Cinta Sejati

Cinta Sejati
"keluarga"


__ADS_3

"tidak perlu sungkan. aku...sudah tahu keseluruhan ceritanya. kisah kalian"


"a. apa?"


Aku membatu. Bahkan rasanya tidak pantas. Ketika aku datang kedalam 'keluarga ini'. Apakah aku orang ketiga?


"maaf" akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku


"tidak apa-apa. aku paham kondisimu. juga suamimu. dia tidak ada pilihan lain" jelas Nicole


"kamu kenal Hiro?" aku terkejut ketika nama Hiro disebut


"kenal? hanya sebatas tahu...dia datang menemuiku. khusus untuk meminta ijin tentang Rico"


"apa?"


"hhhhh...situasinya begitu rumit. aku turut andil dalam kejadian yang menimpamu. aku...sangat terpesona dengan mahasiswa yang begitu cemerlang seperti Rico. hingga suatu malam aku memiliki kesempatan untuk memilikinya. aku tidak menyia-nyiakan itu tentu saja. dia kriteriaku. aku juga tidak menuntutnya untuk bertanggung jawab. malam itu dia mabuk. namun setelah beberpa hari dia datang menemuiku. melamarku. aku sungguh tersentuh. di kota ini tidak pernah kutemui pria seperti dirinya"


Aku terdiam mendengar cerita Nicole. Caranya menyampaikan begitu lugas. Terkadang bahkan membuatku sedikit terkejut.


"aku tahu pada akhirnya tentang kisahmu dengan Rico. dia menceritakan diawal pernikahan kami. dia juga tidak berjanji bisa menerimaku seutuhnya. tapi dia akan berusaha. aku menghargai itu"


"dia menceritakannya?"


"iya"


"kekacauan ini?"


"iya. mengenai mama Nina dan ayahmu juga"


"dia...bisa berbagi denganmu...namun tidak denganku"


"itu karena dia tidak memiliki perasaan apapun terhadapku. tapi tidak denganmu. dia sangat-sangat mencintaimu"


"apa? bagiamana kamu bisa berkata begitu?"


"aku melihatnya. bahkan sampai sekarang. aku masih belum tahu. apakah dia sudah membuka hatinya untukku"


"maaf"


"sudahlah. bukan itu intinya. setelah suamimu datang. Rico menolak. tapi. aku kemudian membujuknya"


"apa?"


"aku berkata kalau mungkin ini kesempatan untuknya meminta maaf padamu. menyelesaikan yang belum sempat dia selesaikan sebelumnya"


"apa kamu gila? bagaimana kalau dia berubah pikiran?"


"bukankah pertanyaan itu juga yang harusnya diberikan pada Hiro. suamimu?"


Gleg


"aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba kembali dan memutuskan untuk tidak lagi membantu Hiro"


.


.

__ADS_1


.


Aku melihat wajah Harry. Kedua matanya mirip dengan Rico. Jantungku terasa perih. Namun. Anak ini tidak bersalah sama sekali. Dia begitu polos. Bahkan daritadi terus tersenyum saat aku mengajaknya bermain.


"kalian sudah akrab"


Suara ini menggetarkan tubuhku. Rico?!


"aku sudah menyiapkan baju ganti. ada makan malam dimeja. aku akan ke rumah ayah" jelas Nicole


"tunggu. Nicole?" cegahku spontan


"jangan khawatir. aku percaya pada kalian"


Dia ternyesum padaku kemudian mengambil Harry dari gendonganku. Mengikuti langkah ayah dan berakhir hilang dibalik pintu.


.


.


.


Suasana begitu hening. Bahkan ini sudah 30 menit sejak kepergian ayah dan Nicole. Aku sama sekali tidak berani membuka mulutku. Lidahku seolah terpatri dan menjadi kelu.


"apa yang membawamu kesini?" akhirnya Rico memulai pembicaraan


"aku...sedang menyusun puzzle"


"apakah itu penting?"


"ya?"


"ya?"


"aku...aku sungguh meminta maaf padamu. Esta. atas semua yang sudah kulakukan. atas seluruh kejadian yang menimpamu. bahkan kesepakatan bodohku dengan Hiro...maafkan aku"


"aku tidak menyalahkanmu. aku hanya ingin mencari jawaban untuk hatiku"


"aku...memang senang saat Hiro datang hari itu. bahkan saat mengetahui kamu hanya mengingatku hari itu. munafik kalau aku menyangkalnya. tapi...diujung cerita aku menyadari ada yang salah. aku bahkan menciummu. memelukmu. yang bahkan adalah seorang istri dari pria lain. aku...aku mengutuk diriku sendiri"


"kami sudah berpisah"


"eh? apa? apa maksudmu?"


"seperti kataku"


"tapi bahkan hari itu dia meredam egonya. membiarkanmu bersamaku. tiga tahun. kamu bisa bayangkan itu. Esta? seorang suami membiarkan istrinya menjadi kekasih pria lain demi membuatnya mengingat kembali kenangan masa lalunya"


Aku terdiam. Rico tampak sangat emosional. Aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk menyela.


"kamu tahu. aku merasa jijik pada diriku sendiri. aku bahkan sudah meninggalkanmu. menghamili seorang gadis yang kujadikan pelampiasan. bahkan dia sedang hamil kala itu. dan aku memutuskan untuk menebus kesalahanku padamu hanya karena aku menganggap kecelakaanmu adalah sebuah kesempatan untukku. aku benar-benar egois. aku ini tak ubahnya binatang. aku baj*****"


"hentikan Rico"


"jangan menghiburku. itu bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan. kamu memiliki suami. dan aku memiliki istri bahkan seorang anak. ide Hiro benar-benar gila. dan aku jauh lebih gila dengan menyetujuinya"


"aku...Hiro berkata kalau aku harus mengejar kebahagiaanku. tapi setelah aku melihat Harry...sungguh jahatnya aku jika masih memikirkan tentang hal itu. sudahlah. mungkin memang semua diawali kesalahpahaman. ketidakjujuran kita saat itu. keegoisan kita. aku tidak akan mengambil ayah Harry. kalian adalah satu keluarga utuh. aku tidak ingin melihatnya mengalami apa yang pernah aku alami. terlepas dari ingatanku yang akan pulih atau tidak. aku...aku akan berdamai dengan kenyataan"

__ADS_1


Rico berjalan kearahku. Memelukku dalam pelukan yang begitu hangat. Namun ada rasa yang berbeda yang kurasakan. Ini...


getaran itu tak lagi ada


apakah ini pertanda aku sudah berdamai dengan kenyataan?


benar-benar menutup masalalu yang begitu rumit dan memulai memintal benang yang baru?


.


.


.


Suasana makan malam yang hangat. Begitu ramai. Nicole adalah pribadi yang hangat. Dia berbaur dengan sangat baik. Terlebih cara pandangnya. Mungkin karena perbedaan budaya diantara kami. Dia terlihat begitu relevan dan tenang.


"apa Harry mau digendong bibi Esta?" ucapnya ringan


"bibi?" aku begitu terkejut. biar bagaimanapun. setelah pernikahan dokter Nina dan ayahku. maka aku dan Rico adalah keluarga selanjutnya.


"apakah aku setua itu?" timpalku memecah kecanggungan


"lalu apa kamu mau dipanggil kakak?" goda Rico


"kurang pantas sepertinya" sahutku


Dan susanapun cair. Hanya keriuhan gelak tawa yang memenuhi malam itu. Aku merasa benar-benar memiliki keluarga besar yang utuh.


.


.


.


Aku sudah berada di bandara. Dengan derai airmata dokter Nina dan ocehan si kecil Harry.


"ayolah aku harus pulang" rengekku


"ingatlah untuk sering-sering main kesini" ucap Nicole


"apa kamu pikir jarak kita bisa ditempuh dengan kereta cepat? aku pasti melakukannya setiap hari agar bisa bermain dengan Harry" timpalku


"temuilah Hiro. dia sudah melakukan banyak hal untukmu" Rico mulai menasehatiku


"apa kamu berakting menjadi kakakku sekarang?"


"aku bisa menjadi kakakmu kalau diperlukan"


Kami sejenak terdiam. Kemudian ayah menghampiriku.


"ayah...bahkan tidak memberimu contoh yang baik selama ini. tapi ayah kenal Hiro. dia bukanlah orang yang bisa merendah serendah itu demi seseorang. kembalilah padanya"


tik


tik


tik

__ADS_1


__ADS_2