
Masih dalam kondisi panik.
Rianti masih tegang sambil terus mengoceh yang tidak tidak. Dia merutuki Niko penyebab rem blong terjadi, Niko adalah orang jahat dan banyak musuh yang akan mencelakainya. Dalam keadaan panik pun kata yang keluar dari mulut Niko hanya berupa umpatan.
Bukan umpatan pada Rianti yang terus mengoceh menyalahkannya. Tapi mengapa ini terjadi ketika dia bersama orang yang sangat disayanginya. Kenapa ini tidak terjadi saat dirinya sendirian saja. Kenapa? kenapa? dan kenapa? kata itu terus memutar di otak Niko, hingga wajah Dion dan Alana terlintas.
Ketika Niko ingin meraih rem tangan, tangan nya terkena pukulan.
Plaakkk..
Rianti menepis, dia memelankan laju sambil tersenyum tipis meledek Niko.
Demi apapun Niko saat ini seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Dia baru saja terkena jebakan Rianti.
"Kak sadar" Rianti terkekeh.
"Maksud lu apa si."
"Oh jadi gini seorang mafia kalo lagi panik. Aku kira bisanya cuma bikin kacau aja."
"Lu ngerjain gua ya? inih rem berfungsi sebenarnya. Terus kaki lu ngapa tadi..."
"kakak pikirlah, dari tadi ini mobil belak belok sudah mau sampai rumah. Tuh kan sebentar lagi sampai. Lagian ya kak kamu gak kepikiran pas pergi tadi baik-baik aja?"
"Ya bisa aja Ri pas tadi kita ke makam ada orang jahat sabotase rem mobil."
"Hah, bukannya orang jahatnya kamu kak?."
"Iya gua jahat."
"Bukannya tadi kakak lagi nunggu aku, kakak berdiri dekat mobil."
"Tadi kan sempat nyamperin duda gatel." Jawab Niko malas.
Rianti menghentikan mobil tepat depan rumah utama. Langit sudah mulai gelap, pantas saja, Rianti yang belum makan dari siang lemas tak bertulang.
__ADS_1
"Rianti" Niko memanggil.
"Apa kak?"
"Kunci mobil, jangan di punyain lah."
..........
Malam yang sunyi mulai menemani, seperti hari kemarin dan bakal jadi hari berikutnya. Kamar yang dulu penuh tawa dan ocehan yang menggema ,terasa begitu sepi.
Rianti merendam tubuh di dalam bathup, memejamkan mata sebentar tapi bayangan Satria yang sedang berendam di kamar mandi saat jadi pengantin baru dulu, sangat mengusik pikiran.
Rianti tidak bisa terus seperti ini. Kepalanya pusing, ia segera menemui ibunya.
"Mak, Dion sama Alana tadi siang aman?" Maksud Rianti apakah anaknya tak merengek bertanya papahnya dimana.
"Aman neng. Tenang aja gak usah dipikirin. Dion anaknya bisa mengerti. Kalau Alana lambat laun juga dia bakal ngerti kalau sudah gedean mah." Ibu Rianti menenangkan putrinya. Menguatkan bahwa Rianti tak sendiri, akan ada keluarga yang siap siaga dikala susah maupun senang.
"Terimakasih ya Mak, sudah jagain anak-anak. Maaf Rianti tadi siang perginya agak lama."
"Oh ya neng, mamahnya Satria sampai sekarang masih nangis terus emak khawatir."
Deg.. hati berdesir.
Segalau itukah Rianti hingga keadaan mertua terabaikan. Beberapa hari ini bahkan Rianti tidak berbicara dengan mertuanya. Terakhir bertemu, saat mereka di ambang pintu menatap sendu Rianti dan Alana.
"Besok neng mau ngomong sama mamah, sekarang sudah malam gak enak takut ganggu. Emak istirahat sana, pasti lelah."
"Iya neng ngantuk banget emak juga inih."
haduh ini kepala kleyengan. tensi darahnya tinggi kali ya. Batin ibu Rianti
Ibu Rianti memejamkan mata, berharap terlelap dan pusing kepala hilang. Rianti masih memainkan ponsel, walaupun matanya kantuk setidaknya melihat cerita dan kenangan Satria bisa membawanya tidur dan mimpi indah. Karena sekarang jika Rindu padanya hanya bisa melewati mimpi.
Tring... pesan masuk.
__ADS_1
"Tidur sudah malam"
^^^"?"^^^
"kalau belum tidur juga, gua dobrak pintu kamar lu."
^^^"zzzzz"^^^
"Mimpiin gua ya"
"eh"
"kalau gak di bales berarti lu lagi mimpiin gue"
^^^"Ogah"^^^
Niko terpingkal melihat jawaban Rianti. Dia senang bukan bukan main bisa chat an dengan orang yang disuka walaupun isi pesannya absurd.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ..