Cinta Sejati

Cinta Sejati
Bermain


__ADS_3

Pertemuan privat antara kakak beradik berlangsung dengan lancar, namanya juga privat, isi obrolan tak bisa di deskripsikan saat ini.


Niko pertama yang keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang sulit ditebak bukan sedang marah, sedih ataupun gembira. Disusul kemunculan Satria di belakangnya yang berbanding terbalik, ia tersenyum merekah bagai bunga di taman.


Rianti menyambut suami, dia tidak penasaran dengan isi pembicaraannya. Pasti tentang keinginan Niko yang ingin selalu dekat dengan Dion.


Hal ini memang terdengar sepele dan merupakan permintaan kecil, namun kemungkinan terburuk dari hal ini adalah Dion akan lebih dekat dengan Niko di banding Satria ayah kandungnya sendiri.


Satria sudah memikirkan matang tentang permintaan Niko. Dia pun mengiyakan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.


Namun, melihat ekspresi mereka saat selesai berdiskusi dengan tidak sesuai harapan, patut di curigai bukan.


"Sayang harusnya Niko senang mendapat apa yang dia mau. Tapi kenapa wajahnya seperti itu? kamu punya rencana lain?" tanya Rianti heran.


"Tidak sayang. Aku menyetujui permintaannya. Kalau masalah apa yang dirasakan olehnya aku juga tidak tahu." Satria mengangkat bahu seolah tidak tahu apa yang telah terjadi.


"Kamu mengancamnya? wajahmu gembira sekali."


"Haha istriku ini, kamu kan belum makan siang lantas kamu dapat energi darimana sampai banyak bicara seperti ini?"


"Mulut tugasnya ada dua macam sayang, untuk makan dan untuk berbicara. Jika sekarang di depanku tidak ada makanan maka aku berbicara saja."


"Seperti itu, kalau mulut yang kedua tugas nya apa?"


eh


"Hei, aku bertanya padamu" Satria dalam hati cekikikan.


"Aku cuma punya satu mulut sayang" wajah Rianti sudah merona tentu saja dia tahu apa yang dimaksud suaminya.


"Makan siang sudah siap, ayo kita makan siang saja sayang."


"Pintar ya, tidak bisa menjawab malah mengalihkan pembicaraan. Benar katamu kalau sudah tidak bisa menjawab lagi maka tugasnya akan berubah menjadi makan."


"Hehehe"

__ADS_1


Hari ini bukanlah hari libur, mereka sengaja tak pergi ke kantor meluangkan waktu untuk rapat keluarga internal yang memang harus di bahas.


.........


Obrolan di meja makan.


Walaupun saat makan tak boleh mengobrol, tetap saja ada yang nyeletuk mencari tema yang ujung-ujungnya jadi berbincang.


"Papah mau kita sekeluarga berlibur ke negara kelahiran papah, sekaligus memperkenalkan Niko kepada nenek" tuan besar berujar.


"Kapan pah?" timpal nyonya besar.


"Besok, lebih cepat lebih baik bukan. Bagaimana dengan Niko dan Satria, kalian pasti setuju kan?"


"Terserah, aku ikut aja." jawab Niko.


"Gimana dengan kamu Sat?"


"Setuju saja, memang aku dan Rianti butuh liburan. Dan juga bisa berbulan madu disana membuat adik untuk Dion."


"Hehehe" nyonya besar terkekeh.


"Lebay lu, cuma pengen bikin anak sampai ke luar negeri." Niko ketus.


"Hei nak, panggilan mu itu.." nyonya besar menegur Niko.


Rianti ingin sekali membungkam mulut suaminya itu, tapi malah dia yang tersedak makanan.


"Pelan-pelan sayang, nih minum."


"Kak Niko ini santai saja, aku hanya bercanda."


"Beneran juga gapapa, kalian kan suami istri. Dan Dion akan selalu bersamaku." Jawab niko nyelekit. Anehnya Satria hanya tersenyum tipis tak ada gurat marah sedikit pun.


"Sudah...sudah.. dilarang mengobrol saat makan." Tuan besar menyudahi padahal dia sendiri yang membukanya.

__ADS_1


Makan siang sudah selesai, para anggota keluarga mulai memasuki kamar masing- masing. Di tengah perjalanan, Satria yang sedang bergandeng tangan dengan Rianti di cegat Niko yang langsung merangkul adiknya.


"Rianti, bentar ya aku pinjam Satria dulu."


"Mau apa?" sanggah Satria.


"Cuma pengen ngobrol doang, ayolah sebentar saja de, nurut kenapa sih sama kakak." Niko geli dengan kalimat yang terlontar barusan. Belum terbiasa.


Cih


"Ayo"


"Sayang aku tinggal dulu sebentar."


"Iya sayang."


Niko masih merangkul Satria sampai tempat tujuan, disana, teronggok sebuah papan catur beserta minuman yang menemani.


"Eh Sat, gua cuma pengen akrab aja. Gak ada aku dan kamu adanya gua sama lu. Gua cuma pengen main sama adik gua sendiri. Sudah lama gua dilanda kesendirian tanpa kerabat. Jadi mau gak mau lu harus temenin gua main catur."


ya ampun Niko, hidupmu menyedihkan sekali


"Kalau bermain catur pasti kamu yang menang kak. Yang jago catur hanya Rianti."


"Terus kamu jadi orang jagonya apa?"


"Kalau main PS aku pastikan kakak akan kalah."


"Dasar bocah !"


"Apa pria tua Bangka!"


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2