Cinta Sejati

Cinta Sejati
Kondisi Rumah Utama


__ADS_3

Di ruang ICU Satria terbaring.


Rianti menatap nanar jendela yang memperlihatkan Satria sedang terbaring dengan sejumlah alat yang terpasang. Tatapannya begitu kosong, sekosong perutnya yang belum terisi sama sekali.


"Rianti, sebaiknya kamu makan dulu."


Disaat seperti ini Niko tahu diri, panggilannya sudah benar tanpa harus di protes.


"Tidak lapar. Kakak saja yang makan."


"Kamu jangan egois, mikirin diri kamu sendiri. Masih ada Dion Sama Alana. Hayo makan."


Rianti menengok, seperti akan meluapkan sesuatu yang tidak bisa di bendung.


"Kamu pikir, aku juga nyaman kaya gini? enggak! kalau rasa ini bisa ditukar coba silahkan kamu yang rasakan."


"Bernafas pun aku sulit, bagaimana caranya aku bisa menelan makanan sedangkan orang yang sangat aku cintai terbaring menahan sakit."


"Sekarang aku tanya, dengan kamu seperti ini apa bisa ngurangin rasa sakit dia? ga kan!" Niko bertanya.


"Niko hentikanlah, aku tidak sedang ingin berdebat." Rianti hampir kehilangan akal sadar. Yang dipikirkannya saat ini hanyalah Satria, Satria, dan Satria.


Niko menggelengkan kepala menerima keras kepala dari Rianti. Sepertinya dia harus mencoba dengan cara yang lebih halus.


"Maafkan aku, makanlah aku mohon. Agar kamu ada tenaga untuk bisa berbincang dengan Satria. Kamu tidak mau kan melewati waktu saat Satria tersadar nanti kamu malah sakit." bujuk Niko


Rianti mempertimbangkan kalimat Niko, benar juga jika sampai itu terjadi Rianti bahkan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Rianti langsung mengambil makanan dari tangan Niko, kotak makan itu hampir terjatuh di tangan Rianti karena dirinya sudah lemas. Niko tak berbicara apapun namun dia langsung mengambil alih dan menyuapi Rianti.


"Aku bisa sendiri."


Niko menghela nafas.


"Kamu tadi lihat sendiri kan, tanganmu saja tidak bisa menopang kotak makanan ini. Memegang sendok saja sudah gemetar."


Rianti tak berkutik dia terpaksa menerima suapan dari Niko. Baru dua sendok tersuap, Rianti sudah menunjukan mual.


"Tolong ambilkan obat asam lambung." perintah Niko pada pelayan.

__ADS_1


"Baik tuan."


Obat sudah di tangan Niko, ia baru memutar tutup namun tangan Rianti sudah mengambil botolnya. Niko pun protes.


"Untuk yang ini aku bisa sendiri, setidaknya sudah ada sedikit makanan yang berubah menjadi tenaga. Lagian botol ini ringan dan tadi, tadi itu kotak makanan darimu saja yang terlalu berat." Rianti berkilah.


"Iya silahkan, memang makanan dariku yang terlalu berat " Niko mengalah.


Rianti aku tahu kamu sedang menjaga harga dirimu yang masih berstatus istri orang. Kamu menolak perlakuanku walaupun kamu sedang tak berdaya. aku semakin kagum padamu. asal kamu tahu, rasa cintaku semakin hari semakin besar.


Setelah Rianti menegak obat asam lambung, dia melanjutkan makannya. Teringat kata-kata Niko bahwa Satria akan sadar, Rianti seperti mendapat semangat baru.


..........


Kondisi rumah utama sangat memprihatinkan, selepas Satria di bawa ke rumah sakit Dion tak hentinya gelisah berharap kabar baik yang akan di dengarnya nanti.


Tidak ada orang dewasa yang terdekat menemani dua bocah ini, hanya kepala pelayan dan kepala keamanan yang sedang menjaganya.


Niko sebagai ketua pasukan kecil sibuk mengurus Rianti yang sedang rapuh, ia takut jika Rianti tak kuat menahan dan melakukan hal nekat, atau mungkin dia bisa saja depresi.


Tuaan besar bahkan tidak tahu jika Satria sudah kritis di ruang ICU, kondisinya yang masih lemah membuat keluarga memberi keputusan untuk menyembunyikan. Dia masih di dalam kamar dan terkadang di ajak jalan ke taman belakang.


Sedangkan nyonya besar, ia sempat pingsan dan masih dalam perawatan intensif.


"Nyonya besar sedang ada urusan tuan, sebentar lagi juga akan kembali."


Kalimat itu terus saja di ulang, hingga tuan besar bosan untuk menanyakannya kembali. Menelpon pun percuma nomornya tidak aktif.


"Cucuku dimana? aku ingin bertemu dengannya."


"Ada di kamarnya tuan, saya akan antarkan tuan kesana." ucap perawat itu.


"Cepat"


"Baik tuan"


Tok..tok..tok..


Dion membukakan pintu, ia segera merapikan wajahnya ketika tahu siapa yang datang.

__ADS_1


"Kakek, ada apa?"


"Dimana Alana? kalian baik-baik saja.?"


"Baik kek, Alana sedang bermain dengan pengasuh. dia sedang main rumah-rumahan. memangnya ada apa kek? kakek kenapa tidak istirahat di kamar?"


"Syukurlah, kakek tiba-tiba merasa khawatir saja dengan kalian."


"Kami baik-baik saja kek."


"Yasudah kalau gitu kakek mau kembali ke kamar."


"Iya kek, jika ada sesuatu bilang Dion saja."


"Hahaha kamu tuh ya seperti orang dewasa saja."


"Hehehe"


Akting Dion patut di acungi jempol. dia berusaha tegar dan berpura-pura di tengah kegelisahannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2