Cinta Sejati

Cinta Sejati
Pamitan penuh drama


__ADS_3

Sarapan pagi bersama di rumah utama kembali terjadi.


Suasana kali ini lebih kondusif di banding sebelumnya, bukan karena mereka sudah saling mengalah tapi terlihat mengalah untuk rencana yang lebih besar.


Bahkan Niko tidak bersikap mengejek adik nya lagi seperti bocah. Ia tampak dewasa walaupun hanya berpura-pura. Begitu pun dengan Satria ia lebih memilih merapatkan mulut.


Tidak ada kata-kata lagi dari tuan dan nyonya besar seperti kemarin. Mereka takut akan ada yang mengeluarkan bom atom lagi dan menimbulkan kekacauan.


Suasana hening sampai mereka selesai sarapan.


Seperti biasa Satria pamitan pergi ke kantor dengan drama yang lebih mesra, sengaja ia lakukan dihadapan Niko agar ia sadar diri, mencintai belum tentu memiliki, dan memiliki belum tentu bisa menyentuhnya. Hanya ikatan pernikahan lah yang bisa melakukan itu semua. Satria pun seolah pura-pura tidak mengetahui tentang kejadian kemarin.


Jika Niko teliti, cara Satria adalah tamparan untuknya bahwa Satria lah yang berhak atas Rianti dan Dion. Walaupun Niko bisa berbincang dan bersenda gurau seperti kemarin, semua itu hanyalah semu belaka.


Rianti tampak santai dan mengikuti alur. Pipinya juga merona mendapat perlakuan dari suaminya. Begitu juga dengan Dion, ketika papahnya hendak beranjak dia menangis sedih ingin ikut.


Satria melirik sekilas ke arah Niko yang sedang memerhatikan.


semoga kau segera sadar. semenjak aku tahu kau adalah kakakku aku tidak memiliki selera untuk bertikai denganmu.


Hati Niko iri ingin sekali bertukar posisi dengan Satria saat ini. Tangannya mengepal dan berlalu dengan membawa udara pengap dikepala. Lebih baik pergi daripada harus menahan perih. Mungkin dengan cara ia balik awal akan mengobati sedikit rasa kesalnya. Dan juga bisa menggoda Rianti lagi seperti hari kemarin.


"Sayang, jangan lupa perintahku." Satria mengingatkan kembali sebelum pergi.


"Iya sayang aku tidak akan lupa. Kamu jangan banyak pikiran. Percayakan padaku aku bisa jaga diri. Terlebih hati ini, ruang nya sudah terisi penuh olehmu." Rianti mencium pipi suaminya.


"Terimakasih sayang."

__ADS_1


"Sama-sama sayang, papah Dion ingin cium juga."


"Dion yang ingin, apa mamah kamu yang ingin?" Satria menjawab dengan senyuman miring.


"Hehehe" Rianti tergelak. sekali lagi mereka berpelukan hangat.


..........


Setelah kepergian Satria, Rianti berjalan menyusuri ruang tamu menuju kamar. Ia tampak santai dan masih menyisakan senyum.


Ada seorang yang mengintai di ambang pintu, Rianti melirik sebentar sambil terus melangkah dengan percaya diri. Dia pikir Niko akan mengganggunya, tapi dugaannya ternyata salah.


Syukurlah.


"Rianti.." Niko memanggil.


"Abang Niko pergi dulu"


hah


"Silahkan saja" aku tidak perduli


"Assalamualaikum"


apa


"Wa'alaikum salam" Rianti

__ADS_1


Rianti kau adalah orang yang teliti dan selalu menjaga sikap. tapi kau punya kelemahan tidak bisa bersikap acuh pada kelembutan dan kebaikan orang lain. dari titik inilah aku bisa menyerangmu. Niko


Niko memasuki mobilnya dan bertingkah seolah ia adalah suami Rianti. Walaupun Rianti sudah tidak berada di dekatnya Niko benar benar sedang berdrama sendiri. Dia yang mengoceh dia pula yang menjawab.


Adegan tersebut dilihat oleh nyonya besar. Ia tak tahu harus tertawa atau bersedih melihat kelakuan anak sulungnya. Karena yang dia rasakan hatinya tersayat tapi ingin ketawa juga.


kasihan sekali kamu nak. mamah tidak bisa berbuat apa apa untuk masalah ini. karena kau dan satria masing masing memiliki derita.


dunia ini begitu sempit. kenapa kamu jatuh cinta juga dengan wanita yang sama. atau mungkin ada rahasia di balik ini? semoga kalian sehat selalu dan saling menyayangi sesama saudara.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2