
"Siapa kau? apa hubungannya dengan istriku"
Satria menghardik dengan mata elangnya, tatapannya mengiris.
"Hahahaha" pria itu tertawa keras, menggema di sudut ruangan. Perawakannya tinggi tegap, wajah tampan, usianya pun masih muda hanya beberapa taun terpaut lebih tua dari Satria.
"gue mau istri lu, ceraikan dia !"
Satria kaget bukan main, seperti sengatan listrik atas kalimat yang baru saja dia dengar. Ingin sekali rasanya dia menghabisi lawannya tersebut. Tapi belum lama mereka fighting, Satria jatuh tersungkur. Dengan luka memar di wajah. Sungguh Niko bukanlah tandingannya.
Pengawal Artha grup berjatuhan, bukan karena tidak piawai bela diri, melainkan kalah jumlah dari anak buah Niko. Satria begitu meremehkan sang pengirim pesan itu. Sehingga dia minim persiapan keamanan.
Suasana semakin genting,
Braakkkk...
Sebuah papan yang melayang ke arah Satria berhasil di patahkan Rianti. Nafas memburu dengan pandangan mata menghardik sekilas menatap Satria yang sudah bersimbah darah.
langit seakan runtuh, hatinya bergetar meraih Satria dalam pelukan.
"Sayang, kenapa kamu lakukan ini
aku tidak sanggup lihat kamu seperti ini"
Dengan mata memerah Rianti menatap iba
berharap kondisi baik berpihak padanya.
Seperti tercekik, Satria tidak bisa berkata kata. Namun masih bisa bertahan dengan sisa tenaga. Rianti hendak membawa Satria keluar dari situasi ini. Tapi suara gelegar menghentikan langkahnya.
"Akhirnya kau datang juga sayang!"
__ADS_1
Rianti menoleh, namun tidak menggubris.
Dia tidak tertarik dengan kalimat pancingan itu. Terus saja mendekap Satria dan memapah.
Rianti berteriak pada pengawal Artha grup yang bersamanya berharap bantuan datang, namun semuanya terserang dengan anak buah Niko.
Hingga pada akhirnya
satria cs datang.
Marcel, Ren, dan Nabil menyerang Niko. dengan kesempatan ini Rianti bisa membawa pergi Satria.
Satu persatu Satria cs berjatuhan. Niko meraih tangan Rianti hingga Satria terlepas dari genggamannya.
"Mau apa?, saya tidak kenal dengan anda!"
"Oh ya.. kamu begitu cepat melupakanku" dengan kurang ajar menarik Rianti dalam pelukan. Rianti sangat geram.
Satu pukulan mendarat tepat di perut Niko.
Lelaki itu hanya meringis, dengan tetap menatap Rianti dengan senyum.
Sebuah pot sengaja di jatuhkan dengan keras di hadapan Rianti. Ada makna dibaliknya agar Rianti bisa mengingat.
*A*staga, pria ini yang ku tolong waktu hampir tertimpa benda.
"Saya menolong anda pada saat itu, tapi anda malah berbuat seperti ini. Salah saya apa?"
"Akhirnya kau ingat"
Flashback
__ADS_1
"Sayang, kamu dimana?" Rianti memanggil suaminya yang tak ada sahutan. Bertanya pada pelayan pun hasilnya nihil hingga pada akhirnya Rianti teringat akan ponsel yang telah di banting dan di biarkan.
Tapi, kok tidak ada. Rianti mencari-cari dia ingat betul posisinya pasti ada disini. Apa mungkin sudah ada yang memungutnya.
"Pak, lihat ponsel saya yang kemarin jatuh disini gak?"
"Ponsel nona ada di tuan muda."
Hah kapan dia ngambilnya.
Langkah Rianti tergesa memasuki kamar, berusaha mencari benda yang bisa membawa titik terang.
Pencarian tak membuahkan hasil.
Semua pelayan berkumpul, mendengarkan dengan simak sang nona muda, jawaban hanya tidak tahu yang di dengar Rianti. Bagaimana mungkin tim pelayan dan keamanan yang sudah terdedikasi tidak tahu kemana tuan mudanya pergi. Ini ada yang tidak beres.
Dia pun keluar, menerobos tim keamanan Artha grup, bagaimanapun caranya dia harus menemui Satria.
"Hei kalian apa tidak takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan tuan muda!" sentakan yang membuat semua orang diam.
"Tapi nona, ini perintah tuan muda."
"Aku tidak punya banyak waktu" Rianti terpaksa menjatuhkan tim keamanannya sendiri dengan ilmu bela dirinya. Karena naluri nya mengatakan Satria tidak baik baik saja.
Dengan modal pengakuan paksa salah satu pengawal, Rianti menuju lokasi yang disebutkan.
Rianti berharap masih ada waktu baginya.
bersambung...
jangan lupa bahagia
__ADS_1