
Kegiatan bertukar posisi sudah selesai, hari pun sudah berganti menjadi malam. Rianti dan Niko pulang ke rumah dalam waktu yang bersamaan.
Wajah Niko sudah tidak seperti awal dia pergi, rupanya dia sudah lupa, jika dirinya sedang pura-pura marah. Seperti biasa sikap mengganggu Rianti kini sudah kembali lagi.
"Ri, suami balik harusnya cium tangan."
"Ih apa tadi kakak bilang?" memastikan jika dia tidak tuli.
"Gak, gua gak bilang apa-apa." Niko berlalu dengan sok keren. Menyisakan senyum miring atas kejahilan part satu.
"Mamah.. papah om.." teriak Dion dan Alana.
"Sayang.." teriak Rianti
"Pasukan kecil papah.." teriak Niko.
Dion dan Alana masuk dalam dekapan Niko. dua bocah itu tertangkap saat berlari menghampiri mereka.
Rianti yang sudah membentangkan tangan, perlahan menguncup dan akting tangannya pegal. Niko mengacaukan drama penyambutan antara anak dan ibu.
menyebalkan.
"Papah om ayo kita ke pasar malam." ajak Alana. "Mamah juga ikut ya " tambahnya lagi.
"Iya mah, pah. Dari tadi kita nunggu mamah sama papah om pulang buat ngajak ke pasar malam." lanjut Dion.
"Kalian tahu darimana pasar malam?" tanya Rianti.
"Dari aki Madih." jawab Dion dan Alana.
"Kalian tahu pasar malam itu bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak tahu. Hehehe"
Rianti ikut tergelak bersama anaknya. Tidak dengan Niko, dia sedang berfikir bagaimana bentuk pasar malam. Jika dia tidak tahu, habis sudah harga dirinya tercabik.
"Coba tanya papah om deh, pasar malam itu apa? dan apa aja yang ada disana?" ucap Rianti menguji ilmu Niko bagaimana dia bisa mensiasati keadaan yang dia tidak pernah tahu.
"Papah om coba ceritakan dong pada Dion dan Alana." pinta Dion.
"Iya papah om." lanjut Alana.
"Emmmm, kalau diceritakan jadi gak seru. mending langsung kesana saja." jawaban cerdas.
"Kalian tunggu sebentar papah om sama mamah mau ganti baju dulu. nanti kita akan bersenang-senang disana. Siap pasukan kecil?"
"Siap papah om."
Senyum kemenangan Rianti sudah memudar.
Kerlap kerlip lampu menyergap gulita malam, alunan musik dengan jeritan pengunjung yang sedang naik wahana menjadikan malam gegap gempita. Rianti terbiasa dengan itu, tapi Niko tidak.
Bagi Dion dan Alana ini adalah pengalaman mereka berpetualang setelah terkurung dibalik protokol keluarga Artha grup. Awalnya mereka asing dan takut dengan suasana pasar malam, lama kelamaan pasukan kecil merengek ingin naik komedi putar.
Rombongan yang terdiri Rianti, Niko, pasukan kecil, Madih, dan juga Emen serta segenap para pengawal yang sudah di brifing tidak mencolok telah berpencar. Pasukan kecil yang antusias lebih memilih disisi Madih dan juga Emen.
"Mah boleh ya?" pasukan kecil memohon.
"Iya boleh. Tapi harus nurut sama om Emen dan juga aki Madih ya."
"Iya mah, asyiik."
Pasukan yang telah berpencar hilang dibalik ramainya pengunjung.
__ADS_1
"Mau kak?" Rianti menawarkan jasuke, kesukaannya dulu saat masih sekolah. Jasuke adalah target utama makanan yang harus dibeli jika berkunjung ke pasar malam.
"Tidak."
Jasuke sudah di dapat, Rianti menikmatinya sambil melihat-lihat stand makanan yang disuguhkan. Kalau saja dia sedang lapar sudah pasti akan dibeli semua.
Matanya sibuk berkeliling, jasuke yang sedang dalam genggaman mendadak seperti tertarik, Niko menyuap jagung yang tercampur susu keju tersebut dengan fokus.
Dih, tadi gak mau. Rianti menggerutu karena laki-laki disampingnya begitu jaim. Mana cuma beli satu jadi kurang kan, Rianti masih menggerutu dalam hatinya.
"Kenapa? kesal jagungnya dimakan? nih gua kembalikan." Menyodorkan wadah yang sudah tandas isinya. Sungguh menyebalkan.
Walaupun begitu, Rianti tetap meraihnya. Memandang wadah kosong itu dengan ekspresi gemas. Lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Terimakasih kak sudah memberikanku wadah kosong. Hehe"
"Aku mau naik kincir, kakak ikut? apa mau nunggu disini?"
"Ikut, sekalian gua mau kasih tau filosofi kincir."
Berat, pembahasan Niko kali ini terdengar cukup serius.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa bahagia.
__ADS_1