
Satria berjalan dengan langkah elegan menuju meja pertemuan. pertemuan yang di atur dalam bentuk makan malam membahas tentang rapat rahasia peluncuran produk baru.
Gurat wajahnya terlihat cemas karena memikirkan Rianti yang sedang menyelesaikan masalah tanpanya. Dibelakangnya Marcel sang sekretaris pengganti sementara mengawal dengan penuh pengawasan. Sambil mengoceh tidak jelas, bergurau kalau dialah sekretaris no satu di Artha grup.
"Sudahlah hentikan omonganmu. Kamu pastikan saja semua berjalan dengan rencana."
"Ya emang benar kan kalau aku sekretaris yang paling handal yang pernah dimiliki Artha grup. Bahkan aku mendampingimu sejak SMA."
"Marcel, aku ada satu pertanyaan untukmu?"
"Apa?"
"Jika kamu adalah seorang yang belum menikah dan kamu adalah bangsawan, dihadapkan dengan pilihan antara menikahi pilihan orang tua yang disukainya atau rakyat biasa tidak memiliki latar belakang namun memiliki kemampuan hebat, kamu akan mengambil keputusan yang mana?"
"Sat, jangan bercanda.. Rianti perempuan perfect yang pernah aku temui."
Satria menampar Marcel dengan tatapan.
"Siapa yang mau menyakiti Rianti?"
"Terus, kenapa nanya kaya gitu?" Marcel malah bertanya.
"Jawab saja kalau kamu mau diakui sekretaris handal"
"Ehm baiklah, aku akan memilih rakyat biasa."
"Kenapa? orang tuamu memilihkanmu gadis dengan memasang kriteria tidak perlu kaya, tidak perlu cantik, yang penting baik hati dan tulus."
Marcel semakin bingung.
"Yaudah kalau pilihan orang tua yang terbaik ikut ajalah."
"Bodoh, kau gagal menyandang predikat sekretaris no satu."
"Haaa apa!, kenapa emang?"
"Marcel apa kamu tidak berfikir, orang tuamu bangsawan walaupun ia memasang kriteria tersebut itu hanya formalitas menarik perhatian. Tetaplah yang di cari rupa dan kekayaan setara denganmu, agar kelak kamu menjadi raja dengan kekuasaan double."
__ADS_1
"Berarti milih rakyat biasa itu jawaban yang benar ya."
"Aku memberikan perumpamaan ini hanya untuk mengetahui pemahamanmu melihat situasi berbisnis. Demi tujuan penguasaan, lihatlah masalah dengan tidak sederhana dan jangan mengandalkan perasaan."
"Aku akan memilih rakyat biasa yang memiliki kemapuan itu untuk membantu menguasai semua. Karena kemampuan luar biasa ditambah latar belakang yang kumiliki dengan dia yang tak memiliki latar belakang sama dengan... iya..iya aku baru mengerti hehe.." Marcel baru mencerna.
"Jangan bilang kamu nikahin Rianti karena ini."
"Sekali lagi kamu bicara seperti itu, aku akan mengirimu ke kutub Utara Marcel !"
"Maaf"
"Eh, atau jangan-jangan pertemuan ini..?"
Satria menarik ujung bibirnya, seolah mengatakan iya kau benar.
"Iya kau benar" Rianti berbicara mengagetkan Marcel sekaligus menghilangkan rasa cemas Satria.
"Bikin kaget aja, kamu denger apa yang kita omongin?"
"Tapi kamu.. "
"Saya hanya menebak dari arti garis senyum tuan muda."
"Kak Marcel pulanglah, saya yang akan menemani tuan muda."
"Ya Tuhan, sekarang aku mengerti siapa yang menyandang status itu Sat. Kalian benar-benar bikin aku iri setengah mati."
Marcel tidak terima dengan pengusiran ini, ia terus saja bersilat lidah demi tidak melewatkan moment yang sangat penting. Perbincangan diantara dua insan yang sedang bersitatap penuh arti bagai mencium gas alam manusia. Tak terlihat kadang terdengar kadang tidak namun bisa dirasakan.
"Terserah kau saja, aku dan Rianti yang akan ke dalam." Ucap Satria.
..........
Niko dengan kursi kebesarannya di gedung Manggala corp mengerjakan pekerjaan yang porak poranda akibat terus di tinggal pulang jam 9 pagi. Sudah jatuh tertimpa tangga, mengorbankan satu hal demi hal yang sia-sia.
Dia mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri sesuai perkataan orang yang sangat dicintainya. Begitupun dengan hasutan demi hasutan berbalut kelembutan nyonya besar berhasil menggerogoti dinding hitam kerasnya Niko.
__ADS_1
Kekhawatiran Satria dapat dipatahkan bahwa nyonya besar akan kesulitan dimanfaatkan Niko sebagai alat, namun pada kenyataannya nyonya besar lebih pintar dengan memanfaatkan kesempatan itu.
Buaya dikadalin, pepatah yang cocok antara Niko dan sang ibu. Bagaimana pun nyonya besar adalah ibu dari para kadal.
Ditambah lagi, secara diam Niko ternyata membaca habis buku yang sempat direkomendasikannya kepada Rianti. Buku yang ia sodorkan hanya sekadar basa basi. Sama sekali tak tahu apa isinya.
Lantas, siapa yang membuat kekacauan lagi?
Tok...tok..tok
"Masuk"
"Bos saya ada kejutan, sebagai bentuk kesetiaan saya pada bos."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Udah lama gak nyapa,
jangan lupa bahagia 💕
__ADS_1