
"hai Rianti apa kabar?" Marcel mencuri kesempatan ditengah satria sibuk menggendong dion.
satria yang mendengar itu langsung menaruh Dion kembali pada Rianti. belum sempat Rianti menjawab pertanyaan Marcel.
"cel, aku ingin kamu benarkan hasil scan dokumen ini. miring ini seperti otakmu." satria mencari cara.
Marcel mendengus kesal, ke ia lantas mengambil ponselnya dan berbicara pada seseorang disana agar melakukan tugas yang di perintah satria.
"jangan nyuruh orang lain, kamu yang kerjakan sana." satria sengaja, ia sebenarnya ingin Marcel menjauh dari sini.
"baiklah tuan mudaku yang sangat menyebalkan." Marcel berlalu menutup pintu. Rianti dan Dion kini asyik bermain di sofa, dengan telaten Rianti mengganti baju Dion yang memang belum ganti dari rumah.
Rianti terburu buru datang ke kantor. ia ingin segera pergi dari rumah. karena ia mendengar, Niko akan datang sore ini bukan sekedar berkunjung tapi menetap selamanya. akal sehat nya tidak bisa membayangkan itu, Rianti begidik ngeri. bagaimana ia harus menyampaikan kenyataan ini pada suaminya.
satria yang melihat pemandangan di depannya seperti mendapat energi baru. penyemangat hidupnya kini ada di depan mata. dia tidak tahu kalau sedang ada masalah besar di rumah. tuan dan nyonya besar masih belum bicara padanya.
ketika Dion sudah di ambil alih oleh pelayan yang ikut dengannya, Rianti mendekati satria. sorot matanya ingin bicara serius.
"sayang, aku boleh minta sesuatu?"
"minta apa sayang? uangmu habis? ya sudah aku kirim sekarang."
"sayang hentikan." Rianti menepis tangan satria yang sudah memegang ponsel.
"bukan itu" Rianti menggeleng cepat.
"aku ingin kita pindah ke rumah kamu yang disiapkan untuk kita."
deg.. satria terkejut.
"kamu kenapa? berantem sama mamah?." tapi setelah di cerna, pertanyaan satria sangat tidak mungkin. ia tahu sendiri bagaimana hubungan Rianti dengan orang tuanya.
"tidak sayang, aku hanya ingin menempati rumah yang sudah kamu siapkan untuk keluarga kecil kita." memeluk suaminya dengan erat. seperti biasa, Rianti selalu nyaman saat mendengar detakan jantung satria.
satria membalas pelukan itu.
"yasudah, lusa kita akan pindah kesana. aku akan bicara pada papah dan mamah."
"terimakasih sayang."
.........
__ADS_1
Susana di rumah utama.
Niko sudah menginjakan kaki di rumah yang bahkan ia tak bermimpi untuk menjadi penghuni rumah ini. langkah nya terdengar jelas mengintimidasi, senyumannya setiap langkah makin meninggi seperti bangunan Rumah utama yang megah menjulang tinggi dengan design indoor dan outdoor yang modern, kokoh dan memanjakan mata. sangat bagus untuk jiwa perfeksionis.
sorot matanya terus mencari dimana keberadaan Rianti. karena tujuan Niko kemari adalah untuk bisa berdekatan setiap hari dengan wanita yang dicintainya. ia disambut oleh tuan dan nyonya besar. pelukan hangat nyonya besar langsung mendarat di tubuhnya.
Niko diam terpaku, tidak membalas pelukan itu. tangannya masih rapi menjuntai belum ada pergerakan respon untuk meraih tubuh ibu kandungnya. hatinya masih beku.
"dimana kamar untuk saya?"
deg.. hati nyonya besar berdesir mendengar kalimat yang dilontarkan Niko barusan. kosa katanya tersirat bahwa ia menjaga jarak.
"Niko.." terbata nyonya besar menatap dalam pandangan mata anak sulungnya yang telah lama menghilang, yang tak pernah mendapat kasih sayangya, dan yang selama ini menyakiti satria.
Niko hanya terdiam, tuan besar menyentuh pundak istrinya dan memberi isyarat agar membiarkan Niko terlebih dahulu. nyonya besar mengalah, dan mundur dari hadapan anaknya.
tuan dan nyonya besar menuntun Niko menuju kamar, mereka pun masih tak percaya bahwa Niko yang selalu membuat onar dan keluarganya menderita akan tinggal di rumah utama. akan apa jadinya nanti, terlebih satria belum mengetahui akan hal ini. semoga ada keajaiban.
setelah sampai pada tempat tujuan, Niko menutup pintu dengan keras. sekeras hatinya yang belum bisa menerima akan pahitnya hidup ia semasa kecil. sebagai manusia biasa Niko pun sudah ingin menangis.
"gila, gua masih ga percaya kalau bocah lemah itu ternyata adik gua sendiri. drama macam apa ini. sangat bikin muak."
Niko menatap dirinya di cermin. setelah selesai dengan umpatannya, ia memikirkan cara bagaimana hidup di rumah utama yang sangat ketat peraturan. Niko dan satria adalah dua kepribadian yang sangat berbanding terbalik. tapi mereka memiliki satu kesamaan, yaitu sama sama mencintai Rianti.
Niko mendesah kesal, kalau bukan karena Rianti ia tidak Sudi tinggal di rumah Utama. sekilas wajah manis Rianti melintas di benak yang membuat ia terus melangkah. tak apa lah soal peraturan, karena baginya peraturan di rumah ini hanya untuk di langgar.
beda hal dengan kepemimpinan di Manggala corp, siapa saja yang melanggar peraturan dan perintahnya akan menanggung konsekuensi yang tak pernah di bayangkan.
.........
malam telah tiba.
mobil berdecit tanda sudah sampai rumah. satria sudah memegang handle pintu mobil namun dicegah oleh Rianti.
"kenapa? ada apa sayang?" satria heran kenapa Rianti berbuat demikian. gelagat aneh sudah di tunjukan oleh Rianti sejak tadi siang. satria pun menyadari.
"sayang tolong gendong Dion sampai kamar ya, aku pegal sekali. kamu tidak apa apa kan?" Rianti memohon.
"tentu saja, sini anak papah yang pintar." satria meraih Dion dalam dekapannya.
aku tidak tahu bagaimana jika mereka bertemu nanti di dalam. apalagi satria belum tahu akan hal ini. semoga keberadaan Dion di pelukannya bisa meredam amarah dan penguat hati suamiku.
__ADS_1
satria melangkah dengan hati riang. mengusap kepala Dion yang sedang terlelap dengan penuh kasih sayang dan do'a sebagai orang tua yang selalu ingin terbaik untuk anaknya. Dion menggeliat dan semakin dalam dalam pelukan hangat papahnya.
"selamat malam adikku tersayang"
satria menoleh, kaget bukan main dengan apa yang dilihatnya. hampir saja tubuhnya limbung.
"kau !! kenapa ada disini? harusnya kau membusuk di penjara!" teriakannya menggema. Dion yang sedang dipelukannya mengerjap ia lantas mengusapnya kembali hingga terlelap.
"wiiis santai. ngomongnya pelan aja kasian keponakan gua itu." nadanya mengejek. " hai Rianti.." sambungnya lagi hingga membuat satria geram. Rianti membuang muka tak mau menanggapi ocehan kakak iparnya tersebut.
beruntunglah
nyonya dan tuan besar tiba, mereka meraih satria untuk menjelaskan apa yang dilihatnya ini.
"sayang,, maafin mamah nak."
"mah, apa maksudnya ini?" nafasnya sudah memburu
"pah kenapa diam." lanjut satria dengan air muka yang penuh keputus asa an. matanya memerah mengecohkan antara marah, kecewa atau sedang menangis tak berair.
Dion yang sedang dalam dekapan ayahnya membuka mata terbangun dari alam mimpi. wajahnya melambai sebentar lagi akan menangis. satria yang menyadari itu langsung menenangkan dan membawa pergi dari situasi gila ini. sebab ia tak sanggup jika harus mendengar tangisan sedih Dion.
Rianti hanya diam mengikuti tidak bicara sepatah kata pun. ia sedang merasakan hatinya yang tersayat. ingin sekali ia meraih Dion sekaligus suaminya yang perasaannya sudah di pastikan hancur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.bersambung...