
Satu purnama semenjak kepulangan ku.
Aku belum berani menemui Hiro. Terkadang. Aku berdiri di depan gedungnya untuk sesaat namun pada akhirnya hanya mengurungkan niatku.
apakah aku masih pantas mengejarnya?
setelah semua yang terjadi?
"Esta"
Sebuah suara mengejutkanku. Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi mengelak.
lakukan sekarang atau tidak sama sekali
"eh..apa bisa bicara sebentar denganku?" tanyaku ragu
Hiro tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dan memintaku mengikutinya melalui gerakan tubuhnya.
Hiro yang seperti ini...adalah Hiro yang kukenal
Pria tegap dengan pembawaan yang dingin namun tegas. Kharismanya sanggup mengalihkan mata setiap orang disekitarnya. Itulah dia.
Aku berjalan sambil terus memandangi punggungnya. Tempat dimana kepalaku selalu bersandar.
"duduklah...mau pesan apa?" tanya Hiro tenang
"tidak usah" jawabku pelan
"apa yang ingin dibicarakan? apakah surat cerainya sudah kamu pegang?"
"Hiro...mari jangan bicarakan itu lagi kedepannya"
"baik. lalu?"
"aku...aku meminta maaf padamu. untuk semua yang sudah aku lakukan selama ini"
"minta maaf? apakah ini tulus?"
"kamu tidak perlu meragukannya"
"baiklah...aku sudah memaafkanmu"
Aku kembali terdiam. Masih ragu dengan kalimat selanjutnya.
"ada lagi yang mau dibicarakan?" jelas Hiro bersiap untuk beranjak
"tunggu Hiro" pintaku agar Hiro tetap tinggal
"ya?"
"aku...aku ingin mengejarmu"
"ya?"
"ini bukan permintaan ijin. melainkan pemberitahuan bahwa mulai hari ini. aku akan mengejarmu"
"ya?"
"aku bersungguh-sungguh"
Kembali Hiro tidak memberi respon yang berarti. Bahkan dia dengan segera berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh dariku.
Bodohnya aku!
dia pastilah sudah menutup buku untukku
Aku terus merutuku diriku sendiri. Betapa bodohnya. Betapa aku sudah tidak punya harga diri. Hingga berinisiatif untuk mengejar seorang pria. Juga mengatakannya secara terang-terangan.
"aku akan menunggunya" ucap Hiro
Kuangkat wajahku. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Namun di depan sana. Hiro benar-benar menghentikan langkahnya dan menatap kearahku. Meski samar. Aku dapat melihat senyumnya disana.
"aku tidak akan mengulangi ucapanku lagi" tegasnya
"ya. aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. sekali lagi"
Hiro tampak terkejut. Dia hanya berdiri mematung. Bahkan tidak menyadari diriku yang berjalan kearahnya. Melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Tanpa perduli apa yang dia pikirkan saat ini.
__ADS_1
Deg
Deg
Deg
.
.
.
Aku pasti benaran sudah gila. Setiap malam memikirkan rencana untuk membuat Hiro melihatku lagi. Mulai dari mengiriminya sarapan. Hingga mengajaknya 'berkencan' dimalam Minggu.
"bagaimana kalau kamu tinggal di rumahku lagi?" ucap Hiro
"ya?"
"kamu akan lebih mudah melakukannya bukan?"
"melakukan apa? kenapa terdengar sedikit aneh?"
"bukankah kamu ingin mengambil hatiku? apa yang bisa kamu lakukan dengan tinggal diluar seperti ini?mengirimiku makanan? mengajakku nonton? banyak gadis melakukan itu juga untukku"
"apa?"
"besok sopir akan menjemputmu. tinggallah di rumahku"
"tapi...kita...kamu dan aku?"
"aku pikir tekadmu sudah bulat. ternyata masih setengah-setengah"
"tidak! aku bersungguh-sungguh!"
"jadi?"
"aku akan pindah ke rumahmu. besok"
"bagus"
eh?
tapi apa?
.
.
.
Sejak aku pindah di rumah Hiro. Setiap pagi menyiapkan sarapan untuknya. Mengantarnya hingga ke gerbang. Membereskan kamar dan pakaiannya. Bahkan menunggunya pulang.
kenapa rasanya seperti suami istri lagi?
aaah sudahlah
Ponsel berdering. Nama Hiro tampak disana.
"ya?" tanya ku polos
"apa yang sedang kamu lakukan?"
"merapikan kamarmu"
"antarkan makan siang untukku"
"eh? bukankah biasanya kamu makan diluar?"
"aku ingin makan masakanmu"
"mmm...baiklah"
"jangan terlambat"
"iya"
Panggilan diakhiri. Kenapa dia tiba-tiba ingin makan siang diantar ke kantor? Bukankah dia sibuk.
__ADS_1
"selamat siang nona Esta" sapa Becca
"siang Becca. apa tuan Hiro ada?"
"beliau masih rapat. Anda bisa menunggu diruangannya"
"baik"
Tak lama berselang pintu kantor Hiro terbuka. Wajahnya yang begitu datar itu akhirnya muncul dari balik pintu.
"apa sudah lama menunggu?" tanyanya sambil menggulung lengan bajunya.
Ketika tiba-tiba tampak sepasang tangan perempuan melingkar di pinggang Hiro. Apa?!
"Hiro...temani aku makan siang" suara rengekannya terdengar begitu manja
Bahkan Hiro tidak menepisnya
Lalu apa yang aku lakukan disini?
Apa yang sudah aku lakukan dengan kembali tinggal dirumah?
Seperti inikah dia ketika diluaran?
"aku sudah membawakan makan siangnya. aku akan pulang"
Tanpa menghiraukan panggilan Hiro aku berjalan dengan cepat keluar dari ruangan itu. Menjauh sejauhnya dari gedung milik Hiro. Tidak! Aku ingin menjauh sejauh jauhnya dari manusia bernama Hiro.
.
.
.
Aku memijit pelan kepalaku yang berdenyut sejak tadi. Begitu bodohnya aku.
Aku terduduk di sofa. Memandang kosong pada layar televisi yang memantulkan bayanganku.
"kenapa aku begitu naif?"
tik
tik
tik
Aku membuka pintu apartemen yang beberapa waktu telah kusewa. Berniat untuk keluar sejenak melepas kepenatan.
"nona Esta?" Becca begitu terkejut melihatku keluar dari pintu itu.
Bahkan reaksi yang tak jauh berbeda juga tampak jelas di wajahku.
"jadi..anda penyewa tempat itu selama ini?" Becca menghela nafas sambil membuang pandangan ke arah gedung apartemen yang menjulang
"seperti itulah" tidak menyangka selama ini kami adalah tetangga
"aku masih berfikir. bagaimana bisa kita Tidka pernah berpapasan sebelumnya?"
"karena aku jarang tinggal disini"
"ternyata begitu. apakah bos Hiro tahu?"
"tolong jangan beritahu dia"
Perbincangan kami berakhir. Aku kembali ke kamarku. Dan merebahkan diriku di ranjang. Berharap bayangan wajah perempuan itu menghilang dari ingatanku.
kenapa begitu perih?
Suara ketukan pintu membangunkanku. Matahari sudah semakin meninggi. Siapa yang mengetuk pintu?
"Becca?" tanyaku tidak percaya melihat Becc asudah berpakaian rapi dan tersenyum ramah padaku
"ini saya buatkan sarapan untuk nona. semoga cocok dengan selera nona" ucap Becca sopan
"jangan terlalu repot. bukankah kamu harus segera ke kantor?"
"iya. syaa permisi dulu kalau begitu"
__ADS_1
"terimakasih Becca"