Cinta Sejati

Cinta Sejati
Kehancuran Rianti part 2


__ADS_3

Nyonya besar kembali setelah pamit untuk mengambil air. Bukan waktu yang sebentar dia pergi seperti ijinnya pada tuan besar.


Langkah yang lunglai dengan mata sembab, sudah tak bisa di sembunyikan lagi kabar Satria pada tuan besar. Entahlah apa yang akan terjadi nantinya nyonya besar hanyalah bisa berpasrah.


"Kenapa mah?" pertanyaan masih tenang.


Nyonya besar sudah menangis tersendu setelah mengetahui fakta sebenarnya. Belum sempat menjawab pertanyaan tuan besar istrinya itu sudah berurai air mata.


Tuan besar menenangkan, mengusap punggung istrinya dan memberi semangat. Sangat berbanding terbalik dengan pemikiran banyak orang, selama ini kesehatan tuan besar lah yang dikhawatirkan.


"Pa..hh.." nyonya besar terbata.


"Papah sudah tahu, putra kita telah pergi mendahului kita kan?"


Nyonya besar terhenyak, bagaimana suaminya bisa tahu dan setenang itu.


"Kok papah.."


"Kemarin, kamu pulang ke rumah malam hari dan suasana rumah utama yang tidak nyaman, firasatku tidak enak sekali."


"Hingga semalam papah bermimpi, bertemu dengan Satria yang sangat gagah dan tersenyum tampan. Dia memberi tahu papah agar terus menganggap Rianti seperti anak sendiri."


"Dia juga berpesan agar Rianti, Dion dan Alana selalu berada di rumah utama. dia juga bilang kalau artha grup sudah cukup memiliki pemimpin seperti dirinya."


"Kalimat yang bikin papah bangga padanya adalah jadikanlah Artha grup bermanfaat bagi banyak orang. Sampai di akhir hayatnya dia begitu tegar menghadapi kematian." Tuan besar menangis dan saling berpelukan. Penuturan tuan besar membuat istrinya hampir tak sadarkan diri karena menangis yang terlalu kencang.


Kesedihan yang begitu mendalam.


.........


Ngiung ngiung ngiung..

__ADS_1


Suara ambulan sudah disambut gemuruh orang yang mencintainya. Lautan manusia memadati halaman depan rumah utama yang terbuka lebar. Semua merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian pemimpin Artha grup yang bijaksana.


Satria Smith Felder tuan muda penerus kerajaan bisnis Artha grup telah berpulang.


Barisan depan terisi oleh kerabat, terlihat berjejer disana ayah Rianti, Madih, beserta keluarga besar dari nyonya dan tuan besar. Di belakangnya jajaran sahabat juga siap menyambut, Rion, Galang, Nabil, Ruben. Dan ada juga Marcel yang masih menadahkan bahu untuk Shesil menangis.


Shesil menangis tak henti meratapi nasib sahabatnya.


Rianti yang sempat pingsan di area rumah sakit, kini sudah berdiri tegar menyambut persemayaman sang suami. Masih memegang teguh janjinya terakhir kali bahwa dia tidak akan menangis yang akan membuat Satria sakit.


Niko selepas mengantar pulang Rianti yang pingsan tadi, kini sedang menggendong pasukan kecil, Dion dan Alana. Dua bocah yang kini menyandang status anak yatim.


Dion di gendongan sebelah kanan sedang menangis memeluk Niko dengan air mata, sedangkan Alana di sebelah kiri masih terlihat bingung kenapa rumahnya begitu ramai dengan banyak orang.


"Om, kenapa rumah ini banyak orang?" tanya Alana.


"Mungkin mereka sedang ingin main kesini." jawab Niko pasrah.


Kali ini Niko kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan Alana, biasanya dia bahkan punya energi untuk sekedar mengerjai.


Dan saat ini pun bukan jawaban Niko yang didengar, melainkan tangisan Dion yang semakin pecah.


"Om jahat ya, kak Dion sampai nangis kencang gitu." Alana sambil memukuli Niko.


Alana,, bagaimana om jawab pertanyaan kamu nak.


Setelah kabar kepergian Satria mencuat, hanya Niko lah yang kuat hati berinteraksi dengan pasukan kecil. Keluarga inti hanya menatapnya saja sudah menitikan air mata.


Ibu Rianti sejak datang ke rumah utama, selalu disamping putrinya memberikan kekuatan. Walaupun dia yang terus menangis pilu di belakang Rianti yang berdiri tegar dengan tatapan kosong.


"Banyak istighfar neng, semoga di kasih kekuatan. Sing sabar sing ikhlas" satu kalimat lagi yang keluar tapi ibu Rianti yang menangis lagi karenanya, Terus mengusap-usap punggung Rianti.

__ADS_1


Rianti tetap diam membisu, walau banyak do'a yang dipanjatkan dalam hatinya.


"Ya ampun, hiks..hiks.. kasian amat ya ponakan gua. baru ge...


Madih tak kuasa untuk melanjutkan kalimat. dia menangis tersendu meratapi nasib keponakannya. Rianti.


Emen menenangkan pamannya sedangkan ayah Rianti terus melafalkan do'a untuk Satria sang menantu. Dan berharap do'a lautan manusia yang mencintainya bergema di sambut langit agar menerangi jalan dan diterima disisinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2