
Perasaan tak karuan masih mengikuti langkah Rianti. Langkahnya terhenti, karena tuan besar menyuruhnya masuk keruangan seorang diri. Tuan besar menganggukkan kepala memberi keyakinan. Langkah ragu pun menyelimuti udara.
Handle pintu mulai terbuka.
"Rianti" senyum sumringah Ren menyambut.
"Ren" Rianti tertegun.
"Apa kabar Rianti, kamu baik baik saja kan?"
*H*ah harusnya aku yang menanyakan itu Ren
bisa bisanya kamu terbaring lemah memikirkan orang lain.
"Baik, kamu ....
"Rianti, sini mendekatlah duduk di sampingku" Rianti yang terpotong bicaranya segera mendekat.
"Aku tahu apa yang kamu ingin tanyakan padaku. untuk itu, aku minta kamu jangan terlalu mengkhawatirkan."
"Ren" Rianti berusaha menyela pembicaraan,
namun Ren menyentuh jemari Rianti. Sontak saja Rianti kaget dan menarik menjauh.
"Maaf"
"gak papa, aku ngerti pasti kamu menjaga
karena kamu sudah bersuami, tidak baik jika disentuh laki laki lain. Begitu kan Rianti? hehe" diselipi tawa renyah oleh Ren agar tidak terlalu canggung.
*A*ku bangga padamu Rianti
Rianti menjawab hanya dengan raut wajah.
"Ren, kenapa kamu..
__ADS_1
"Rianti, mungkin ini saatnya aku berbicara yang ingin aku sampaikan"
Ren kapan aku bicaranya,, protes Rianti membatin.
"Baiklah, apa yang ingin kamu sampaikan Ren?"
"Pertama-tama.. " Rianti hening mendengarkan.
"Pertama tama, kita masukan bumbu lalu tumis hingga harum"
"Ren,, apa kau sakit?" Rianti mulai khawatir atas kondisi Ren, yang ada dikepalanya mungkinkah Ren geger otak?
"Hehe bercanda, kamu kok bicaranya gitu"
pemilihan kosa kata yang kurang tepat, ternyata menimbulkan salah paham.
"Maaf Ren, maksudku apa kamu sedang merasakan sakit, biarkan aku panggilkan dokter ya"
"Aku bilang tadi apa, jangan mengkhawatirkanku, baiklah aku akan bicara serius" mulai memasang mode wajah serius.
"Sejujurnya aku selama ini mengagumimu, mungkin bahkan lebih dari itu, maaf jika perkataanku ini mengagetkan
Aku tersiksa, maka dari itu, aku merencanakan sebuah drama."
"Drama?.. Rianti kaget bukan main dengan pengakuan Ren. Pikirannya pun flashback ke masa lalu dengan rentetan peristiwa yang sebenarnya membingungkan.
(spererti di film film rentetan kejadian masa lalu di putar).
"Rianti..
"Ehm,"
Rianti menelan ludah.
"Maaf Ren. jadi suara ambigu di kantor waktu itu..
__ADS_1
"Yaa, aku yang merekayasa nya. Sebenarnya aku sudah mengintai situasi lalu aku menciptakan drama padahal kami di dalam duduk pun berjauhan." Ren sambil membayangkan kejadian itu yang sebenarnya.
"Shesil lihat kamu di hotel dengan wanita, juga sama? lalu omongan orang-orang tentangmu?"
"Iya sama, untuk yang itu aku membayar orang-orang untuk menciptakan citra buruk."
"Untuk apa Ren?"
untuk apa,, kerutan dahi mewakili.
"Aku ingin kamu jauh" lirih Ren. Suasana hening untuk beberapa saat.
"Sebaiknya kamu istirahat Ren, biar cepet pulih"
"Sebentar saja" Ren menahan Rianti yang sudah berdiri.
"Maafkan aku Rianti, aku memang bodoh"
"Sudahlah Ren, lagian itu sudah berlalu
dan kini sekarang aku sudah tau kan kebenaranya." tersenyum secerah mentari.
"Kamu jangan terlalu dipikirkan aku tidak apa apa" Rianti berusaha menenangkan situasi padahal hatinya berkecamuk dan tidak bertanya lebih tentang itu. Bertanya kenapa Ren ingin dijauhi misalnya, lebih baik menyudahi dan diam.
"Satu hal lagi, aku ingin jika aku tidak ada, tolong donorkan hati ini untuk Satria"
"Apa!"
Pintu terbuka, tuan besar muncul di balik pintu dan masuk di antara ketegangan. Tuan besar menghampiri.
"Rianti, papah sudah tahu ini"
"Pah, kenapa Ren bicara seperti itu? dan kamu Ren kamu akan baik-baik saja. terimakasih atas empati mu tapi aku akan Terus berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan Satria."
"Jangan takut kehilangan cinta nya Satria, hanya karena aku mendonorkan hati. Itu tetap cintanya Satria Rianti walaupun beda hati haha" menahan sakit.
__ADS_1
"Aku titip pesanku ini"
bersambung.....