Cinta Sejati

Cinta Sejati
Janji Satria


__ADS_3

Hari ini, kepulangan Satria disambut banyak pihak. Persiapan demi persiapan menyibukkan pegawai rumah utama.


Satria seperti mendapat kesempatan hidup setelah lama terbaring di rumah sakit. Banyak hati yang terluka, air mata yang menetes, dan sebuah pengorbanan yang selama ini terjadi ketika ia tidak sadar. Yang terakhir itu Satria pun belum tahu siapa orangnya.


Ren memang ingin mendonorkan hatinya sejak lama, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Pada akhirnya, Ren menemukan kesempatan, dimana saat kondisi Satria benar benar kritis.


Dia melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, tidak menghiraukan posisi kendaraan yang melaju pada perempatan jalan lalu tertabrak oleh pengendara lain.


Luka fisik memang tidak terlalu parah, tapi.. ia luka dalam pada bagian otak. Ren pun sadar itu. Dan mungkin ini lah saatnya dia berbicara kepada tuan besar dan juga Rianti.


Kalaupun aku di dunia tidak bisa bersamamu, setidaknya hati ini yang menemanimu di dunia.


Itulah sepenggal akhir kalimat penutup pada catatan harian Ren, yang di tunjukan orang tua Ren kepada Rianti setelah kepergian Ren. tidak tahu apa yang dirasakan Rianti pada saat itu, yang jelas ia sangatlah bingung.


Pikirannya melintasi masa lalu mencari titik terang, bagaimana bisa Ren menyukainya padahal menurut Rianti, mereka berdua jarang sekali berbincang intens atau main hanya berdua. Lebih sering kumpul satu geng Satria cs, dan Ren lah yang menghidupkan suasana dengan ocehannya.


Kontak fisik pun tidak pernah.


"Ayang" menggenggam tangan Rianti. lalu mengecupnya.


"Eh iya, ada apa sayang


kamu butuh apa?" Rianti tersadar karena merasa tangannya tersentuh bibir Satria. Sensasi tersengat geli itu ia rasakan kembali,


oh senangnya. Dia bahkan tak mendengar panggilannya.


Baguslah kau tidak mendengar panggilan "ayang"ku haha. gumam Satria dalam hati.


"Kamu manggilku ayang?" ujar Rianti melirik Satria dengan senyum manisnya, sambil tangannya sibuk membereskan dokumen milik Satria. iya, selama Satria koma Rianti membantu pekerjaan Satria yang sebenarnya di back up sementara oleh tuan besar.


"Tidak"


"Masa?"


"Sudahlah, kau percaya diri sekali"


"Hahaha maaf suamiku, aku hanya bercanda"


aku kangen kamu merajuk hehe


"Memang kau maunya di panggil apa?


"Aku di panggil apa aja sama kamu tetap senang"


"Benarkah?" Satria menaikan sebelah alisnya, meminta tuntutan lebih.


"Kenapa kau tetap senang?"


"Karena yang manggil orang kesayangan." Rianti menyeletuk gombal tanpa melirik Satria, karena baru saja ia menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


Yang di gombali wajahnya sudah seperti kepiting rebus. jantung nya pun berdegup.


dasar hati lemah.


"Sayang, ayo kita pulang ke rumah utama,


sudah banyak orang yang menunggumu disana"


"Ayo, aku Rindu sekali kamar kita


masih empuk kah kasur kita itu" Satria menyeringai.


hah


....


Pelukan hangat dari tuan dan nyonya besar menyambut kepulangan tuan muda di rumah ini. Tidak dengan keluarga lain yang hanya menegur sapa dan mengucap rasa syukur atas kesembuhan Satria. Faktor lelah menjadi pertimbangan.


Tanpa mengurangi rasa hormat


Satria menyapa kerabat dengan wajah berbinar dan penuh syukur.


Rasa bahagia menyeruak.


Setelah pertemuan keluarga, Satria memasuki kamar diikuti Rianti meninggalkan kerabat yang bercengkrama dengan tuan dan nyonya besar.


"Sayang?" Rianti gusar melihat Satria yang tiba meringis menahan sakit dengan wajah pucat. Segera ia dengan cepat melajukan kursi roda.


"Terimakasih , tapi saya bisa kok sendiri


kalian kembali saja ke pekerjaan kalian"


"Tapi nona.. ini sudah tugas kami"


"Tidak apa apa, biar saya saja yang melakukannya, kalian kembalilah"


"Kami permisi nona" menundukkan kepala lalu berlalu hilang dibalik pintu.


Satria yang mendengarkan, menangis tersentuh, dengan cepat ia menghapus air matanya agar tak ketahuan oleh Rianti yang sekarang ingin menghampirinya.


"Kita makan ya, nanti abis ini minum obat"


"Iya istriku sayang" tersenyum menatap


yang disenyumi menjahili dengan mengusap usap hidung Satria. Seperti menemukan mainan mainan baru kapan lagi bisa menistakan tubuh nya


"Hei.. jangan menggodaku Rianti"


"Hehe maaf sayang" Rianti menyodorkan suapan pertamanya. Dengan lahap Satria memakan, berharap bisa cepat sembuh dan pulih walaupun seumur hidupnya harus meminum obat.

__ADS_1


"Rianti, terimakasih atas kesetiaan yang kau berikan, aku mencintaimu" air mukanya serius menatap dalam.


"Iya sayang, aku juga mencintaimu"


*S*angat mencintaimu Satria, aku juga tidak mengerti kenapa hati ini takut sekali kehilanganmu.


"Aku berharap kamu jangan pernah mengkhianatiku, jangan pernah tinggalkan aku. Ya walaupun ini terdengar egois, aku mengekangmu dengan segala kekurangan dan kelemahan ku ini. Tapi aku janji akan berusaha bikin kamu bahagia"


Rianti tidak dapat berkata.


"Sayang, aku akan berusaha sembuh


demi kamu, demi kita" mencium kening Rianti dengan hangat.


"Suamiku, terimakasih atas cinta yang kau berikan maaf jika aku belum sempurna menjadi istrimu"


"Rianti, harusnya aku yang meminta maaf, atas perkataan dan perilaku diriku terhadap mu selama ini"


"Tidak ada yang perlu di maafkan sayang, aku sudah melupakannya hehe" Rianti bergelayut manja.


"Berjanjilah padaku kau cuma miliki seorang" mengacungkan kelingking untuk di kaitkan.


"Iya sayang, aku janji" Rianti mengaitkan kelingkingnya, dan mereka pun hanyut dalam perasaan masing-masing.


..........


Di tempat dengan background serba hitam dan penjaga bertampang preman disitulah Niko bertandang dikala penat menyelimuti. Barang di depan mata tak luput dari kemarahan selalu berserak terkena hantaman.


Hari ini, ia begitu kesal. Penyadapannya terhenti, tidak bisa mendengar lagi suara wanita idamannya adalah alasan kemarahan hari ini.


Disamping untuk mendapatkan informasi ada yang lebih penting dari penyadapan itu. Rupanya suara Rianti lah yang membuat bahagia Niko setiap harinya.


Sebegitu tergila gilanya kah dirinya. Sejak kejadian tertolong dari benda jatuh, Rianti yang sangat berbeda dari gadis lain menolongnya dengan tulus tanpa meminta imbalan. Mendorong badan yang kokoh dengan tangan kecilnya, namun entah kenapa Niko merasakan tenaganya besar.


Tubuhnya sempat berhimpitan. Nafas memburu berlomba dengan degupan jantung. Tapi Rianti tidak tahu, atau tidak menghiraukan, hanya kalimat " kau baik baik saja?" yang terlontar dari bibir mungilnya, belum sempat menjawab, Rianti sudah berlalu.


Bukan main


Orang setampan ini tak dilirik. Tubuhnya yang atletis dan wajahnya yang rupawan selama ini menjadi idaman para gadis yang mengantri ingin tidur bersamanya, tidak berlaku untuk Rianti, selain Satria ia melihat pria lainya hanya seperti remahan kue rengginang.


Niko memiliki perusahaan yang ia kelola seorang diri, sifat arogannya tak jarang menyelesaikan masalah dengan kekerasaan. Bahkan melukai siapa saja yang menghalangi proyeknya.


Cara licik pun sering dia lakukan dalam dunia perbisnisannya. Tak heran jika ia memiliki banyak aset kekayaan di semua lini kehidupan.


Bersambung...


Sudahkah anda membahagiakan diri anda sendiri hari ini?


Salam hangat dari author.

__ADS_1


Terimakasih atas like dan komentar nya.


__ADS_2