
Suasana semakin panas bukan karena hanya pernyataan Rianti saja, tapi sinar matahari pun mulai menampakan cahayanya. Semakin meninggi semakin panas atmosfer yang di rasakan.
"Rianti, apakah kamu menilaiku seperti itu hingga kekuranganku kau jadikan kesempatan?" kekecewaan Satria menciptakan suasana menjadi genting.
"Maafkan aku, aku hanya berusaha jujur awalnya memang seperti itu." Rianti semakin menundukan kepala. tidak berdalih, tidak mencari pembelaan diri karena sejatinya jujur itu lebih baik walau menyakitkan. ia tidak mau melihat gurat kecewa dari wajah orang yang sangat dicintainya itu.
"lalu jika itu awal bagaimana dengan hari ini?" tanya satria lagi
"seiring berjalannya waktu, aku semakin tidak mengerti aku mencintaimu karena apa. yang aku rasakan hatiku sakit jika melihat kamu menderita dan gembira melihat kamu tersenyum." lirih
Satria meraih dagu Rianti, mendongakkan ke atas agar tatapan mereka bertemu. satria tersenyum lantas memeluk erat tubuh istrinya.
"Terimakasih kamu sudah memberikan cinta itu padaku. Aku juga sangat mencintaimu Rianti aku beruntung bisa memilikimu seutuhnya." Di lanjut dengan kecupan kening.
Tuan dan nyonya besar undur diri, meninggalkan tempat yang dirasakan nya sangat membuat gerah.
"Mah, sebaiknya kita ke dalam. Sepertinya ada bau konspirasi disini." Bisik tuan besar.
"Kita sepemikiran pah" sahut istrinya.
Orang tua ini seperti tahu kondisi yang sebenarnya. Kemampuan mereka menebak situasi sangat tidak di ragukan.
Lain hal dengan Niko, ia sangat terpukul apa yang dilihatnya. Rencana membuat Satria dan Rianti bertengkar berujung dengan buah manis yang sangat mempererat. Senjata pupus sudah yang sudah di rencanakannya secara matang menyeluruh, namun tidak disangka rencana itu seperti buah yang gagal masak, ada matang ada membusuk.
sial, kenapa jadi begini si.
Flashback
Suasana malam di sebuah kamar.
"Sayang, aku mau bicara padamu." Satria menatap lekat Rianti.
"Bicara apa?"
Satria mendekati telinga Rianti lalu membisikan sebuah kalimat yang bisa menghilangkan rasa geli seketika. Peluh Rianti bercucuran, bibirnya gemetar dengan hati bergejolak.
"Kenapa? wajahmu sangat mencemaskan." Satria mencerca.
__ADS_1
"Ehmm, aku siap menerima konsekuensi jika kamu tidak terima masalah ini. Tapi aku mohon jangan pisahkan aku dengan Dion." Air mata sudah membendung di pelupuk.
Satria tergelak melihat betapa lucunya tingkah istrinya itu.
"Jangan berlebihan, siapa yang mau memisahkanmu dengan putra kita. Rianti, aku tidak masalah dengan alasanmu itu yang terpenting kau sudah menjadi miliku kan."
"Jika kau sampai hari inipun belum bisa cinta sama aku. Aku masih terus memaksamu Rianti hahaha jadi tidak perlu merasa bersalah."
aneh sekali.
"Kamu tidak takut aku manfaatkan?" tanya Rianti menyelidik.
"Aku tidak perduli, yang penting cintaku tulus padamu dan memastikan bahwa kau terus di sampingku." Satria menjelaskan sambil tersenyum.
"Aku ada rencana, aku ingin kita bersandiwara." Ucap Satria lagi
"Apa itu?
Satria membisikan rencana tersebut, ia takut jika ada orang lain mendengarnya. Padahal mereka sedang berada di kamar yang sangat privat. Mungkin rahasianya besar jadi tidak bisa untuk menyepelekan hal-hal kecil.
"Bucaralah dan kendurkan pelukanmu sayang, aku sulit untuk bernafas."
"Apa yang kamu bilang memang lah benar. tapi itu dulu.." Lirih Rianti berucap dengan dada bergemuruh.
"Sekarang?"
"Sekarang aku bahkan sudah melahirkan anakmu." Dengan tertawa kecil Rianti menggoda Satria.
"Jawaban macam apa itu."
"Hahaha, yasudah aku serius. Aku sekarang bahkan tidak bisa melihatmu menderita, tidak bisa berfikir dengan benar jika kamu terluka, dan tidak bisa menahan diri jika kamu terus merintih. aku saat ini entah mengapa sangat takut kehilanganmu."
"Walaupun kamu sudah mengantongi separuh hartaku kamu tetap takut kehilanganku?"
"Aku lebih memilih kehilangan harta yang kamu beri, bisa jadi aku kasih pada kakak tercintamu. dibanding aku harus kehilanganmu."
"Satu hal lagi, aku tidak mau ada yang disembunyikan lagi. aku akan jujur akan sesuatu." tambah Rianti lagi
__ADS_1
"Sebenarnya sebelum Ren pergi dan mendonorkan hatinya padamu, ia mengungkapkan perasaannya padaku."
Satria terdiam, mencerna setiap kalimat yang di lontarkan Rianti. Hatinya tak tahu harus cemburu dan menampik semua ini, tapi bagaimanapun hati yang sedang digunakan adalah hati milik Ren.
Satria memegangi bagian bekas operasinya yang mengkerut, meringis sedikit menahan rasa sakit. Sepertinya kesibukannya dengan pekerjaan dan rencana untuk mengerjai Niko melalaikan kondisi kesehatan nya. Atau mungkin pernyataan Rianti lah yang membuat sakit.
Satria terlihat murung.
"Sayang" Rianti memeluk dari belakang mengusap bagian yang tadi dipegang Satria.
"Maaf" lirih Rianti.
"Kenapa kamu harus meminta maaf?"
"Karena aku baru cerita sekarang."
"Sudahlah, aku mau istirahat. Kau juga perlu istirahat bukankah di goda seorang Niko cukup melelahkan?" Satria tersenyum mengejek dan Rianti pun terperangah olehnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1