Cinta Sejati

Cinta Sejati
Surat


__ADS_3

Pagi hari yang berbeda.


Suasana berkabung masih menyelimuti atmosfir, di luar sana masih setia orang yang berada di belakang Artha grup menjaga pertahanan.


Kepergian pemimpin muda dan lemahnya tuan besar kali ini banyak menimbulkan kesempatan musuh untuk mengusik ketenangan, menjatuhkan, serta menghancurkan Artha grup. Menyerang Rianti yang memegang separuh kekayaan adalah sasaran yang empuk.


Tapi wanita yang bernama Rianti ini tak menghiraukan dunia luar. Dia masih memulihkan pikiran dan menguasai dirinya. Membuka benda milik Satria adalah hal yang ditunggu sejak tadi malam.


Senyum merekah ketika Rianti melihat wallpaper itu lagi. Dilanjut jarinya menelusuri ada apa di dalam sana, jedag jedug hatinya antara bisa membuat tertawa atau malah menangis sendu.


Tidak ada akun pribadi tertera, hanya ada galeri foto yang berisi tentang cerita mereka. Rianti baru tahu kalau Satria sering memotret dirinya diam-diam.


Rianti terkekeh melihat gambar dirinya yang begitu jelek dengan tulisan "kesayanganku ".


beruntunglah hanya sebuah foto yang menjadi kenangan, bukan catatan atau status di akun pribadi yang tak pernah Rianti tahu yang menuliskan cerita tentang ketidaktahuan Rianti selama ini. kalau itu sampai terjadi, menangis lah dirinya.


Sibuk dengan ponsel Satria, Rianti tak menghiraukan banyak pesan dan panggilan yang masuk. Salah satunya Niko, dia mengirimkan pesan bertubi-tubi untuk memastikan keadaan Rianti. Lelaki itu merasa tidak tenang.


Rianti kemudian mengambil sebuah kotak kecil berisikan gelang pemberiannya, gelang couple yang sangat membahagiakan Satria saat itu, gelang yang tercipta karena kepanikan Rianti yang belum mempersiapkan hadiah apapun.


"Mah.."


Alana berlari menghampiri


"Mah papah kemana si? kok gak ada terus?"


"Papah di surga nak"


"Hah, di surga? video call papah aja mah, Alana kangen." Rengek Alana.


"Gak bisa nak, lihat papah gak bawa hp, hp nya di mamah tuh." Rianti menunjukan ponsel Satria.


Niko, ibu Rianti, nyonya dan tuan besar miris melihat percakapan ibu dan anak yang ada di hadapannya. Mereka berada di kamar Rianti saat ini khawatir karena terik matahari sudah meninggi Rianti belum kunjung menampakan batang hidung.


"Kita ke perpustakaan papah ya, baca buku disana ada banyak cerita menarik untuk Alana, nanti mamah yang bacakan."


"Yasudah Alana mau. Ayo mah."

__ADS_1


Rianti menuntun Alana menuju pintu, langkahnya terhenti melihat keluarga mereka berada diambang pintu dengan wajah yang cemas.


..........


Di taman belakang yang indah namun hampa.


Rianti duduk berhadapan dengan Niko, ditemani segelas jus buah untuk menambah kesegaran. Matanya tak mampu menatap Niko dan hanya menunduk dalam.


"Kenapa bawa hp sampai dua kaya gitu. Emang gak berat?"


"Gak, kan bawa hp bukan bawa batu." jawab Rianti dingin.


"Rianti, lu gak boleh kaya gini."


"Memangnya aku kenapa?"


kini Rianti mendongakkan kepala, memandang ke arah bunga yang bermekaran di belakang Niko.


Niko menghela nafas


Mendengar itu, Rianti seperti antusias dan menatap Niko.


"Apa?"


"Buka aja"


Rianti, istriku sayang


Waktu membaca surat ini mungkin perasaanmu sudah hampa. Maaf ya.


Mungkin selama ini sikapku sedikit kasar sama kamu, aku mau memberi pengakuan tentang itu. Kalau aku tidak begitu dan bersikap manis, pasti kamu akan lebih susah mengikhlaskan kepergian ku suatu saat nanti.


Rianti, istriku sayang


Kehidupan ini banyak cerita yang sudah kita lalui, bisa bersamamu saja sudah membuatku mengerti artinya hidup, bisa merasakan yang namanya bahagia. Apalagi kamu sudah melahirkan anakku Dion dan Alana, sudah tidak ada kata yang bisa mewakili perasaanku padamu.


Rianti, istriku sayang

__ADS_1


Jika kisah kebersamaan kita berjalan singkat seperti novel yang kamu baca, jangan sedih ya sayang. Soalnya aku gak mau lihat kamu sedih.


Satu hal lagi yang aku ingin ucapkan padamu.


Niko adalah orang baik, dia sudah meminta pengampunan ku atas kepergian calon anak pertama kita.


Air mata jatuh tanpa permisi, Rianti menilap surat itu kembali dan mengusap air matanya. Menarik nafas dalam dan berperang batin dengan hati yang lemah.


jangan nangis Rianti, kuat. dan ternyata Satria selama ini tahu kalau aku membaca novel yang mirip kisahnya tentang kita.


"Kapan kakak minta maaf pada Satria perihal aku keguguran? kok sama aku gak minta maaf?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2