
"Selamat pagi tuan dan nona muda." Rion menyapa dengan hormat.
"Pagi juga sekretaris Rion." Hanya Rianti yang menjawabnya.
"Kak, cepat. Sekretaris Rion sudah menjemputmu."
"Lah kan hari libur. Tadi lu juga udah bilang kan."
"Iya memang hari libur, tapi harus ada pertemuan penting. Ada sekretaris Rion yang mendampingi, tenang saja."
"Gua gak lagi takut, gak peduli juga ditemani siapa." Niko berganti baju sesuai arahan Rianti, dari kalimat yang dilontarkan barusan sepertinya Niko sedang badmood. Dia seolah merasa Rianti sedang mencari alasan agar dirinya tidak berada disini.
Kenyataannya, memang ada yang harus dikerjakan oleh Niko dan bersifat urgent mengenai Artha grup. Bukan bermaksud lepas dari tanggung jawab karena tidak ikut dengan Niko, Rianti juga diam-diam sedang intervensi masalah pekerjaan.
Niko yang masih diam terus melangkahkan kaki tanpa berpamitan dengan Rianti. Tidak biasanya Niko mendapat perlakuan tak mengenakan dari Rianti sampai harus terbawa perasaan. Bisa jadi selama ini Niko telah ada rasa memiliki hingga merasa kecewa, atau mungkin sebenarnya dia lagi lelah saja.
"Kak"
"Hem"
"Sebentar"
Rianti memakaikan jam tangan pada Niko agar penampilannya maksimal. Seperti biasa Rianti lah yang selalu memperhatikan dan bertanggung jawab atas penampilan Presdir Artha grup.
"Udah selesai kan?" tanya Niko tanpa memandang.
__ADS_1
"Kak, kamu marah? kalau iya, aku harus apa? dan kalau kakak marahnya sudah hilang, bilang aku ya. Soalnya ada yang mau aku bicarakan setelah ini."
Niko menggretakan gigi, gemas dengan kelakuan Rianti yang mengganggu kredibilitas orang sedang marah.
"Iya"
Niko dan Rion menghilang di kejauhan. Pada kesempatan itu, Rianti segera menghubungi Willy orang kepercayaan Niko untuk memasuki area terlarang Manggala.
Rianti tahu, ini bukan cara yang terbaik. tapi dia tidak punya pilihan lain. Hanya inilah satu-satunya cara agar Manggala menjadi bagian dari Artha grup tanpa harus berada di bisnis yang tidak baik.
Notif ponselnya menyala.
Rianti tidak dapat menahan tawa melihat percakapan antara Niko dan Willy yang masuk ke ponsel. Isinya pun tidak heran lagi jika Willy begitu setia dengan Niko.
Tidak berselang lama, Willy datang menemui Rianti dengan banyak ancaman dari Niko.
Jangan terlalu dekat
Jangan banyak berinteraksi
Jangan lihat senyumannya
Jangan lihat matanya.
Kata 'jangan' untuk syarat selalu diingat Willy, membuatnya ngeri mengingat dulu dia hampir terbunuh amarah Niko.
__ADS_1
jangan lihat mata, jangan lihat senyum, yaudah gua lihat jempol kakinya aja ya bos. Willy bergumam sendiri setelah sudah siap pergi bersama Rianti.
"Willy, adik saya ikut bersama kita. Biar kita tidak berdua saja."
"Iya nona"
..........
Semua mata tertuju pada kedatangan Rianti beserta adiknya. Terlihat asing bagi segelintir pengikut setia Manggala yang sedang lembur. Namun ketika melihat ada Willy di sisinya, mereka merasa lega. Sebab dimana ada Willy disitu pasti sudah ada referensi Niko. Walaupun bos besarnya itu sedang tidak ada.
Bos Niko, bos besar yang merangkap dua kepemimpinan sekaligus.
Kali ini, wanita yang sedang berdampingan dengan Willy bersikap ramah, layaknya pemimpin bijaksana. Sangat berbeda dengan Niko yang amat angkuh dan pemarah.
Dengan gerakan tangan cukup mengisyaratkan agar mereka memberi hormat pada calon istri bos besar.
"Selamat datang nona muda." serempak mereka memberi sambutan.
.
.
.
Bersambung ..
__ADS_1