamie mengangkat dagu, menolak memperlihatkan rasa takutnya.
"Bagaimana denganku?Apa yang akan kaulakukan padaku?"
Ekspresi Damian berubah. Intensitas pandangannya seolah sanggup melumerkan baja.
"Apa yang akan kulakukan padamu? Aku akan merobek pakaianmu dan menciumi sekujur tubuhmu, membuatmu mencapai kepuasan hingga kau berteriak-teriak minta ampun. Takkan pernah ada pria lain, selamanya, karena setiap kali kau berusaha intim dengan pria lain, aku akan berada disana, bau tubuhku di lubang hidungku, rasaku di mulutmu, dan ingatan akan diriku menetap didalam tubuhmu."
Damian melepaskan lehernya dan menepuk hidung Jamie dengan ringan, nyaris penuh sayang."Mengerti?"
Jamie membasahi bibirnya yang bengkak akibat ciuman tadi. Melihat cara Damian memandangi bibirnya, dorongan primitif muncul dalam diri wanita itu.Otot-otot Damian berkedut sementara bola matanya membesar, hampir menutupi selaput matanya yang hijau. Damian mungkin memiliki kendali seksual yang ganjil atas dirinya, tetapi Jamie juga memiliki efek yang sama atas Damian. Anehnya Jamie merasa buka memiliki cukup keberanian, ia akan menggunakan kekuatan yang jauh lebih besar. Tetapi kurangnya pengalaman dan ketakutan dalam dirinya atas kekuatan Damian membuatnya mundur.
"Aku mengerti. Kau menghapus kekuatanku untuk menghukumku. Baiklah. Mari kita buat kesepakatan. Aku akan menebus kesalahanku bila kau mencabut mantra sialanmu ini. Jika tidak, Aku akan mencari cara lain. Seperti Buku Rahasia mengenai magick, Draicon."
Perlahan Damian mengusapkan ujung jarinya di pipi Jamie."Namaku Damian, bukan Draicon."Suaranya melembut. Adakah secercah penyesalan dalam suaranya? Jamie tidak bisa menebaknya. " Tidak perlu memperbaiki segalanya, Jamie. Mantra pengikat itu justru melindungimu. Percayalah padaku, itu yang terbaik."
"Aku tahu apa yang terbaik untukku. Aku tidak butuh kau atau orang lain."
Siksaan tebersit di mata nya, kemudian Damian memejamkan mata.
Dengan terkejut Jamie mengamati bulu mata Damian yang panjang dan hitam menghiasi pipinya yang kecokelatan. Damian membuka kedua matanya,hilang sudah emosi yang sebelumnya terlihat. "Ikutlah denganku. Kita harus bicara. Ini penting."
Sebetulnya Jamie tidak menginginkannya, namun telapak tangan Damian yang hangat mencengkeram sikunya, menyuruhnya melakukan sebaliknya. Damian menuntunnya menuju sungai.
"Lepaskan aku. Aku tidak percaya padamu."
Damian berhenti, mengamatinya dengan serius.
"Aku memang belum memberikan alasan bagus agar kau mempercayai ku. Tetapi kita harus bicara. Kita akan pergi ke Cafe Du Monde. Itu tempat umum. Bila kau merasa terancam, ada banyak orang disekitarmu dan kau bisa berteriak minta tolong. Oke?"
Banyak orang memenuhi kafe berkanopi garis-garis hijau dan putih itu. Damian menuntunnya menuju meja kosong diluar. Kemudian menarikkan kursi untuknya.
Terbagi diantara keinginannya untuk kabur dan rasa lapar, Jamie pun duduk. Damian duduk sangat dekat disebelahnya, sampai kaku mereka bersentuhan, Jamie menjauh; Damian mengikutinya. Tampaknya pria itu berniat untuk tetap berada di dekatnya. Damian mengkerutkan dahi saat melihat kekesalan di wajah Jamie. Ia meraih dagunya, mengangkatnya hingga mereka beradu pandang.
"Hei," ujarnya lembut. Tenanglah. Situasinya akan membaik. Dunia belum berakhir."
Duniaku Sudah, Jamie ingin berseru, tenggorokannya menegang. Tetapi ia malah mengangkat bahu tak acuh, berusaha menutupi emosinya.
Damian mengamatinya cukup lama dan mendalam. Pria itu tidak menanyainya lebih lanjut, melainkan melepas sentuhannya dan memesan makanan pada pelayan wanita yang letih itu. Tak lama setelah wanita itu pergi, Jamie mengambil serbet dan melebarkannya dimeja. Kemudian ia meraih stoples gula, membuka tutupnya dan menuangkan semua isinya keserbet.
Kedua mata hijau Damian melebar saat Jamie menyerukkan sendok ke gundukan gula dan menelannya."Pelan-pelan," Damian berbisik.
Jamie mengabaikannya dan terus melahap gula itu.Tenaganya membuncah, memberinya luapan energi. Tiba-tiba sendok nya jatuh berdenting. Permukaan meja seperti terkenal ledakan, bubuk berwarna putih bertebaran dimana-mana. Damian terlihat sangat Khawatir.
" Wow, sudah kuduga, gula bisa menambah tenagaku. Akhir-akhir ini aku merasa sangat lelah." Jamie menyeka jemarinya dengan serbet bersih.
Alis tebalnya yang gelap membentuk satu garis."Jamie, mengapa kau meminta kaum Morph memberimu kekuatan untuk melarikan diri padahal masih ada kekuatan lain yang bisa kau dapatkan?"
"Aku tidak memintanya. Kane memberiku Magick hitam dan menjelaskan bahwa aku dapat berubah wujud semauku."
Pandangan Damian terpaku pada lalat yang mendarat didekat tebaran gula dimeja. Dengan kecepatan mengagumkan ia menepuknya, membunuh serangga itu. Jamie menatap heran.
" Hanya. lalat," Ujar Damian, menjentikkannya.
__ADS_1
"Tapi kau takkan tau pasti.Tidak disini."
Pelayan datang membawa piring donat dan cangkir kopi panas. Dari balik kacamata berbingkai, matanya melebar melihat setoples gula kosong."Apa kalian gila? Aku baru saja mengisinya,"tukasnya.
Mata Damian menyilit." Kalau begitu isi lagi."
Jamie menyandarkan tubuhnya, mengawasi Damian meminum kopi."Kau bicaralah. Setelah itu aku pergi."
Mata hijau Damian menatapnya."Sudah berapa lama nafsu makanmu seperti ini, Jamie?"
"Sejak aku berhenti mengikuti program Pengawasan Berat Badan. Ada pertanyaan lain? Atau sudah selesai?"
"Jamie, sudah berapa lama kau makan gula seperti ini?"
Draicon keras kepala.Jamie mengeryit, heran dengan tingkah lakunya yang ganjil."Sejak hari ini... kurasa."
"Apa kau yakin ini pertama kalinya?"Suara Damian terdengar berat.
Jamie mengangguk, memandang cangkir kopinya, memperhatikan kepekatannya. Hitam, seperti jiwanya. Waktu itu ia rela melakukan apapun demi menyakiti Damian. Tetapi sekarang, keinginannya untuk membalas dendam sirna, meninggalkan kehampaan. Sesuatu didalam dirinya tetap gelap, sama seperti makhluk yang hidup bersamanya.
"Untuk apa kau kesini, Draicon?"bisiknya."Untuk memaksaku membayar perbuatanku padamu?"
Pandangannya menerawang, namun Damian mengusap tangan Jamie dengan jemarinya, seakan tidak tahan bila tidak menyentuhnya."Sudah kukatakan padamu, Jamie, namaku Damian, Aku disini untuk menjagamu."
Jamie ragu. Damian pasti menginginkan hal lain.Ia bisa merasakannya.
"Tapi selagi kau membahas hal itu, mengapa kau berusaha membunuhku? Kebanyakan wanita tidak membunuh kekasihnya ketika ditinggalkan."
Suaranya Damian terdengar lembut, namun sotoy matanya menusuk, bagaikan laser yang menuntut jawaban. Jamie menarik serbet dan mulai melipatnya membentuk burung kecil.
"Aku bukan kebanyakkan wanita."
"Ada hal lain, bukan?Apa itu?"
Jangan percaya siapa pun. Jamie mengelak dari jawaban sesungguhnya.
"Kau bohong padaku, Draicon. Setidaknya mengenai bersama para Morph, aku mengenal mereka. Jahat, kuat...."
"Kejam."
"Tapi tidak bermuka dua. Aku setuju. Aku mengira, apa yang kaulakukan.....setelah kita....malam itu....."Jamie berjuang mencari kata yang tepat."Aku sudah pergi kembali mencarimu keesokan harinya, tapi kau sudah pergi. Kau tidak menepati janjimu untuk mengajariku Magick."
Serbet itu melilit ditangan Jamie. Kata-kata mengantung tak terucap diantara mereka.
Damian merengkuh tangan Jamie mengamati jemari panjang Damian. Tangan yang meremukkan, tangan pembunuh.
"Aku meninggalkan pesan, memberitahumu tempat untuk bertemu."
"Tidak ada pesan."Jamie melepaskan tangan.
Rahang Damian menegang."Kakak...mu mungkin menemukannya lebih dulu. Saat itu, aku harus pergi. Aku harus membersihkan masalah besar yang mengancammu. Aku mengirim Nicolas, pejuang terbaikku, untuk mencari dan melindungi mu. Aku akan mengajarimu Magick, tapi masalah lain itu lebih penting. Sekarang, jawab pertanyaan ku. Mengapa kau mencoba membunuhku, Jamie?"
"Mengapa kau mengejarku?" balas Jamie."Segala omong kosong bahwa aku adalah pasanganmu itu bohong."
__ADS_1
"Tidak.Kaulah Daicara-ku, pasangan takdirku, yang tidak masuk akal adalah kau manusia dan aku Draicon Alpha. Kaumku tidak berpasangan dengan wanita manusia."Damian terlihat muram.