
"Po, emang orang kaya pernah nonton topeng mony*t ya? kalo dia tawa berarti ngarti." Madih berbisik.
"Pernah kali, buktinya itu ketawa."
"Ada apa pak Madih?"
Madih tersentak kaget, ternyata pembicaraannya terdengar.
"Eh ini...., ibu ketawa kenapa? emang ngarti ya sepedanya Sarimin kaya gimana?" Madih kikuk.
"Oh itu, saya ketawa karena gak ngerti hehe."
"Eh bujug." Madih dan ibu Rianti yang kini tertawa tipis.
hahaha memangnya kamu saja yang bisa bergurau. Aku juga tuh, mana mungkin aku tidak mengerti. batin nyonya besar.
Selepas memilih perhiasan, mereka kembali belanja baju, tas, dan lainnya. Bagi ibu Rianti ini sudah lebih dari cukup, dan badan pun sudah mulai lelah. Tapi semangat nyonya besar dan madih masih berkobar-kobar.
.........
Langit sudah menguning, pertanda hari sudah mulai petang.
Rianti yang terkurung di dalam rumah utama sudah menunjukan kegelisahannya. Mondar mandir di dalam kamar. Melihat ponsel sudah bosan. Menonton tv, acaranya sudah tidak ada yang dia suka. Terpaksa lah dia mengemil kembali.
Pengamanan yang over protektif membuat dia tidak bisa keluar tanpa Satria. Istri yang baik adalah istri yang apabila keluar rumah sudah mendapat ijin dari suami. Walaupun dia keluar dengan orang tua atau mertuanya sekalipun, Satria berucap tidak ya tetap tidak.
"Iya sayang" Rianti mengangkat telepon dari Satria.
"Iya aku di rumah."
"Oh gitu, yaudah gapapa sayang. Kamu jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek. Aku menunggumu."
Sambungan terputus, segera Rianti mengetikkan pesan untuk Marcel.
"Kak, aku titip Satria jangan sampai terlalu capek. Jangan lupa juga siapin obatnya. Aku khawatir semalam dia baru saja merintih sakit. Makan jangan sampai telat."
"Widih, banyak banget pesennya. Kamu khawatir nya sama Satria doang nih?" Marcel membalas. namun hanya di baca saja oleh Rianti.
idaman banget perempuan kaya begini.
Rianti melemparkan ponselnya ke sofa, bosan. Dia terus berguling membaca sambil bergumam.
"Oh iya emen gimana ya, balik ke rumah atau kesini?"
Emen sebagai karyawan baru harus menunjukan kinerja dan etika yang baik. Dia tidak mungkin untuk ijin tidak masuk hari ini. Jadi tadi pagi ia berangkat untuk bekerja dari rumah utama. Perginya pun menggunakan taxi online. Soal keperluan untuk bekerja semalam sudah disiapkan oleh pelayan rumah utama.
"Sekarang kan sudah sore, pasti emen balik ke rumah. Emak sama bapak gimana ya? mang Madih juga."
Dia memutuskan untuk menelpon. Setelah mengambil ponselnya, dilihat ponselnya sebentar lalu di taruh kembali.
sudahlah Rianti, terimalah kebosananmu sendiri. Jangan kau ganggu yang lain. Pasti emak sama bapak sedang asyik mengukir keakraban dengan sang mertua. Rianti berperang dengan batinnya.
__ADS_1
Ponselnya berdering.
Rianti senang karena yang menghubungi adalah Satria.
"Rianti, mulai sekarang kamu tidak usah berkirim pesan apapun ke Marcel." Satria berujar dengan nada tinggi. Sambungan langsung terputus.
Rianti menghela nafas panjang. Lengkap sudah paket hari ini. Bosan kesepian dan terkena omelan. Apa salahnya kalau mengingatkan sekretaris suaminya untuk selalu menjaga bosnya. Hal ini juga sering dilakukan Rianti kepada Rion jika pulang akan lewat dari jam biasanya.
"Mending aku mandi, makan, pasti nanti sudah menjelang malam, terus tidur dah. beres kan"
"Awas saja jika dia berbohong. Punya janji mau ajak jalan. Kita juga butuh healing ! iya kan nak" mengelus perutnya yang sudah mengeras.
.........
Rombongan yang habis berbelanja sudah pulang ke rumah utama. Beraneka ragam tas belanjaan menyelimuti badan para pengawal. Kumlahnya begitu banyak, hingga pemiliknya lupa itu milik siapa.
Ibu Rianti yang sudah sangat lelah otaknya terlintas kondisi Rianti. Dia merasa pasti bosan sekali di rumah seorang diri tanpa teman bicara. Terkurung di dalam kamar yang apapun serba ada.
Dia tidak tahu jika Rianti pernah keguguran. maka dari itu, ibu Rianti menyikapi semua ini adalah sesuatu yang berlebihan.
"Maaf Bu saya mau ke kamar Rianti dulu, tapi dimana ya kamarnya?" ibu Rianti ijin pamit undur diri.
"Oh ya silahkan." Nyonya besar memanggil pelayan agar menunjukan kamar Rianti.
"Terimakasih."
"Sama-sama. Saya juga mau membersihkan badan. Sudah lelah, senang juga bisa berbelanja dengan si Mpok ini." ibu Rianti tersenyum menanggapi.
"Hehe iya Bu, ok. Terimakasih banyak atas belanjaan hari ini."
"Sama-sama." Nyonya besar memeluk.
Sementara ibu Rianti beranjak pergi menuju kamar anaknya, nyonya besar yang tadinya juga berencana untuk segera ke kamar tertahan sementara, menyambut tuan besar dan ayah Rianti yang baru saja pulang.
Nyonya besar panik. wajah mereka terdapat lebam.
"Kalian kenapa? kok kaya ada bekas pukulan gitu. Pah ada apa ini?"
"Tenang mah, ini cuma bekas latihan aja tadi di sanggar."
"Nanti aku ceritain di kamar ya." tambahnya lagi sambil berbisik.
"Maaf ganggu, saya ke kamar duluan mau bersih-bersih." Sela ayah Rianti takut jadi obat nyamuk di tengah pasangan yang menurutnya fenomenal.
"Oh iya silahkan."
..........
Dikamar Rianti.
"neng" sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
"Iya Mak, sebentar." Rianti menuju pintu untuk membukanya. Pintunya memang tidak di kunci, tapi Rianti tidak mau menyuruh ibunya untuk membuka pintu sendiri. Karena baginya ketika orang tua datang, disitulah dirinya menyambut.
"Ada apa Mak? emak baru pulang kayanya cape banget. Sini Mak masuk." Rianti mempersilahkan sambil berjalan memimpin, menyiapkan sofa yang akan di duduki.
Ibunya menjatuhkan tubuh di atas sofa. Rianti menaikan kaki ibunya ke pangkuan. lalu memijitinya perlahan.
"Eh, gausah neng. Mak gak papa."
"Gak papa sini, Rianti udah lama gak pijitin emak. Lagian seharian ini gak ada kerjaan, bikin badan pada pegal kalau gak ngeluarin tenaga hehe."
"Hem yaudah kalau begitu. Oh ya neng, emak di beliin belanjaan banyak banget sama mamahnya Satria. Emak jadi gak enak, harganya mahal lagi."
"Mertua Rianti orangnya baik ya Mak."
"Iya neng. Bersyukur kamu punya mertua seperti itu. Kamu juga jadi menantu harus selalu hormat dan sayang."
"Neng, kamu gak merasa bosan di kamar terus? sepertinya penjagaan terhadapmu ketat sekali ya. Apa pernah terjadi sesuatu neng?" ibu Rianti tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
Rianti dilema, di satu sisi dia tidak mau membebani pikiran orang tuanya. Tapi dia juga tidak ingin orang tuanya mempunyai persepsi yang salah terhadap kondisi yang di alami. Jangan sampai mengira anaknya tertekan karena over protektif.
"Sebenarnya Rianti pernah keguguran mah."
"Hah, kok kamu gak ngabarin emak sih." ibu Rianti kaget, menurunkan kakinya dari pangkuan. Hal sebesar ini dia sampai tidak tahu.
"Maaf Mak, waktu itu bapak kan habis pulang dari rumah sakit, jadi kita simpan saja hal ini untuk sementara waktu."
"Satria seperti ini, karena dia sangat menyayangiku dan calon anaknya. Jangan sampai kehilangan untuk kedua kali."
Ibu Rianti sedih mendengarnya. Matanya berair. Dadanya sesak seperti ada sesuatu yang menghujam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1