
"Sayang tumben kamu belum bangun?" bisik Satria pada telinga istrinya. Tidak biasanya Rianti seperti ini, biasanya ia lebih dulu bangun di banding suaminya, menyiapkan segala keperluan.
Rianti mulai membuka mata. Dia tak enak hati mendapati suaminya yang sudah rapi. Namun tubuhnya seperti tak punya tenaga untuk sekedar bergeser.
Lemas sekali tubuhku.
Satria yang sedang merapikan dasi setelah berbisik pada Rianti menoleh. Merasa heran melihat Rianti masih tergolek di kasur, seperti bukan dirinya.
"Kamu kenapa?"
"Sayang aku boleh minta tolong tidak?" jawab Rianti yang malah meminta tolong.
"Apa?"
"Tolong bilang pada bos ku, aku ijin tidak masuk kerja hari ini. Aku tidak berani bilang padanya." mengatupkan kedua tangan memohon, lalu nyengir tidak berdosa.
"Baiklah, dia mengijinkan, kau sakit? bagian mana yang sakit?" sudah mulai cemas.
"Badanku terasa lemas saja, tapi tidak ada yang sakit kok sayang. Kamu tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang Rianti.. kau tidak pernah seperti ini sebelumnya."
"Akan kupanggil dokter untuk memeriksa mu." Satria menelpon kepala pelayan agar segera menghubungi dokter keluarga. Penghuni rumah utama panik mendengar kabar tersebut. Terlebih dengan nyonya besar, pasalnya Rianti selama di rumah utama belum pernah tumbang.
"Pah, menantu kita sakit. Ayo kita ke kamarnya."
"Tumben ."
"Kok sakit tumben si pah. iiiiih.." gemas dengan jawaban suaminya.
"Tumben kamu baik mah perhatian."
"Ih papah apaan sih, mamah emang selalu baik tau, kapan mamah jahat? coba sebutkan waktunya!" nyonya besar mencubit hingga menimbulkan jejak kesakitan.
"Sekarang." Jawaban telak.
Nyonya besar semakin geram. Berbeda dengan tuan besar yang merasa terhibur dengan aksi jahil nya. Sesekali lah ngajak ribut, kan setiap hari romantis terus.L, gumamnya.
"Hehehe maaf sayangku istriku yang cantik, yang sudah tua juga masih cantik." menyudahi sarapannya lalu merayu yang sedang merajuk.
"Dasar tua Bangka menyebalkan." sudah bad mood. "Ayo pah kita kesana".
"Iya mah."
..........
"Sayang kamu gak ke kantor?" tanya Rianti yang masih lemas sambil menyambar suapan bubur di tangan Satria
"Tidak, aku mau menemanimu disini."
Padahal aku ingin memastikan keberadaan Niko. Sudahlah nanti saja, Rianti lebih penting.
Rianti terharu.
Bruk, plak, Ting, klonang klonang
Suara kegaduhan berasal dari depan pintu kamar. Tuan besar menahan tawa melihat istrinya yang terkejut, nampan yang dia bawa berisi potongan buah jatuh berserakan. Rupanya perdebatan di ruang makan tadi masih berlanjut dan menimbulkan kekacauan.
"Gara gara-papah."
"Iya salah papah, lelaki memang selalu salah mah."
"Tolong bereskan semua ini" perintah tuan besar pada seorang pelayan.
__ADS_1
"Hai paman, bibi" Nabil menyapa tuan dan nyonya besar. Ternyata dokter yang datang bukan dr Roy. Melainkan putranya, Nabil.
"Nabil" jawab serentak.
"Ayahmu dimana? kok tidak kesini? apa jangan-jangan kamu yang mau memeriksa keadaan Rianti?
"Iya paman, ayah menyuruhku untuk kesini. Ayah sedang berada di luar kota."
"Wah hebat kamu sudah menjadi dokter muda."
"Bisa aja paman, paman tuh yang hebat memiliki putra sehebat Satria."
"Oh tentu saja." jawab tuan besar dengan bangga.
"Ayo cepat kita masuk." nyonya besar berujar memotong pembicaraan. Dia tidak sabar untuk melihat keadaan menantunya.
Saat pintu terbuka, mereka dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa.
Pemandangan dimana Satria menyuapi Rianti adalah sesuatu yang langka. Bahkan baru pertama kali terjadi. Sejatinya, Satria adalah orang tidak pernah peduli dengan orang lain.
"Hai sat, aku yang akan memeriksakan kondisi Rianti menggantikan ayahku."
"Memang kau bisa?" hardik Satria, Nabil sudah terbiasa dengan sikap angkuh temannya itu. Sebenarnya Satria cemas jika Rianti diperiksa oleh dokter pria muda.
"Tidak usah cemburu." Nabil sudah membuka tas, mengambil perlengkapannya.
"Kau jangan pegang-pegang Rianti."
"Iya, Satria. Tuan mudaku yang sangat baik hati dan tidak sombong. Singkirkan tanganmu tuan, aku tidak bisa memeriksa kondisi Rianti jika seperti ini." Nabil protes tangannya di cekal oleh Satria.
"Baiklah, awas kau jika menggoda Rianti. Jangan seperti.."
"Seperti siapa?"
Tuan dan nyonya besar hanya saling pandang melihat perdebatan Satria dan Nabil. Sebucin inikah anaknya ketika jatuh cinta.
Pemeriksaan pun berlangsung dengan tatapan mata tajam.
"Maaf Rianti aku mau menanyakan sesuatu."
"Apa?"
"Kau terakhir haid kapan?"
aaaa tidak.. Rianti malu.
"Coba kau tespek" inisiatif Nabil agar Rianti terbebas dari rasa canggung.
Rianti bangun dari tidurnya, di bantu oleh nyonya besar.
Kalau aku hamil, kenapa yang duluan tidak terasa apa-apa.
Setelah beberapa menit, Rianti keluar dari kamar mandi menghampiri sekumpulan orang yang dilanda penasaran. Alat tesnya di ambil alih oleh Satria, dia penasaran. Padahal belum waktunya untuk melihat hasil.
Semua mata tertuju pada hasilnya. sedangkan Rianti memilih untuk menenggelamkan kepala di bawah bantal. malu.
Satria tersenyum.
Nyonya besar kegirangan.
Tuan besar gembira.
Nabil pun ikut senang.
__ADS_1
Semua bersorak gembira mengagetkan Rianti yang sedang bersembunyi.
Anakku !
Cucuku !
Keponakanku !
Haah apa, aku hamil.
Rianti berhambur ke kamar mandi. Perut nya tiba-tiba saja mual.
"Sat, sebaiknya Rianti di USG untuk mengetahui kondisi janin serta usia kehamilannya. Untuk vitamin dan obat mual nanti di resepkan oleh dokter obgyn. Selamat ya." Nabil memeluk sahabatnya itu, yang sedang merasakan bahagia. Bahagia menjadi seorang ayah.
"Oh ya satu hal lagi" sambungnya lagi.
"Jangan kau guncang dulu calon bayimu, haha usianya masih sangat muda."
"Memangnya kenapa?" pura-pura polos.
"Nanti anakmu akan marah. Dia akan berteriak papah..tolong jangan guncang aku, aku pusing papah. Hahahaha"
Bruk... bantal mengenai Nabil yang langsung terdiam.
"Kurang ajar kau, beraninya meledekku." Mereka pun tertawa bersama.
"Kau sendiri, kapan menikah?" pertanyaan Satria menusuk hingga ke ulu hati, menembus ke lambung dan menggerogoti jantung.
"Adakah pertanyaan lain yang lebih sempurna?" Nabil sudah terpancing. Satria tersenyum senang akan kekesalan Nabil.
..........
Penantian panjang berujung bahagia. Kehamilan Rianti membawa angin segar serta kebahagian bagi keluarga Artha grup. Nyonya besar langsung berlari menuju kamarnya, tuan besar juga ikut. Apa yang akan dilakukannya? author pun tak tahu.
Rianti mengabarkan berita ini kepada keluarga, karena berita ini adalah berita bahagia. Kabarnya pun disambut dengan gembira karena yang di tunggu akhirnya terjawab sudah.
Terkadang, hidup tidak selalu berjalan dengan mulus. Tidak selalu mengikuti apa yang kita mau. Jika kalian ingin menyerah pada suatu keadaan, ingatlah tidak ada pisau yang tajam tanpa diasah. Bisa jadi saat kalian mau menyerah, di depan berlian sedang menanti.
Kebutuhan memang lebih penting di banding keinginan, jika keinginanmu mu terwujud itu adalah pencapaian yang tak ternilai.
Rianti mengirimkan pesan pada seseorang di anak perusahaan milik Artha grup di bidang IT.
"Biarkanlah dia melewati seleksi, terima dia jika memenuhi kualifikasi. Aku ingin dia berhasil dengan caranya."
"Baik nona. Proses seleksi dan interview sudah selesai. Adik nona memenuhi kualifikasi jadi kami menerimanya untuk bekerja disini."
"Baiklah, terimakasih."
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Netizen : Thor nampan model apa itu, yang jatoh bunyi nya Ampe klonang-klonang?
__ADS_1
Author : nampan orang kaya.