Cinta Sejati

Cinta Sejati
Lelah


__ADS_3

Dalam keheningan malam, semilir angin menerbangkan dedaunan kering. Membawa suara musik tetangga yang sedang berdendang sampai terdengar di telinga. Cukup dingin dibanding malam sebelumnya.


Ayah Rianti menyesap kopinya sambil membaca Koran usang yang didapatkan dari gudang tempatnya bekerja. Memang kebiasaannya seperti itu, membaca tanpa peduli beritanya lama atau terbaru.


"Bang lagi ngapain?" tanya Madih hanya sekedar basa-basi.


"Lagi mandi."


"Mandi darimana, orang Abang lagi baca koran lecek."


"Lah itu tau, ganggu aja lu."


Madih berlalu dengan kesal. Sebenarnya dia sedang bosan ingin ada teman mengobrol. Tapi apa daya, ayah Rianti sedang tidak bisa di ganggu, pengusiran lah yang ia dapat.


"Dih.." madih menengok tanpa menyahut.


"Ponakan lu belum balik udah malem begini."


"Mana saya tau bang, bagen apah bocah udah gede inih, masih aja di cariin."


"Eh walaupun bocah biar kata udah gede, tetep aja orang tua mah khawatir."


"Iya bang iya, terus saya kudu gimana?"


"Lu telpon, ada dimana"


*D*ih, aki aki ngeselin bangat. Padahal kan dia bisa.


"Tuh bocah nya nongol !" Madih menunjuk Emen yang memang baru pulang ke rumah dengan langkah gontai dan wajah kucel.


Setelah lulus kuliah, Emen mencari kerja kesana kemari. Dia tahu kakak iparnya memiliki banyak perusahaan. Tapi mandiri dan tidak merengek bantuan padanya, itu lebih baik begitulah cara pikirnya.


Rianti tidak tahu soal ini, bahkan Emen lulus kuliah pun dia tidak tahu. Kesibukannya dengan masalah Niko dan juga kondisinya sekarang membuat Rianti tidak tahu menahu soal kehidupan rumah di kampungnya.


Yang Rianti tahu, ayahnya di bius oleh orang suruhan Niko, dan juga ada serangan menjelang malam. Sudah itu saja, itu pun ayah Rianti yang mengabarkan.


Bukan mau menjadi kacang lupa kulitnya.


Keterbatasan sebagai manusia, yang membuat itu semua terjadi. Tidak ada niatan sebagai anak lupa akan darimana asal nya. Sama seperti cara pikirnya, jika keadaan akan membuat orang tua cemas dan sedih lebih baik jangan di beritahu kalau memang masih diatasi sendiri.


Begitupun dengan keluarganya.


"Dari mana lu Men?" Tanya ayah Rianti sambil menyodorkan tangan untuk di salami.


"Tadi abis tes wawancara kerja pak. Habis itu main ke rumah temen, nanya lowongan kerja lagi."


"Emang lu gak diterima?"


"Belum, tunggu info lagi pak."


"Yaudah sekarang lu mandi, abis itu makan."


"Iya pak".

__ADS_1


Setelah tenang anak bungsunya sudah pulang. Ayah Rianti melanjutkan hobi nya yang tidak biasa itu.


...........


Di rumah utama.


Rianti membersihkan diri setelah lelah dengan aktivitas seharian ini. Modenya pun sudah berubah, bukan sebagai sekretaris tapi sudah ke mode istri siaga.


Dia menyiapkan pakaian ganti untuk Satria, memilih baju mana yang akan di pakai sambil menunggu suaminya selesai mandi. Hal yang paling membuatnya senang adalah ketika Satria protes tidak mendapati baju mereka warnanya sama.


Satria muncul dengan aromanya yang segar dan senyumnya merekah. Dia senang sekali jika di rumah. Itu artinya dia bisa sepuasnya mengerjai Rianti.


*H*abislah kau..hahaha


"Rianti..." Satria memanggil sudah terisi energi jahilnya.


"Iya sayang, ini pakaiannya sudah aku siapkan."


"Apa?kau masih jadi sekretaris ku. enak saja panggilku seperti itu."


"Hah, bukannya sekarang kita di rumah. Jam kerja juga sudah selesai." jawab Rianti ragu.


"Ini jam lembur Rianti..kau tidak dengar perintahku tadi? Satria mulai goyah. kasihan.


Rianti semakin kebingungan, menggaruk pipi nya yang tidak gatal. Otaknya berpikir dia harus berkata apa dan melakukan apa.


"Maaf tuan, saya tidak tahu." dengan polosnya menundukan kepala.


Buuaahhaaahaaha. Satria tak tahan lagi. tawanya pecah.


"Sini sayang, aku hanya bergurau." menepuk ruang kosong di sofa.


"Iya sayang, tapi pakai dulu pakaianmu."


"Hemm baiklah."


Satria pergi menuju ruang ganti. Sedangkan Rianti melakukan apa yang di perintah suaminya untuk duduk di sofa. Entah karena apa Rianti merasa badannya lelah sekali.


Selang beberapa menit, Satria datang lagi menghampiri dengan pakaian tidurnya. mendapati Rianti yang setengah tertidur.


*K*asihan sekali.. aku jadi merasa bersalah.


Satria duduk disampingnya. Hentakan sofa membuat mata Rianti terjaga lagi. Tersenyum ke arah suaminya itu tapi tidak tahu harus bicara apa. Jika seseorang sudah mengantuk pastilah tidak ada daya untuk bicara sepatah kata pun.


Satria mengusap kepalanya, memerhatikan garis wajah istrinya yang semakin hari di matanya semakin cantik.


"Sayang, gimana kerjaanmu hari ini?" baru saja Rianti membuka mulut mau menjawab,


"Sudah tidak usah di jawab. Ayo kita istirahat kasihan kamu sudah lelah sekali.


Mereka pun berpindah ke tempat tidur. Meluruskan otot dan pikiran yang sudah lelah seharian ini. Rianti yang mendapat titik terang tentang perusahaan Manggala yang akan bekerja sama dengan Artha grup sangat menyita waktu dan tenaganya. Satria belum tahu akan hal ini.


"Selamat bobo sayangku, aku mencintaimu" Satria mengecup kening Rianti, yang punya keningnya pun sudah terlelap.

__ADS_1


Salah satu ponsel bergetar..


Ternyata ponsel yang dimiliki Satria. Dia mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa?"


"APA !"


Rasa kantuknya hilang mendengar kabar Niko berhasil melarikan diri.


"Bodoh, cepat kau bereskan semua kekacauan ini !" teriak Satria pada anak buahnya.


Wajahnya geram, tangannya mengepal. Bagaimana bisa pengorbanan Rianti hilang begitu saja, dengan info kaburnya Niko. ia merutuki dirinya sendiri.


Biasanya saat genting seperti ini, Rion lah orang yang pertama di hubungi. Tapi ini.. ya sudahlah. Hidup jangan terlalu bergantung pada manusia.


Mengadu pada Rianti pun tak mungkin.


Malam itu juga, dia mengerahkan seluruh anak buahnya. Semoga ada secercah harapan bisa menenangkan hati dengan kembalinya Niko ke dalam kurungan. Dia sesekali melirik ke wajah istrinya.


*S*ebaiknya aku tidak kasih tau dulu kabar ini. aku tidak mau lagi melibatkan Rianti pada masalah ini. biarlah aku yang menghadapinya sendiri."


"Sayang.." Rianti tiba-tiba terbangun dalam posisi terduduk. Matanya memerah.


Satria menoleh.


"Ada apa sayang? kau mimpi buruk?"


"Aku bermimpi kau belum minum obat. Setelah aku mengingatnya ternyata memang belum. Sebentar aku siapkan dulu." Bergegas mencari segelas air minum. Padahal bisa saja ia menelpon untuk di bawakan air putih.


"Sayang kembalilah ke tempat tidur. Katakan saja dimana kau menyimpan obat itu. Aku akan menelpon pelayan."


"Ini perintah Rianti." Penekanan kalimat karena masih saja melihat Rianti bersikukuh untuk melaksanakan kewajibannya.


"Aku ke kamar mandi dulu ya sayang." pamit Rianti.


Perutku sakit sekali.. tidak biasanya kram seperti ini. Ada-ada saja padahal aku mengantuk sekali. Huuaaa..


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


.

__ADS_1


.


Jangan lupa


__ADS_2