Cinta Sejati

Cinta Sejati
Keraguan


__ADS_3

Benar saja. Begitu aku bangun. Hiro sudah tidak ada dirumah. Sepiring nasi goreng sudah tersiap di meja makan. Bahkan ada sebuah notes di dekatnya.


"aku menyiapkan beberapa makanan di lemari pendingin. kamu bisa menghangatkannya ketika ingin makan. Jangan lupa menjaga kesehatanmu dan belajarlah dengan benar.


Akan kuberikan hadiah spesial kalau kamu bisa lulus dengan nilai memuaskan.


SEMANGAT"


"apa2an ini.. bahkan kita. tidak sedekat itu" gumamku


Aku berjalan mengambil air putih di lemari pendingin. Dan benar saja. Ada sederet makanan yang sudah dikemas rapi. Dengan berbagai catatan di atas nya. Cara penyajiannya. Bahkan semua ini akan cukup hingga satu minggu kedepan.


Apakah dia akan benar2 pergi jauh? sejauh apa?


.


.


.


Rudi menepuk bahuku. Menarik bangku kemudian duduk disebelahku.


"memikirkan apa pagi2 begini?" tanyanya


"Hiro pergi?" jawabku singkat


"bukankah itu biasa. datang tak dijemput. pulang tak diantar"


"memang benar"


"lalu?"


"ini agak aneh"


"apanya yang aneh? biasa saja"


"coba kamu bayangkan. seumur hidup dia tidak pernah berkata lembut padaku. tapi dia melakukannya. bahkan membiarkan ku pergi berkencan dengan Rico hari minggu kemarin"


"oooh...jadi kamu mau pamer kepada jomblo ini?"


"bukan begitu...eh? apa katamu? jomblo? lalu?"


"kami putus"


"kenapa putus?"


"katanya dia harus fokus belajar"


"alasan klise"


"kamu tahu. orang tuanya kan?"

__ADS_1


Aku tersentuh mendengar cerita Rudi. Kuulurkan tanganku menepuk lembut punggungnya.


"akan selalu ada aku. jangan sedih"


"benarkah? lalu setelah lulus nanti?"


"aish...itu masih beberapa bulan lagi. tidak perlu kita pikirkan sekarang"


"lalu Rico? apa kamu akan membuangnya demi aku?"


"jangan sembarangan bicara. atau aku akan menurunkan simpati ku barusan"


Kami berdua tertawa. Mengingat kembali hal2 kecil yang bisa membuat Rudi terbahak. Melupakan sejenak status barunya yang pasti sangat menyakitkan. Mengingat semua perjuangan Rudi selama ini.


.


.


..


Pertempuran dimulai. Hari-hari penuh soal & nilai. Membayangkan betapa menakutkannya remidi dan kalau sampai tidak lulus. Akan menjadi cerita pahit tak terlupakan.


"Semangat Rudi" aku memberi dukungan pada Rudi. Sebab kami semua tahu kemampuan otaknya.


"sudah. masuk sana ke kelasmu" dorong Rudi dengan wajah kesal


Kami kembali sibuk dengan soal. Berpacu dengan waktu yang terbatas. Dan ingatan yang penuh keterbatasan.


aaaah....


Aku menatap Rico. Memfokuskan diri pada dirinya. Hingga akhirnya dia melihat kearahku. Memberikan seutas senyuman. Dan itu cukup. Cukup untuk menyegarkan pikiranku. Mengembalikan materi2 yang sebelumnya beterbangan tak beraturan.


terimakasih


.


.


.


"akhirnya" seru Rudi dengan wajah lega


Tidak dapat dipungkiri. Ujian adalah momok paling menakutkan untuknya.


"apa kita akan ke pantai?" tanyanya sambil bergantian menatapku dan Rico


"tidak" kami sepakat. menggeleng bersamaan


"apa? kenapa tidak? ayolah...aku baru saja terlepas dari hukuman mati ini" protesnya


"maka hukuman mati itu akan datang saat kita ke pantai" jawabku

__ADS_1


"ya?" baiklah. dia tidak akan paham dengan kiasan seperti ini


"apa yang bisa kami lakukan di pantai? berkencan dihadapan seorang jomblo?'


Jleb!


OK. Itu telak mengenai jantung Rudi. Seketika senyumnya hilang. Wajahnya mendadak murung.


"sabarlah. kami akan membantu semampu kami"


"apa yang bisa kalian lakukan? ini adalah keputusan orang tuanya. aku bahkan tidak bisa membuatnya menjadi anak durhaka. hanya demi diriku" ucap Rudi pelan


"akan ada pelangi setelah hujan. semangat lah Rudi" Rico mencoba memberi dukungan


"terimakasih"


nyatanya tak selalu ada pelangi setelah hujan usai teman-teman. tapi aku menghargai dukungan kalian. terimakasih


.


.


.


Rico mengajakku pergi ke sebuah cafe. Kami menikmati makan siang bersama. Sembari memikirkan tentang hari esok.


"sebentar lagi kita lulus" Rico memulai pembicaraan


"iya" aku mengiyakan


"apa rencanamu?"


"entahlah. belum terfikirkan"


"aku...."


"kenapa tidak kamu lanjutkan?"


"aku akan kuliah kedokteran"


"ke luar negri?"


Rico mengangguk. Dan itu adalah jawaban paling menyesakkan. Aku berharap ada jawaban lain. Meski kenyataannya aku sudah tau dari awal. Dia akan kuliah di negeri orang.


"jangan khawatir. aku akan selalu jadi priamu. dan kamu satu2nya wanitaku"


"benarkah itu?"


"apa yang kamu ragukan?"


"entahlah. aku tiba2 merasa tidak percaya diri"

__ADS_1


Rico meraih tanganku. Menggenggamnya lembut. Seolah ingin menyakinkan hatiku. Tentang kesungguhannya.


tepatilah janjimu. Rico


__ADS_2