
Pagi yang penuh dengan perbincangan, dinginnya pagi terasa seperti teriknya siang karena obrolan yang memanaskan otak. Hari libur dipakai untuk menganalisa sebuah masalah, membahas tentang masalah racun kemarin di sebuah pertemuan.
Bukan mau mengelak Niko pelakunya, namun dengan perannya yang menyelamatkan, bukankah tidak mungkin bahwa pelakunya adalah Niko.
Mata-mata yang diutus Rianti hari ini akan menyampaikan pesan, mereka kini tahu bahwa yang memiliki rencana adalah Willy. Yang membuat heran, kini Niko dan Willy sudah tidaklah sejalan.
"Sayang, mungkin kita perlu bicara dengan Niko"
"Kita sudah sering bicara, kamu juga tahu kan responnya bagaimana. Jadi percuma saja mending kita awasi dia dari samping."
"Iya sayang"
Pengawasan dari samping yang dimaksud adalah melihat apa yang terjadi antara perseteruan dua kubu yang dimana dahulu sejahtera namun sekarang berselisih.
"Sayang, aku mau keluar kamar sebentar. Aku mau lihat Dion."
"Ayo" Satria beranjak pergi sambil menuntun tangan Rianti.
"Kalau kamu keluar kamar sendirian pasti di goda oleh Niko." Imbuhnya lagi.
Cih
Satria langkahnya terpaku hingga Rianti menabrak tubuh kokoh suaminya. Rianti mengintip apa penyebab Satria berhenti mendadak.
Pemandangan di depan mata terlihat Niko sedang menggendong Dion penuh kasih sayang, di tambah kehadiran nyonya dan tuan besar yang berada disampingnya mengukir tawa. Sungguh tak dapat dipercaya.
semoga suamiku tidak cemburu dan tidak memiliki iri hati. Rianti
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Rianti dengan hati-hati.
"Tentu saja. Ayo.." Satria meneruskan langkahnya kembali tidak ada ekspresi kesal yang di tangkap oleh Rianti.
"Hei, lihat nak.. ada papah sama mamah." seru nyonya besar. Niko langsung melihat kearahnya tapi tidak melepaskan Dion.
"Dion sayang, anak tampannya papah.." Satria menegur Dion, lantas Dion tertawa dan menyebut kata "Pa..pah.." betapa senangnya Satria mendengar.
Dion mengangkat kedua tangannya seolah ingin berpindah tempat ke dalam dekapan sang ayah. "Sini nak" Satria meraih Dion.
Niko menuruti, tangan kanannya masih memegang mainan Dion. Dia merangkul satria dan berpura memainkan benda yang ada di tangan kanannya untuk menghibur Dion.
"Adikku ini rupanya sudah sehat setelah semalam terkulai lemas tak berdaya." bisik Niko
"Dasar penguntit. Apa cuma itu kerjaanmu sekarang. Oh ya sebelumnya aku mengucapkan terimakasih karena kamu telah menolongku kemarin."
"Hahaha, tahu terimakasih juga."
"Aku bukan tipe orang yang tak tahu terimakasih. Walaupun orang itu tidak tulus sekalipun."
"Hah, baguslah.."
"Kenapa kamu tidak membiarkan saja, bukankah rencana Willy itu sangat bagus?"
__ADS_1
"Aku tidak berminat membunuh seorang bocah."
"Siapa yang kamu bilang bocah?"
Rianti, tuan dan nyonya besar hanya mengamati, jika belum sampai level kekerasan biarkan saja. Namun ada tanda tanya di kepala nyonya dan tuan besar tentang kata penyelamatan.
"Kau.. kau adalah anak kecil yang sudah bisa membuat anak kecil. Bukan begitu Dion?" Niko melirik Dion yang di balas dengan tawa kecil. Seolah mengatakan iya akulah hasilnya.
"Setidaknya aku tidak sepertimu sudah tua bangka masih saja mengemis cinta "
"Dasar bocah !"
"Apa kau penjomblo sejati."
"Hahaha" tuan besar malah tergelak kencang.
ih papah apaan sih. Batin nyonya besar menatap lekat suaminya.
"Aku lebih baik melihat mereka bertengkar ringan daripada saling diam tapi menusuk." bisik tuan besar.
Rianti berperang dengan pikiranya, tempo hari ia membaca novel berjudul cinta sejati persis dengan kisah yang di alami. Menceritakan pertengkaran antara kakak beradik yang berujung pilu. Kini ketakutan nya telah sirna, perasaan kemarin karena terbawa sugesti yang berlebihan.
Pada kenyataannya, Niko dan Satria saling bisa menerima satu sama lain. menjalani kehidupan baru dan serta merta melupakan masa lalu yang dianggap kelam.
..........
Dalam kesempatan bicara yang memadai, Rianti menemui tuan besar untuk mengungkapkan kegelisahannya.
"Mau bicara apa? jangan bilang kamu lagi merasa tidak enak hati memiliki separuh kekayaan, namun anak sulung dari keluarga Artha grup telah kembali. Kamu berfikir harusnya hak ini milik Niko begitu kan?
"Kok papah tau?"
"Sangat mudah di tebak Rianti. Keputusan kami adalah tidak akan menarik apa yang kami telah berikan. Urusan Niko itu udah urusan papah."
"Manusia yang bernama Niko juga tidak menagih hak nya kan? kenapa kamu risau. Santai aja kali." Niko ikut nimbrung.
Niko. batin Rianti dan tuan besar serentak.
"Bukan begitu maksudku, cuma aku tidak enak saja sama kamu kak."
"Biasa aja, santai."
"Pelayan, buatkan kopi dua gelas untukku dan juga Rianti." Niko memberi perintah. Karena tuan besar sudah memiliki kopinya maka ia hanya memesan dua.
"Baik tuan"
Niko pikir Rianti akan memesan satu kopi lagi untuk Satria dan menyuruhnya ikut dalam obrolan. Tapi nyatanya diam Rianti dan hanya menerima saja.
"Ada apa ini papah bisa diantara kalian?" tuan besar memecah keheningan, Niko hanya menatap Rianti dengan lekat sedangkan Rianti sibuk dengan ponselnya.
"Tadinya pembicaraanku sudah selesai pah, tapi ada kopi yang menahanku pasti ada yang mau dibicarakan" mata Rianti melirik Niko.
__ADS_1
"Tentu saja." Niko tanpa disuruh sudah menjawab.
"Ada apa Niko?"
"Aku memberi pernyataan bahwa aku menerima segalanya, walaupun itu sudah jelas terlihat dari tindakanku tapi alangkah baiknya diutarakan juga lewat lisan. Aku tidak akan mengusik Rianti dan kehidupan Satria lagi. Bagaimanapun juga dia tetaplah adikku."
"Masalah harta kekayaan milik Artha grup aku tidak tertarik, biarlah saja untuk Rianti. Tapi aku minta satu hal pada kalian?"
"Apa" jawab tuan besar.
"Aku merasa nyaman dengan Dion, tolong jangan halangi aku untuk dekat dengannya. Rianti, karena kau adalah ibunya maka aku wajib bicara ini padamu. Dann papah, adalah raja di rumah ini maka harus tahu perihal keinginanku."
"Pada Satria?" tanya Rianti.
"Aku akan berbicara secara privat dengannya."
"Bagaimana Rianti kamu tidak keberatan kan?" tuan besar memastikan.
"Aku senang Dion bisa memiliki paman yang bisa menyayanginya seperti ini. Aku tidak masalah, kak Niko berhak bahagia."
"Terimakasih."
Keadaan sudah membaik, hari demi hari sudah terlewati dengan tidak ada api kebencian maupun dendam. sifat pemurah hati mampu menularkan pikiran positif yang tak berujung celaka.
Setiap harinya selalu ada pertengkaran kecil sebagai wujud kasih sayang kakak beradik. Kasih sayang yang masih di baluti dengan rasa gengsi dan tak mau mengalah.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Di balik layar
Pada saat Rianti berkutat dengan ponsel, ia sedang berkirim pesan dengan Satria.
"Sayang, aku sedang berada di taman belakang bersama papah dan Niko. Kamu kesini ya aku akan pesankan minuman"
"Tidak, kalian berbincang lah. Aku sedang tertidur di pangkuan mamah. Sudah lama aku merindukan ini."
"Baiklah"
__ADS_1
tertidur? tapi kok bisa kirim pesan.