Cinta Sejati

Cinta Sejati
pertemuan


__ADS_3

Hari minggu yang cerah. Udara hangat dengan sinar mentari yang begitu lembut.


Aku suka suasana ini


Begitu selesai bersiap. Aku keluar kamar. Semalam Rico mengajakku pergi menikmati hari minggu.


Apakah dia belum sampai?


Kujulurkan kepalaku. Melihat keluar gerbang. Siapa tahu Rico sudah tampak dari kejauhan.


"mau kemana?" sebuah suara mengejutkanku


"bukan urusanmu" jawabku ketus


"apa kamu yakin? jika kamu membuat keributan. kedepannya. maka akulah orang yang harus membereskannya. apa kamu tahu?"


Apa?


Apakah Hiro benar2 memiliki pekerjaan itu?


"kenapa melamun? masih pagi dan udara sangat baik"


"aku pergi dulu"


Aku benar-benar tidak perduli dengan laki-laki ini. Tapi entah kenapa dia selalu menempel padaku.


.


.


.


Sebab mall ternama di kota J. Rico mengajakku berkeliling. Menonton film. Makan bersama. Bahkan berbelanja barang2 yang sama sekali tidak kami butuhkan.


Yahhh...itu tidak penting. karena pointnya adalah kebersamaan kami itu sendiri.


Benar.


"sudah waktunya" Rico menarik ku ke sebuah cafe diluar gedung.


Aku masih bingung. Bukankah kami baru saja makan? Kenapa dia sudah ingin mengajakku makan? Apakah ini efek samping dari berpacaran?


Tunggu! siapa itu? gadis itu? Luna?


Seorang gadis. Bukan. Dia sudah menjadi seorang wanita matang dengan gaya elegant. Wajahnya memancarkan aura yang begitu terang. Tatapannya bahkan sangat percaya diri.


Aaah...aku terintimidasi!


Bahkan hanya melihat sosoknya saja. aku sudah kalah telak.


"sudah lama?" Rico menyapa tanpa canggung sedikitpun. aku hanya tersenyum.


"baru saja. ayo duduklah. apakah dia?" Luna melirik kearah ku


"iya. dia Esta" Rico memintaku duduk di sebelahnya. Tangannya tanpa kusadari terus menggenggam jemariku.


Apakah dia tahu apa yang aku pikirkan?

__ADS_1


"bagaimana wawancaranya? lancar?" kembali Rico memulai pembicaraan


"tentu saja. siapa yang bisa menolak bakat cemerlang sepertiku" Luma membanggakan diri


"aish...jangan terlalu menyombongkan diri. diatas langit masih ada langit" bantah Rico


Keduanya berbincang akrab. Seolah memiliki dunianya sendiri. Sementara aku? Siapa aku? Dimana aku? Apa gunanya aku?


"Esta. kamu awasi bocah ini. dia bisa bertindak diluar pikiranmu lho" Luna mengedipkan sebelah matanya padaku


"benarkah? apa begitu Rico?" aku menatap Rico


"asal kamu tahu saja. sudah berapa kali dia aku tolak. bagaimana bisa aku menerima perasaan bocah umur 9th? aku masih normal"


"hentikan Luna. itu tidak pantas dijadikan lelucon"


"hahaha...aku hanya mau dia tidak salah paham dan mengerti hubungan kita"


"iya...sepertinya aku mengerti"


Menurutku. Aku tak ubahnya orang asing di dunia mereka berdua. Apa yang mereka bicarakan sama sekali tidak aku pahami. Kenangan2 yang mereka jadikan bahan candaan. Aku bahkan belum mengenal Rico kala itu.


Perasaan macam apa ini?


.


.


.


"apa kamu baik2 saja Esta?" Rico bertanga dengan lembut. Melepas genggamannya kemudian memeriksa keningku


"kamu sedikit diam dari biasanya"


"benarkah?"


Rico mengangguk.


Kami berjalan menyusuri toko demi toko. Hanya untuk menghabiskan waktu berdua. Dalam waktu dekat. Ujian akhir harus segera dihadapi. Akan sangat sulit kami bersama tentunya.


"jangan salah paham lagi. ya?" Rico mengusap puncak kepalaku


"eh..iya" aku menjawab sekenanya


"kamu satu2nya gadis dihatiku sejak saat itu"


"sejak saat itu?"


"iya.saat aku baru masuk sekolah. aku melihatmu tersenyum. begitu tulus. cantik. dan membuat jantungku berdebar"


"benarkah. apa aku pernah tersenyum padamu waktu itu?"


"bukan padaku. saat itu kamu berbincang dengan Rudi. aku tidak sengaja melihatnya"


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


Rico melepas helm yang kukenakan. Dia memperlakukanku dengan lembut. Hingga detik ini. Aku masih terus bertanya. Kebaikan apa yang aku lakukan dimasa lalu. Hingga mendapatkan hadiah seseorang sebaik dirinya.


"kenapa melihatku seperti itu?" Rico menyadari kalau aku memandanginya dari tadi


"terimakasih"


"terimakasih?"


"sudah memperlakukan ku dengan baik"


Rico hanya tersenyum kemudian mengusap puncak kepalaku.


"masuklah. aku sudah berjanji pada Hiro. tidak pergi sampai malam"


"hati-hati dijalan"


"jangan lupa semangat untuk ujian akhir nanti. ingat tujuan kita. janji kita"


.


.


.


"sudah pulang?" sebuah suara menyambut kedatanganku


"kamu lihat sendiri"


"apa sudah makan?"


"sudah"


"istirahatlah"


Tumben. Apa aku salah dengar? Hiro berbicara dengan nada lembut. Tidak seperti biasanya?


Apa ini benar2 dia?


"kenapa melihatku seperti itu?" tanya Hiro curiga


"apa kamu salah minum obat?" tanyaku polos


"maksudmu?"


"tidak. hanya saja. kamu lebih lembut dari biasanya. aku sedikit tidak terbiasa"


"kedepannya kamu harus membiasakan dirimu"


Cih...bahkan tinggal hitungan minggu lagi. Begitu lulus. Akan segera pergi dari kota ini. Pergi sejauh mungkin dari hadapannya.


"besok aku harus pergi pagi2 sekali. tapi sebelumnya akan ku siap kan sarapan untukmu"


"tidak perlu repot"


"aku akan cukup lama pergi"

__ADS_1


"aku tidak perduli"


apa urusannya denganku? bahkan kalau dia pergi selamanya. itu akan jauh lebih baik.


__ADS_2