Cinta Sejati

Cinta Sejati
Mimpi


__ADS_3

Tengah malam di sebuah kamar megah.


Rianti terduduk dalam sujudnya, bersimpuh dengan tangan mengadah dan menatap langit. Mencurahkan seluruh rasa yang sangat membelenggu lalu mengirimkan do'a untuk mendiang suami tercinta, Satria.


Rasa kantuk dan lelah membawanya untuk sekedar merebahkan tubuh. Namun belum sampai tempat tidur, langkahnya terhenti pada lemari baju khusus pakaian Satria.


Rianti membukanya, walaupun dia tahu akan sangat terasa sesak di hati jika dia akan melihat. Melihat setelan jas yang selalu dia cium saat menyambut satria pulang bekerja. Harum keringat suami mencari nafkah akan sangat dirindukan Rianti.


Barisan setelan jas terpampang rapi dan bersih, kemeja yang masih terlipat sempurna, dan kaus yang jarang sekali satria pakai. Membuat Rianti tersenyum miris akan diapakan ini nanti, jika kondisinya berada di tempat tinggal orang tuanya, mungkin sudah dibagikan pada orang lain.


aku sampai lupa kalau ada Niko, postur tubuh mereka kan beda tipis. nanti sajalah aku bicara padanya.


Rianti mengambil satu jas milik Satria, dibawanya ke tempat tidur yang disana sedang tergolek Dion, Alana, dan ibu Rianti. Malam ini, malam pertama tanpa Satria Rianti banyak di temani orang tersayang.


Rianti memeluk jasnya dan memejamkan mata, berharap terbuai dalam mimpi yang mempertemukan mereka.


Genggaman pada jas sudah mulai mengendur, pertanda Rianti sudah terlelap dalam tidurnya. Wajahnya memperlihatkan ekspresi sedih sekaligus bahagia.


"Rianti, senyum dong. Ikhlas ya sayang." Ucapan Satria dengan senyum yang merekah. namun tubuhnya yang sudah gagah tak mau mendekat pada Rianti.


Rianti terpaku, ingin segera berlari memeluk tubuh itu, namun sorot mata Satria mengisyaratkan jangan. Satria hanya mengucap kalimat yang membuat pedih lantas dia pergi hingga menghilang di kejauhan.


Rianti memanggil.


"Neng,,, neng bangun neng.." ibu Rianti menepuk pipi putrinya yang terlihat gelisah dalam tidur.


Rianti mengerjap kaget, mengatur nafas nya yang tak teratur. Memegang tengkuk dan bersandar di pundak sang ibu.


"Kenapa neng? mimpi buruk ya?"

__ADS_1


"Mimpi Satria Mak."


"Banyak istighfar biar neng tenang hatinya. Jangan lupa baca do'a sebelum tidur. Ada emak disini temenin neng."


"Iya Mak terimakasih, Mak baliknya jangan buru-buru ya temenin dulu disini."


"Iya, emak nginep disini sampe neng bener-bener bisa ditinggal. Bapak paling seminggu sekali kesininya kalau libur."


"Iya Mak gak apa-apa."


Rianti memandang jas yang dipeluknya tadi, dia ambil lalu memakainya dalam tidur. Seketika pikirannya teringat akan ponsel milik Satria. Dimanakah berada?


Rianti terbangun lagi mencari di tempat biasanya, benda itu teronggok di dalam laci dan tak bertuan lagi. Dengan sisa baterai 20% ponsel masih bisa di mainkan.


Saat layar utama hidup, wallpaper foto yang terpasang membuat Rianti tersenyum, foto yang mengikis jarak wajah mereka dengan hidung saling bersentuhan.


"Iya Mak"


Rianti meletakan ponsel itu kembali ke tempat. Berharap dia bisa menjelajahinya esok hari.


Selama ini, selama Satria hidup di dunia. Rianti sangat jarang memainkan ponsel suaminya kalau bukan masalah bisnis. Satria lah yang selalu memainkan ponsel Rianti, menjahili folder foto dengan banyak aksi selfienya. juga pernah Satria berkirim pesan pada Niko mengaku sebagai Rianti agar bisa menasehati kakaknya tersebut.


Ibu Rianti mendekat, duduk disamping Rianti dengan pembawaan yang serius. Membelai rambut putrinya yang terlihat berantakan, dan menyuruhnya untuk tidur di pangkuan sang ibu.


Rianti sudah menempelkan kepala di pangkuan ibunya, terbatuk sebentar merasa kesehatannya menurun.


"Neng, jangan sibuk terus jadi orang dewasa, emak juga kangen sama bocah kecil yang selalu ngerepotin emak. Yang kalau di suruh ke warung beli minyak baliknya malah beli micin."


Rianti tertawa kecil.

__ADS_1


"Yang kalau di suruh beli minyak tanah drigennya di tendang-tendang ya Mak." Lanjut Rianti menimpali membuat mereka terkekeh bersama.


"Nanti main ya ke rumah, rada lama juga nginepnya gapapa. Kali bapak juga kangen sama bocah yang suka ngejar anak ayamnya. Kalau belum nangis tuh pitik belum di lepasin."


Rianti teringat di masa itu yang sangat menyenangkan, masa dimana ia begitu aktif sebagai anak perempuan. Kerinduannya akan suasana rumah sangat mendalam sebab selama kondisi Satria menurun, ia tak pernah lagi berkunjung.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2