
"Aku manusia, jadi aku tidak bisa menjadi pasangan mu? Baik. Selesai sampai disini. Maaf aku pernah mencoba membunuhku. Semoga kau bahagia dalam kehidupanmu selanjutnya."
Jamie mendorong kursinya menjauhi meja. Damian mengaitkan pergelangan kakinya kek kaki kursi wanita itu. Jamie mengamati otot paha pria itu menegang dibalik celana denim pudar sewaktu Damian menarik kursinya mendekat. Kekuatan sebesar itu.... Jamie gemetar, mengingat kaki pria itu mendekat kakinya, bulu halus pria itu mengelus kulitnya saat Damian menghujam kedalam dirinya.
Tatapan Jamie yang terkejut beradu dengan mata Damian. Pria itu tersenyum mengerti. Guratan halus nampak disudut matanya. Damian mengusap tangan ya, dahinya berkerut.
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu, bahkan saat kita bersentuhan. Katakan, bagaimana Kane menularimu? Apakah ia mengucapkan sesuatu?"
Jamie menunduk, perutnya melilit. " Kane mengigitku. Seperti gigitan Loup garou. Dan ia membisikan beberapa kata dalam bahasa asing."
Peristiwa itu sangat menyakitkan. Dan melebihi rasa sakit dan kebahagiaan setelah mengetahui bahwa ia akhirnya berhasil memiliki kekuatan adalah kejahatan yang ada dibaliknya. Jamie menggigil saat mengingatkannya.
" Ia merapalkan mantra. Magick dari keturunan Alpha murni mungkin bisa membantu." Damian menatapnya tegas."Magick-ku Jamie."
"Jadi, Kalau kau mengigitku, gigitan itu bisa membalikkan apapun yang mengalir didalam tubuhku? Tidak terimakasih. Satu gigitan sudah cukup buruk."
"Ada cara lain," ujar Damian lembut."Jauh lebih menyenangkan. Aku bisa membuatnya sangat menyenangkan.
Maksud perkataannya tercermin jelas dari balik pandangannya yang penuh gairah. Jamie memundurkan tubuh.
"Tidak lagi. Aku takkan bercinta denganku. Apa yang kita miliki hanya seks. Biologi." Wanita itu takut melihat kearah Damian, kalau-kalau ia melihat pancaran gairah tersembunyi dalam dirinya.
"Sampai kapan pun diantara kita takkan pernah hanya sekedar seks, sayang. Kau tahu itu, begitu juga aku. Itu sesuatu yang tidak bisa kita abaikan. Tapi aku janji takkan pernah meninggalkanmu lagi."
Damian mengeluh punggung tangan Jamie dengan ibu jarinya. "Seperti apa rasanya, Jamie? Saat kegelapan memenuhi dirimu?"
Bertentangan dengan akal sehatnya, Jamie menyelipkan jemarinya ke tangan Damian.Damian terperanjat. Senyumannya menghalau bayangan itu menghilang. Jamie memandangnya, melihat keheranan dan kekhawatirannya.
Damian mungkin tidak pernah merasakan kesedihan mendalam, ketakutan maupun keputusan akibat kehilangan semua yang dikasihinya. Tak bisa memikirkan apapun, bahkan pemikiran jahat seklipun, terasa sama buruknya. Kemudian mengetahui bahwa yang terjadi sebelumnya hanya sekedar putaran komedi putar bila dibandingkan dengan luncuran roket kedalam kepekatan yang mendalam, yang membuat jiwa Jamie tampak seperti cahaya kecil yang berpendar diruang hampa.
__ADS_1
Suara Jamie terdengar pawai saat berbicara.
"Rasanya seperti terisap ke dalam lubang hitam, merasakan kejahatan memenuhi setiap sel tubuhmu. Terperangkap dalam pasir isap yang keji. Tidak ada cahaya, harapan, ataupun jalan keluar yang ada hanya suara teriakanmu yang bergema kembali ke arahmu," bisiknya.
Damian *** tangan Jamie, rahangnya menegang. Sesaat kegusaran tampak dimatanya seakan Damian pernah mengalami kegelapan yang sama.Kemudian sinar itu sirna.
"Ada lagi yang Anda inginkan?"
Pelayan mereka yang galak kembali. Ia terlihat tidak tenang dan resah. Mungkin ini shift terakhirnya.
"Hallo? Seperti yang kukatakan, ada lagi yang Anda butuhkan?"
Damian hanya memandangnya sepintas. "Berikan bonnya dantinggalkan kami sendiri."
Wanita itu meletakkan secarik kertas. saat pelayan itu melihat tautan tangan mereka, mulutnya membentuk ketidak setujuan. Bibirnya terbuka, memperlihatkan....
Gigi kekuningan setajam silet, seperti gigi buaya.
Ada apa ini?
Jamie gemetar, melepaskan tangannya, berusaha menutupi reaksinya. Ia merogoh kantongnya dan meletakkan uang dimeja.
"Kutraktir. Sudah larut. Aku harus pulang."Tapi kakinya terasa goyah. "Mengapa aku merasa lemah begini?" Jamie berkata, menggosok-gosok kakinya.
"Aku tahu alasannya."Damian memandang keliling lalu meraih tangannya. Sentuhan pria itu terasa lebih lembut. Jamie, ini sangat buruk. Saat Kane mengigitmu, ia meracunimu."
Rasa tidak percaya melandanya. Mata hijau Damian terlihat begitu serius, mulutnya mengetat." Ia menginfeksimu dengan gigitannya dan mantra porfiri.
Semakin sering kau menggunakan Magick hitam, semakin cepat mantra itu bekerja. Alasan kau merasa lemas adalah..."
__ADS_1
Damian menarik napas dalam."Tubuhmu sedang berubah menjadi batu. Gejala pertamanya adalah kecanduanmu terhadap gula. Kau memakannya demi mendapatkan energi instan tapi itu takkan bertahan."
Keheningan mencekam merasuk diantara mereka. Hanya terdengar kerumunan orang berbicara dengan riuh, piring porselen berdenting suara tapak kaki kuda menapaki jalan dan keramaian lalu lintas. kemudian Jamie tertawa.
"Mark bilang kau pembohong tapi ia tidak pernah mengatakan Draicon pembual besar."
Kemarahan mengaburkan pandangan Damian."kakakmu itu pembohong mungil. Pembohong yang berbahaya. Aku tahu kau pasti sangat menderita dan ketakutan saat kehilangan dia.... dan itu sebabnya kau lari."
Kau yang membunuhnya, ingin sekali Jamie berteriak tapi ia malah mengigit bibirnya menelusurkan jemarinya pada pola yang terbentuk pada tebaran gula diatas meja." Apa kau tahu bagaimana ia meninggal?"
"Aku tahu bagaimana ia meninggal.Ia bukan orang yang kau kita selama ini, Jamie. Bila kau sudah siap, aku akan mengatakan padamu apa yang kuketahui. Aku tahu betapa sakit rasanya kehilangan anggota keluarga."
"Kau tidak tahu bagaimana rasanya,"Jamie mendesah.
Seberkas bayangan melintas wajahnya."Aku tahu, lebih dari yang kausadari."Sepasang mata hijau Damian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang . Rahangnya menegang. "Kita harus pergi. Sekarang. Aku merasakannya. Kau tidak aman disini. Kau harus pulang dan beristirahat."
Istirahat. Gagasan itu tampak menyenangkan. Jamie berdiri. Kegelisahan menerpa saat Damian bergabung bersamanya.
"Aku ikut denganmu. Anggap saja aku tamumu." Damian tersenyum jail penuh janji nakal. Seprai lembut yang sejuk panas tubuh mereka menempel satu sama lain saat mereka bersatu dalam gairah.....
Hentikan! Jamie berlari menjauh namun Damian dengan mudah menyamai langkahnya.
"Ap kau tidak mampu membayarnya ada penampung hewan disekitar sini. Mereka menampung binatang liar," seru Jamie kesal.
Manusia serigala setinggi 182 sentimeter itu menatapnya memaksa Jamie mengerjap dan mengalihkan pandangan."Kau pasangan ku Jamie. Kawananku. Dan kawanan bepergian bersam-sama. Itu cara agar kita selamat. Aku tidak akan meninggalkanmu jadi biasakanlah menerima kehadiranku demi kebaikan."
Damian memegang sikunya satu gerakan kuno yang menunjukkan kesopanan namun memiliki tujuan lain yang lebih besar. Ia terperangkap menjadi tawanan pria itu. Karena terlalu lelah untuk bertengkar Jamie berjalan mengikutinya. Saat mereka melintas Jackson Square mendekati katerdal, Damian sekonyong-konyong berhenti. Senyuman bengis terukir di bibirnya.
"Ah, aku melihat seorang teman lama. Tunggu disini," perintahnya, menuntun Jamie ke bangku taman. Bersyukur atas selaan itu, Jamie pun duduk. Ia merasa tertarik saat mengamati Draicon itu masuk melewati pintu tempat Damian menciumnya tadi. Pintu itu terbuka. Aneh, karena gedung itu kosong dan...
__ADS_1
Masa bodoh. Jamie tidak menerima perintah. Didalam debu dan puing-puing memenuhi ruang kosong tersebut. Damian berdiri jauh diujung, memerangkap pria tua bertubuh pendek yang mengenakan celana khakidan kemeja lengan pendek kotak-kotak. Jamie mengenalinya. Pria itu pedagang yang terkadang menggelar dagangannya dijalan dekat Cafe du Monde, penjual udang laut segar yang menghilang sebelum polisi sempat mengusirnya atau bertanya mengenai surat izinnya.