
Pagi yang begitu cerah.Aku terduduk sambil mengumpulkan serpihan nyawa yang masih melanglang buana dengan ingatan semalam.
gila!
semalam benar-benar gila
apa yang sudah kulakukan?
kami bercinta?
aku sungguh menginginkannya tapi bukankah seharusnya aku menahan diri?
aaaarrrh!
Kulirik pria yang berbaring di sampingku. Matanya masih terpejam. Wajahnya saat tertidur sangatlah lembut. Garis mata yang tegas dengan tatapan mata elang itu selalu tidak bisa kulawan. Bibirnya...
"apa sudah puas melihatku?" gumam Hiro
aku segera berpaling dan bersiap untuk turun dari ranjang. Tapi tangan Hiro ternyata lebih cepat menarikku kedalam selimut.
"apa yang kamu lakukan? ini sudah pagi" protesku
"aku masih ingin memakanmu" jawabnya
"apa?!"
"aku mau sarapan lebih awal"
Dan...Hiro mulai bergerilya dibalik selimut. Menjelajah tiap inci area favoritnya. Membuatku akhirnya mengeluarkan suara yang sekuat tenaga kutahan.
"Hiro..." panggilku lirih
"bilang kalau kamu mencintaiku" perintahnya
"mmmm..aku...aku mencintaimu"
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Aku benar-benar menuruti setiap ucapan Hiro tanpa protes.
Kami berolah raga pagi dengan penuh semangat. Bahkan tidak kalah dengan tadi malam.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat dikeningku. Aku masih bersembunyi dibalik selimut.
"mau mandi bareng?" bisik Hiro
"tidak" jawabku segera sadar
"kenapa tidak?"
"aku tau endingnya akan seperti apa"
Hiro menyeringai. Meraih wajah bantalku dan kembali mengecup lembut bibirku.
"aku mandi dulu" ucap Hiro
"apa kamu bawa baju ganti?"
"tidak. bukankah istri cantikku akan menemaniku membelinya"
"aku tidak punya pilihan"
"kata siapa kamu tidak punya pilihan?"
"maksudmu?"
"aku bisa seharian penuh tanpa busana seperti ini"
"Hiro!!!"
.
.
.
Disebuah pusat perbelanjaan. Aku memilih beberapa kaos dan celana pendek untuk Hiro.
"kenapa membeli begitu banyak?" tanya Hiro
"berjaga-jaga" jawabku spontan
"kamu berharap aku menginap setiap malam?"
"eh?"
Demi menghindari topik pembinaan yang semakin tidak terkendali. Aku berpindah menuju pakaian wanita. Mengalihkan perhatianku ke beberapa helai pakaian yang sesuai seleraku.
"ini bagus" celetuk Hiro sambil menunjukkan sepasang lingerie super minim
"Hiro" pekikku tergesa menariknya menjauh dari benda itu
"ada apa?" tanyanya bingung
"singkirkan pikiran kotormu"
"itu bukan pikiran kotor. itu normal"
__ADS_1
"Hiro cukup"
"aku pikir kamu mengejarku"
"apa harus berpakaian seperti itu?"
"aku menyukainya"
"terserah kamu!"
"aku suka eskpresimu saat memohon padaku"
"Hirrroooo! aku kesal sama kamu"
"eeh kenapa tiba-tiba kesal?"
"apa seperti ini kamu memperlakukan wanita. kamu suka wanita penggoda seperti itu? memelukmu di depan umum sembarangan?"
"tunggu. kamu marah padaku"
"kamu sebenarnya bodoh atau apa sih"
"kamu cemburu? padaku? kapan aku memperlakukan wanita begitu istimewa melebihi dirimu?"
"laki-laki memang semua sama"
"apa maksudmu? jelaskan! wanita mana? kapan?"
"hari itu. kalau sudah tidak ingat ya sudah lupakan saja"
"tunggu. lihat mataku"
Hiro menangkup wajahku. Mengunci manik mataku hingga kami saling beradu pandang.Wajahnya mendekat. Sedetik kemudian bibir kami sudah menyatu. Sungguh aku tidak sanggup menolak. Pikiranku berkata tidak. Tapi reaksi tubuhku menghianatinya.
"kamu cemburu padaku?" tanyanya setelah aku tenang. Hanya kujawab dengan anggukan
"makanya kamu menjauh beberapa hari ini?" tanyanya dan kembali aku hanya mengangguk
"bodohnya aku" aku merutuki diri sendiri
Hiro memelukku. Menciumi puncak kepalaku.
" Hentikan Hiro.kita di tempat umum"
"kenapa memangnya? kamu wanitaku"
"jangan membuatku terlihat seperti wanita murahan"
"apa yang kamu katakan? kamu masih marah? katakan padaku wanita mana yang membuatmu marah"
"yang waktu itu di kantor. memelukmu"
"dan kamu tidak berusaha menepisnya"
"tunggu...maksudmu Wendy?"
jadi namanya Wendy? dan dia ingat!ooh ****!
Tiba-tiba Hiro tertawa keras. Bahkan sampai memegangi perutnya.
"tidak lucu" protesku
"tunggu! jadi kamu cemburu pada Wendy?"
"cukup Hiro. aku tidak mau jadi bahan leluconmu"
"baik baik aku akan berhenti"
Tampak Hiro mengatur nafasnya. Kemudian mengusap wajahnya beberapa kali.
*kamu bahkan takut aku tertarik pada Wendy?"
"terserah apa yang kamu pikirkan"
"itu jelas tidak mungkin. aku tidak mungkin main anggar dengannya"
"anggar? jangan mengalihkan pembicaraan Hiro"
"dengar sayang...kamu mau tau siapa Wendy?"
"aku sebenarnya sudah malas"
"dia itu Wendy. temanku si Wendi Hartoyo,putra keluarga Hartoyo"
bahkan dia adalah anggota keluarga Hartoyo
tunggu!
ada yang terlewat!
putra keluarga Hartoyo?
apa maksudnya?
"dia transgender" jawab Hiro begitu melihat wajah kebingunganku
"maksudmu?"
__ADS_1
"iya. kami sahabat sejak kecil. karena tekanan yang terlalu berat. ya jadinya seperti itu"
"kamu serius?"
"apa untungnya kalau aku berbohong"
"tapi dia begitu wanita"
"idenya untuk membuatmu cemburu dan ternyata berhasil"
"tunggu aku masih belum terima!"
"mau kukenalkan dengannya? dia sangat ingin bertemu denganmu sebelum kembali ke Inggris"
"apa?"
"dia penasaran seperti apa wanita yang membuatku tergila-gila"
"gombal"
.
.
.
Dan akhirnya sebuah makan malam di sebuah restoran western. Dengan penampilan yang disiapkan Hiro. Aku sudah duduk manis di sampingnya. Menunggu tamu spesial malam itu.
"hi Hiro" panggil seorang wanita bernama Wendy
"tidak usah basa basi" celetuk Hiro
"aish kenapa kamu begitu galak. bagaimana wanita bisa betah disampingmu"
"itu tidak ada hubungannya denganmu"
"cih...aku tidak mau berbicara denganmu. aku mau berkenalan dengan nona ini"
"ha. halo" sapaku tergagap. aku terlalu asyik menikmati adegan di hadapanku. wow
"kenapa? apa Hiro menindasmu sampai gagap?"
"tidak"
"lalu?" tanya Wendy dengan gaya anggun sambil merapikan posisi duduknya
"Anda sangat cantik" entah kenapa kata-kata itu meluncur
"sungguh?" tanya Wendy memastikan
"benar..bahkan aku merasa minder derhadapan dengan anda"
Wendy tergelak mendengar ucapanku.Sesaat kemudian dia sudah kembali serius. Kedua tangannya meraih tanganku. menggenggamnya dengan lembut.
"kalau suatu hari bocah ini menindasmu. beritahu aku. aku akan memberinya pelajaran" ucap Wendy setengah berbisik
"ya?" aku masih belum bisa fokus
"hei..kamu pikir dia lebih gemulai darimu Wen? jangan salah dia pawang yang disiapkan untukku" sela Hiro
"benarkah? syukurlah kalau begitu. oh ya nona...berikan ponselmu"
"untuk apa?"
"aku akan memberikan nomorku. ingat kalau sesuatu terjadi,hubungi aku"
"tapi,kenapa anda begitu baik padaku?"
"aku ini adalah bidadari penjaga yang diturunkan untuk melindungimu. jadi tugasmu hanya memanfaatkannya saja. paham?"
"ya"
.
.
.
Setelah acara makan malam dengan Wendy. Hiro mengajakku pulang. Lega rasanya kecurigaan ku selama ini tidak terbukti.
apa aku sungguh berlebihan?
apa laki-laki ini begitu bisa dipercaya?"
"kenapa bengong?" tiba-tiba Hiro menegurku yang terduduk di tepi ranjang
"eh.tidak" jawabku sekenanya
"jangan khawatir. aku tidak akan mengecewakanmu. percayalah"
"aku. aku akan mencoba mempercayaimu lebih sungguh-sungguh lagi"
"ini baru gadis baik"
Hiro mengecup puncak kepalaku kemudian berbaring begitu saja diatas ranjangku.
tunggu! kenapa adegan ini sangat familiar?
__ADS_1
"tidurlah..atau aku yang lain akan siaga"
Gleg