Cinta Sejati

Cinta Sejati
Sakit kepala


__ADS_3

Rianti mempresentasikan dengan lancar, santai dan bisa menyembunyikan rasa canggungnya. sudah berapa kali dia mendapat kejutan. dan untuk hal ini


mungkin yang lebih memalukan.


Dia terus merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia tidak mengetahui bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah anak perusahaan Artha grup.


Itu artinya dia masih bekerja di bawah pimpinan suaminya. Tidak masalah untuk Rianti, tapi yang jadi pertanyaan di hati kenapa bisa sampai tidak tahu.


"Cukup sekian rapat kita kali ini.


Selamat bekerja, dan selamat menunjukan yang terbaik" sekretaris Rion mengakhiri rapat.


"Terimakasih atas kerja keras kalian"


Satria membuka suara. tersenyum ramah dan hangat, jarang sekali dia seperti ini.


Wajah dingin lah yang biasa dia suguhkan.


Peserta rapat berdiri, memberi hormat kepada Presdir Artha grup. begitu juga dengan Rianti.


yang bersikap seperti bawahannya seolah tidak ada hubungan diantara mereka.


Satria meninggalkan ruangan, yang d ikuti sekretaris Rion. kemudian para CEO satu persatu mengikuti jejak. tertinggal Rianti dan Rena yang sedang berbincang.


"Rena habis ini kita ada jadwal di luar atau tidak?"


"Tidak ada Bu,,kita kembali ke kantor"


Rianti menganggukan kepala.


"Apa ibu ada acara? atau ada yang mau di beli


nanti saya persiapkan"


Tawaran Rena dengan cekatan untuk kenyamanan bosnya.


"Tidak, aku hanya memastikan"


*A*ku hanya pusing, ingin kembali ke kantor saja.


Suara langkah kaki yang anggun terdengar, dua wanita itu menuju lift dengan pandangan lurus. Rena berada di belakang , mengekor dengan jarak tidak terlalu dekat. dan seseorang menariknya henti.


"Ada apa tuan Rion?" dengan sedikit panik.


"Maaf, aku salah orang"


"Oh,, kalau begitu saya permisi" menunduk hormat lalu pergi menyusul Rianti yang sudah naik lift duluan.


.........


Di rumah utama


Rianti memasuki kamar, menaruh tas lalu membuka heels, menatap diri di cermin


sambil memegang kedua pipi yang panas


ingin sekali mengguyur dengan air dingin.


Pasti sejuk rasanya.

__ADS_1


Melirik jam, masih ada ruang waktu untuk


bersantai. dia pun menyambar handuk lalu membersihkan diri.


Rianti lantas berdiri mematung, dengan pantulan cermin dia menggosok gigi sambil meragakan adegan reka ulang.


"Saya Rianti, akan presentasi perkembangan perusahaan xxx.." "haha sungguh menggelikan kalimatku. Hei kau pria yang semalam meniduriku, dan siang ini seperti orang asing"


Berkaca pinggang dengan busa pasta gigi masih menghiasi mulutnya.


"Aku akan mencari celah untuk mengerjaimu"


Setelah puas menggerutu, Rianti memakai baju dress cantik berwarna ungu muda,


bermalasan diatas kasur sambil membayangkan kejadian siang tadi.


Flash back


Rianti memencet tombol lift, pintu terbuka


lalu masuk berbarengan dengan seorang pria yang baru saja datang. Segera pria itu menutup liftnya.


Rianti sontak saja kaget.


"Ehmm, tuan Satria" menutup mulutnya dengan tangan seperti ada yang salah dengan panggilan.


Satria bertumpu dengan tangan kiri di samping kepala Rianti, lalu tangan kanannya memeluk pinggang rampingnya.


"Panggil aku sayang"


Suara lembut itu terdengar tepat di daun telinga, kemudian b*bir itu menyusuri pipi


"Iya sayang"


Pintu lift terbuka, Satria melepaskan Rianti


dan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa tadi. Menengok sambil mengedipkan mata. Dan di depan sudah ada sekretaris Rion menunggu.


Rena,, kemana dia ya.


Rianti menunggu di lobi sambil memandangi kepergian Satria dari balik punggung yang lalu menghilang di balik pintu.


"Maafkan saya Bu, membuat anda menunggu"


"Tidak apa Ren, kamu habis darimana?"


"Tadi pak Rion menarik saya, dan tertanya salah orang"


Rianti kini memicingkan matanya.


...........


"Huft rasanya aku malu sekali, kenapa coba dia juga tidak memberitahuku yang sebenarnya. Apa sengaja dia ingin mengerjaiku? huuh keterlaluan"


Tidak terasa memikirkan hal itu saja sudah melewati banyak waktu, hingga satria tiba di rumah utama lebih awal.


Rianti memberi pesan kepada pelayan bahwa hari ini dia tak menyambut suaminya pulang dengan alasan tidak enak badan.


Walaupun Rianti hanya berbohong untuk bisa menghindari bertemu suaminya, Tapi malah menimbulkan masalah baru. Satria khawatir bukan main. dia memutuskan untuk pulang lebih awal dan menunda agenda malamnya.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, satria tergopoh datang menghampiri.


"Rianti..


"Sayang, bagian mana yang sakit? tunjukan padaku" sunyi tidak ada sahutan. Rianti bersembunyi di balik selimut.


*T*idak ada yang sakit tapi aku malu


Mengintip lewat celah, sangat jelas terlihat kekhawatiran suaminya.


"Apa yang kau makan hari ini?"


"Rion panggil semua koki menghadapku!"


"Baik tuan"


"Sayang ini bukan sakit perut, ini bukan karena makanan" meyakinkan


"Lalu bagian mana yang sakit, katakan padaku"


Satria menciumi kening Rianti, tangaanya mengusap pipi yang disandarkan di dada bidangnya.


"Aku akan jawab tapi cuma kamu aja yang boleh dengar" mencari-cari alasan sambil berfikir keras.


"Saya permisi tuan" Rion meninggalkan kamar sudah tahu keberadaannya tidak di inginkan sebelum tuan mudanya mengeluarkan perintah.


"Aku sakit kepala sayang, tapi itu tadi sekarang sudah tidak"


Satria mengeluarkan ponsel, lalu menelpon dokter rumah utama.


"Sayang, tidak usah aku sudah baik baik saja"


"Aku hanya memastikan"


*K*au pasti sedang berbohong Rianti, badan kamu tidak panas, wajah kamu juga tidak pucat, malah terlihat panik.


hahaha kau sangat menggemaskan. aku akan ikuti dramamu.


"Sayang, sungguh aku sudah tidak apa-apa, kamu jangan khawatir"


"Benarkah, bagaimana aku bisa percaya padamu, wajah kamu pucat sekali sayang" mengecup bibir mungil itu.


Seperti ada yang tidak beres. Rianti membatin.


"Sayang, percayalah padaku


buktinya aku bisa tersenyum tuh,, hehe"


*A*yolah sudahi ini semua


"hmm, benar. kalau begitu aku akan memberimu obat saja"


"Apa,, memang kamu tahu resepnya sayang"


"Tentu saja"


Menyibak selimut lalu membuang nya ke sudut. tangannya sudah tidak bisa tinggal diam.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2