
"Bodoh!, gua suruh celakain bocah lemah itu lu malah nyelakain wanita gua! otak lu pada dimana hah" kemarahan Niko memuncak seperti harimau yang sedang ingin menerkam.
Niko memporakporandakan markas tempat dia berkumpul dengan anak buahhya. Lelaki itu melampiaskan amarah yang memuncak karena frustasi memikirkan wanitanya terluka.
Setelah puas dan emosi mereda, tempat itu di sterilkan kembali. Tertata rapi seperti tidak ada aktifitas sebelumnya. Mereka menghilangkan jejak dengan bersih. Karena mereka tahu, pihak berwajib sedang mengincar.
Pengejaran telah dilakukan.
Pada akhirnya, anak buah Niko tertangkap satu persatu di tempat persembunyian. Tapi tidak dengan Niko, anak buahnya pun tidak pernah menunjukan identitas bos nya.
...................
Di rumah sakit.
Para medis telah selesai melakukan tugas, salah satu dokter telah menampakan batang hidungnya. Mengumpulkan keberanian tentang penyampaian informasi ini.
Satria menatap tajam, meminta penjelasan tanpa harus bertanya.
"Maaf tuan muda, dengan sangat berat hati saya sampaikan. kami tidak bisa menyelematkan..
Belum selesai bicara, Satria mencengkram kerah baju dokter itu. Dokter yang sebenarnya sedang mengumpulkan tenaga untuk bisa berdiri tegak.
Para medis yang melihat ini gemetar bukan main. Nyalinya menciut dan berandai untuk bisa tidak ada di situasi macam ini.
"Kau mau bicara apa?" suara yang terdengar berat. Tatapannya mengintimidasi dengan mata memerah.
Rion tidak berani mencegah, membiarkan saja apa yang terjadi di depannya. Karena baginya, menenangkan Satria saat ini bagai menggapai matahari terbit dari ufuk timur. Mustahil. Luka lebamnya pun masih berdenyut nyeri.
Tuan dan nyonya besar juga demikian.
"Ti..da..k bisa.." suaranya tercekat dengan kerah baju yang masih di tarik tuannya. "tidak bisa menyelamatkan kandungan nona muda."
"Apa !" Satria ber api api
"Apa !" Nyonya dan tuan besar bersamaan.
"Apa ??" Rion lirih.
Rianti hamil. ini sesuatu yang ditunggu tapi tak bisa digapai hari ini, hari dimana sang pencipta mengambilnya kembali.
"Istriku hamil? "
"Iya tuan. Usia kehamilannya 5 minggu."
kehamilan yang pemilik rahimnya pun tidak menyadari.
Cengkraman Satria mulai mengendur, dokter pun bisa bernafas lega sudah mengutarakan kebenaran nya, seraya mundur beberapa langkah.
*A*nakku...
Satria melemah, tubuhnya merosot bersimpuh di lantai. Tidak ada daya yang dapat menahan rasa sakit, hingga tergolek dalam tangisan di dekapan nyonya besar.
Sementara itu Rianti menangis dalam diam, matanya memanas tapi tak sampah jatuh airnya. Semua ia tahan, walau hatinya menjerit.
*N*ak, maaf. mamah sampai tidak tahu kalau kamu ada di rahim mamah.
__ADS_1
Berusaha setegar batu karang, dia pun tidak mau memberitahukan ini pada keluarganya. pikirannya mencari, dimanakah Satria?
Nyonya besar datang dengan wajah sembab, berhambur memeluk menantunya yang baru saja kehilangan calon buah hati.
Hanya Isak tangis yang mengiringi.
"Mah, kita berdo'a saja semoga kita bisa melalui ini. Mah aku khawatir dengan suamiku, dimanakah dia?
*M*anusia macam apa ini. hatinya begitu tegar.
batin nyonya besar tidak percaya. "Satria sedang dalam perawatan sayang. Dia shock.
Untuk menemuimu saja, dia belum sanggup.
"Kasihan sekali mah" wajah nya teduh.
"Sayang mamah boleh nanya sesuatu?"
"Apa mah?"
"kamu hamil sudah tahu atau kamu belum mengetahuinya?" tanya nyonya besar dengan hatihati.
"Aku baru tahu, setelah keguguran. Rianti memang sangat ceroboh mah. Aku tidak merasakan seperti gejala hamil, tapi memang aku sudah telat haid. Rianti tidak curiga, soalnya memang sering telat."
"Yang sabar ya sayang, mamah sayang banget sama kamu" mengecup kening Rianti, dan tersadar kalau suaminya tidak ada.
papah kemana ya.
..........
Flash back
Ponsel bergetar lama menandakan sedang ada panggilan. Tuan besar mengangkatnya, namun seseorang dalam sambungan hanya ingin tuan besar membaca pesan.
"Pelaku penyerangan sudah tertangkap. Alasan mereka hanyalah ingin merampok. Penyidikan masih berlanjut, namun kami menaruh curiga pada pria bernama Niko. Hanya dirinya lah yang punya masalah dengan tuan dan nona muda. Pria ini menginginkan nona. Apa ada tugas lain yang bisa kami kerjakan?."
"Untuk tugas selanjutnya, temui saya di tempat 'rahasia'."
Tempat rahasia adalah tempat tuan besar mengadakan rapat penting dan tertutup. Jika tuan besar bilang tempat rahasia, pasti anak buahnya mengerti harus kemana.
Flash back berakhir.
Kembali pada susana di rumah sakit.
Setelah lebih tenang dan rasa sakit berkurang, Satria pergi menemui Rianti yang belum dilihatnya. Dia ingin sekali merangkul dan memeluk, saling menguatkan dalam situasi yang membuat dada merasa sesak.
Rianti yang sedang tergolek lemah membelai punggung sang ibu mertua. Dengan usapannya itu, nyonya besar terlelap dalam duduknya. Tangan yang satu lagi sambil berkutat dengan ponsel nyonya besar yang dipinjamnya tadi.
"sayang, gimana keadaan kamu? masih ada yang sakit?" Satria datang, langsung meraba perut Rianti dengan air muka sedih.
"Udah gak sayang , aku udah baik-baik aja kok. Oh iya kamu gimana keadaannya? kata mamah kamu ngedrop. Aku khawatir." Rianti menaruh ponsel ke atas nakas, ponsel yang digunakan untuk berkomunikasi dengan tuan besar membahas suatu rencana tentang penangkapan niko.
"Sayang, peristiwa ini sudah melewati batas. Bedebah itu sangat licik. Jadi, aku memiliki rencana untuk hal ini. tapi.."
"Tapi apa sayang?"
__ADS_1
"Aku harus merelakan mu untuk menjadi umpan. Maafkan aku"
*H*ei rencana kita kok bisa sama.
"Oh ya sayang, berarti kita punya satu ide yang sama, aku juga kepikiran tentang itu." ide yang sama dengan pembahasan tuan besar dan juga Rianti.
Bukan tidak mau melibatkan Satria, tapi kesehatannya yang sedang drop menjadi pertimbangan. Tidak disangka, ternyata ide nya pun sama.
Posisi tidur di kursi, dengan badan bersandar pada ranjang Rianti membuat nyonya besar terbangun ketika mendengar obrolan panjang.
Dia mengerjap, menyapa anak kesayangannya, lalu pindah dan tertidur lagi.
"Kasihan mamah ya sayang, pasti mamah kecapean"
*T*erbuat dari apa hati istriku ini, dalam kondisi begini masih sempat memikirkan orang lain.
..........
Di dalam ruangan bernuansa hitam dengan background dan benda yang sama sekali tak menenangkan, berbanding dengan selayaknya kamar yang menjadi tempat melepas penat dan lelah.
Seorang pria dingin duduk di kursi kebesarannya, penuh dengan kepulan asap. dan minuman yang jika diminum akan membuat setengah sadar.
Pria itu adalah Niko. Dengan tampang seram, namun jika di perhatikan dengan seksama terlihat sedikit manis. Iya sedikit, jangan banyak banyak, karena kelakuan dia sangatlah jahat.
lelaki itu menarik ujung bibir, tersenyum sumringah ketika mendapat informasi Rianti telah keguguran. Sungguh sangat menyenangkan baginya, telah melenyapkan calon bayi dari si pria lemah.
Baginya ini adalah jackpot.
"Rianti, emang sebaiknya lu jadi milik gua. Gua yang bisa bahagiain lu, gua juga yang bisa jagain lu."
.
.
.
.
.
Bersambung...
.
Dibalik layar
Ketika kabar keguguran itu mencuat, dan berteriak "apa !"
Terdengar perdebatan kecil di belakang yang sedang menyaksikan.
"Bro, kita yang jauh aja denger masa mereka yang dekat gitu kagak denger?"
"Kata siapa kamu, kalau mereka gak dengar?"
"Lah itu masih nanya "apa"
__ADS_1
"-_-"