
Pagi hari dengan nuansa bukan di rumah utama, dimana menengok jendela terlihat hamparan hijau dan barisan tim keamanan yang sedang apel pagi.
Disni, ketika mata terbuka, pemandangan yang di sajikan adalah lalu lalang kegiatan pagi penghuni rumah. Menyapu halaman dengan sapu lidi, suaranya khas mengingatkan sosok seorang ibu. Ada pula sang bapak yang sedang mengeluarkan ayam peliharaan dari kandangnya.
Belum lagi paman Madih, untuk hal kecil selalu saja harus heboh dengan gaya bicaranya. semua itu terdengar dan terlihat oleh Niko, sang penghuni baru.
Ada rasa nyaman dalam hatinya yang belum dirasakan. Entah rumahnya yang tak sebesar rumah utama, hingga menyebabkan kehangatan keluarga begitu terasa. Ataukah memang selama ini dia belum merasa, apa itu keluarga.
Niko bangun sudah tidak mendapati pasukan kecil tergolek. Dia akhirnya keluar kamar untuk mencari Rianti, wanita yang telah membawanya kesini.
dimana pasukan kecil, jangan-jangan semalam ketimpa badan gua lagi. gua kan baru pertama tidur sama anak kecil. ah tapi gak mungkin.
"Kak, mandi. Nih handuknya, air nya juga sudah aku siapkan." ujar Rianti mendapati Niko menghampiri nya dengan muka bantal. Disini dia tidak bisa keluar kamar dalam kondisi tampan paripurna.
"Ri, gua kesal."
"Kenapa?" heran.
"Kenapa kamar mandi nya gak di dalam kamar. Kan gua keluar gini ketemu lu keliatan jelek belum mandi "
Rianti tergelak, lucu sendiri dengan aksi protes Niko.
"Memang kenapa kalau jelek?"
"Bener gua jelek?" Niko sudah frustasi dengan penampilan.
__ADS_1
"Coba aku perhatikan dulu." Rianti usil, dia menengok wajah Niko dengan tatapan itu, tatapan indah menusuk relung hati yang berhasil di tangkap Niko pertama kali bertemu. Niko gugup.
Rianti lalu menghentikan aksinya, sadar dengan apa yang diperbuat lalu mendengarkan suara hati dari kanan dan kiri.
Kanan :
Rianti, ngapain kamu segala usil kaya gitu. Gak boleh, Niko bukan suami. Kamu jangan bikin baper orang kalau belum ada perasaan apa-apa.
Kiri:
Teruskan, lanjutkan, siapa tahu jadi suka. Hayo ngaku sebenarnya lu juga mengakui ketampanan dia kan. Haha.. suka itu datang ketika dekat dan selalu bersama.
Dimana Rianti masih diam berperang batin, Niko sudah duluan kabur dengan muka yang di tutupi handuk.
..........
Niko sudah selesai dengan aktivitasnya. Penampilannya santai, seperti outfit kemarin saat menemani Rianti menyendiri. Hari dimana Niko harus merayakan kebahagiaannya.
Rianti yang sedang membuka laptop menoleh, lama menatap tanpa berkedip. belum mengatakan sepatah katapun pun, karena matanya masih sibuk memandang.
tuh kan, dia sampai terpesona gitu sama gua.
"Kenapa lihatnya kaya gitu?"
"Kak, hari ini kamu ada pertemuan bisnis. Tapi, pakaian kakak santai. sebentar lagi sekretaris Rion akan kesini menjemput."
__ADS_1
Jadi dia lihat gua kaya gitu gara-gara gua salah pakai baju. astaga..
"Biasa di pakaikan baju sama Willy. Gak ada dia jadi gua gak bisa pakai baju dengan benar. ini masih untung, gua gak salah pakai c*lana dalam. Emang bener kata Satria, gua adalah pria tua bangka yang menyedihkan."
"Eh bentar tunggu dulu, ini kan hari libur. Kenapa gua masih dijadwalkan kerja? lu mau ngerjain gua ya." Niko asal nuduh.
Rianti tersenyum.
"Tuh kan, kenapa lu senyam-senyum?"
"Berarti kak Niko sudah sadar sekarang, jika hari ini hari libur. Kemarin gak gitu, menggebu-gebu ingin ditemani pegawai wanita."
"Hahahaha, cemburu ya?"
Rianti tertawa, tak kalah dengan tawanya Niko.
"Hahahaha, cemburu itu apa si kak?"
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Cemburu itu apa si?
jangan lupa bahagia.