
Lmpu malam berpendar membentuk cahaya yang indah, suara hening malam bertemankan suara jangkrik berlomba menyambut kedatangan mobil yang baru saja tiba.
Hari yang cukup lelah untuk dua insan manusia yang baru saja menampakan keberadaan. Satria dan Rianti saling memapah memberi kekuatan satu sama lain.
"Sayang.." kata cemas yang lolos dari mulut Rianti melihat Satria terhuyung lemas. Rianti mendekat mencoba menghirup aroma mulut suaminya itu.
tidak ada yang aneh. atau memang sakitnya kumat lagi. ya ampun Rianti kamu teledor sekali.
"Kenapa mendekat, mau menciumku ya." Satria berujar dengan pandangan yang kabur. sudah hampir mau pingsan masih saja mengoceh. Rianti semakin cemas.
Rianti mengambil posisi untuk segera menggendong Satria, karena sebentar lagi suaminya akan ambruk. Dan benar benar saja, entah slSatria tak sadarkan diri ataupun tertidur saking lelahnya.
Rianti menggendong suaminya dengan bobot tubuh lebih besar dibanding tubuhnya yang mungil. Yang terpenting bawa dulu ke dalam kamar, setelahnya belum tqhunapa yang akan dilakukan.
"Nona, biar saya yang membawa tuan muda ke dalam kamar." Ucap pelayan.
"Terimakasih, tapi saya bisa kok. Tenang saja kalian istirahat lah." Masih seperti dulu yang tak lernah mau dibantu orang lain dalam hal mengurus suami. Seperti tidak membolehkan siapa pun untuk menyentuh tubuh Satria.
"Baik nona, kami permisi. Jika ada yang diperlukan panggil saja kami."
"Iya."
Tubuhnya sudah lelah ditambah beban yang dipikul. Semua dia lakukan dengan penuh ketulusan, ikhlas dengan apa yang di jalankan. Besarnya cinta Rianti tidak dapat diragukan lagi. Seolah mati rasa dengan tawaran cinta laki-laki lain.
Niko mengamati di balik tiang penyangga, dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri Rianti adalah wanita yang kuat. Tergopoh membawa suami yang sedang tidak berdaya. Ingin menghampirinya dan membantu, namun ia urungkan setelah mempertimbangkan.
Jika dulu ia melihat ini, akan sangat mudah lidahnya berumpat, mencaci, dan memandang penuh kebencian. Tapi sekarang sulit digambarkan apa yang Niko rasakan, 69% kadar miris, 21% prihatin, dan 10% sedih.
Nyonya besar memeluk Niko dari belakang.
"Kamu lihat apa nak?"
"Lihat Rianti "
__ADS_1
"Masa, bukannya lihat Satria dan Rianti?"
"Itu mamah tau kenapa nanya."
hah
Niko dan nyonya besar tercengang, masing-masing membulatkan mata. Ada kata mamah di antara mereka. Niko refleks menyebut kata itu menyebabkan nyonya besar berjingkrak kegirangan.
"Papah..." nyonya besar berteriak sambil menarik tangan Niko yang hendak mengambil langkah seribu.
"Ada apa mah?" tuan besar panik.
"Niko sudah bisa panggil mamah." Nyonya besar mengadu seperti anak bayinya yang baru bisa bicara.
"Benarkah??" tuan besar sedikit tak percaya.
"Iya pah, ih papah gak percayaan banget sama istri."
"Kalau gitu, Niko bisa panggil papah juga tidak?"
"Wkwkwkwk.." Niko tergelak dengan sangat kencang. Seperti geli dengan situasi yang terjadi. Yang lebih mengejutkan lagi nyonya dan tuan besar ikut tergelak.
"Aku ngantuk mau tidur saja." Niko pergi masih menyisakan tawa.
"Selamat tidur untuk Papah dan Mamah." Sambungnya lagi yang membuat nyonya dan tuan besar bersorak gembira.
gila,, keluarga macam apa ini. papah, mamah di tambah satria, bocah yang sangat aneh itu. luar biasa Rianti menjalani hidup, pasti tidak mudah berada di tengah keluarga seperti ini. gua juga datang nambah beban dia. kasihan. batin Niko
Sementara itu di sebuah kamar.
Rianti hampir sampai membawa Satria menuju tempat tidur. Namun telinganya seperti ada hembusan angin, ia merinding geli lalu mendengar suara.
"Jadi begini rasanya digendong sama sang istri. Oh senangnya." Satria berujar tanpa berdosa.
__ADS_1
ya ampun, kena lagi aja di kerjain.
"Hahaha"
Rianti segera menurunkan Satria yang sedang tertawa geli. Tapi pegangan Satria tak mau lepas hingga mereka berdua tersungkur.
"Sayang, aku hampir sulit bernafas memikirkan kondisimu lalu aku sedang berfikir pertama apa yang harus aku lakukan setelah menaruhmu ke tempat tidur. Dan ternyata.."
"Dan ternyata aku senang telah digendongmu syalalalala." Satria bersenandung.
"Aku mau ke kamar mandi, kamu mau ikut?" tambahnya lagi setelah puas meledek Rianti.
"Iya aku ikut." Rianti langsung menerima tawaran, menyambar handuk dan duluan berjalan ke kamar mandi. Dilihat dari langkahnya seperti ada energi balas dendam untuk mengerjai Satria.
Satria sudah membaca gelagatnya namun ia membiarkan, karena apapun yang diperbuat Rianti, Satria menyukainya.
beginikah rasanya di mabuk cinta.. Dion, papah menang darimu hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...