Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Nikahin saja dua pria itu


__ADS_3

Saat malam tiba, aku tinggal sendirian di apartemen, karena malam itu Sinta akan mengikuti acara seminar dengan dokter yang datang dari berbagai belahan dunia .


Sudah bisa dipastikan, kalau Farel juga akan ada di sana.


Malam itu, setelah Sinta berangkat ke gedung seminar, aku meregangkan tubuh ini, setelah berkutat dengan dengan pakaian untuk persiapan menjelang show.


Saat aku duduk merentangkan tubuh, sebuah notif pesan masuk.


Notif pesan dari Sinta.


[Suamimu memang keren iya, lihat … dia salah satu peserta yang beruntung, yang memaparkan konsep praktek kedokteran di rumah sakit mereka, tentunya perwakilan dari Indonesia]


[Kenapa] tanyaku acuh, bukan hanya dia yang beruntung mungkin wanita yang jadi istrinya itu lebih beruntung pikirku.


[Lihat] Sinta bahkan merekam Farel saat jadi pembicara mewakili Indonesia di panggung besar itu.


Aku terpaku mendengar bahasa Prancisnya yang pasif, seperti ia menguasai beberapa bahasa asing. Pembawaannya yang terlihat sangat tenang, ia terlihat memukau saat tampil di depan ribuan para dokter dari seluruh dunia.


Wajah itu tidak sedikitpun menunjukkan rasa khawatir, tidak terlihat gugup, malah terlihat santai seakan-akan panggung seperti itu sudah hal biasa untuknya.


Wajah tampan Farel dan kepintaran, sepertinya dapat memukau para peserta seminar.


Mungkin kalau aku tampil di depan orang sebanyak itu, mungkin kaki ini sudah gemetar, tetapi dalam rekaman yang di kirim Sinta, Farel tampak beberapa kali membuat gurauan ringan di podium, membuat suasana dalam seminar itu, tertawa hangat.


[Oh, salut sama suami Rin, keren. Sebagai sesama dokter dari Indonesia, aku bangga padanya. Tetapi sebagai suamimu, aku marah padanya] balas Sinta lagi.


[Iya] balasku tidak ingin memperpanjang bahasan tentang Farel, aku sibuk memikirkan tentang nasip desainku saat ini, tidak ada waktu memikirkan hal yang lain.


Saat Sinta mengirimkan vidio seminar Farel, tiba-tiba aku kangen sama anak-anakku, terlebih si tampan Haikal Adnan Taslan.


Aku membuka koper kecil milikku dan mengeluarkan ponsel yang satu lagi, aku sembunyikan di bagian paling bawah koper itu, agar tidak ditemukan Farel saat kami bertemu di dalam pesawat.


Aku menyalakannya dan mulai membuka pesan masuk, ternyata sebelum aku berangkat. Sinta sudah mengirim banyak pesan, mulai dari mengingatkanku untuk makan sebelum naik pesawat, mengingatkanku untuk memeriksa tiket agar tidak salah tempat duduk.


Semua yang ia ingatkan itu, semua benar, aku tidak mengecek tiket membuatku salah tempat duduk, aku tidak makan sebelum terbang, membuatku nyaris mati pingsan karena lemas.


“Kamu, melebihi sosok seorang ibu untukku, Sinta, aku berharap perasaan sayangmu padaku dan anak-anakku tidak berubah sampai kapanpun,” ucapku merasa terharu dengan semua sikap baik Sinta selama ini padaku, bukan hanya padaku, bahkan anak-anakku juga.


Terlebih Haikal, ia memperlakukannya seperti anak sendiri, membelikan semua yang di butuhkan Haikal tanpa perlu memberitahuku.”


Terimakasih orang baik” ucapku menatap foto Sinta yang di pajang di dinding apartemennya.


Tetapi setelah membulir pesan itu naik ke atas, pesan dari Damar membuatku nyaris terjatuh dari sofa yang aku duduki.


[Bu, Om Virto menyusul Ibu ke Prancis] Isi pesan anak bujangku membuat mataku terbelalak.

__ADS_1


“VIRTO!!!”


Teriakku dengan suara meninggi, jantung berdetak kencang lagi. Jika lelaki itu datang ke Prancis. Aku yakin akan badai besar akan terjadi.


Dengan cepat aku mencari nama ‘Si Tampanku’ di layar pencarian kontak di ponselku.


“Iya Bu,” jawab Damar di ujung telepon.


“Apa maksudnya, Mar?” tanyaku panik.


“Ibu di telepon dari kemarin tidak diangkat-angkat”


“Iya lalu … ke-ke-kenapa Om Virto tahu aku ke Paris, Mar?” tanyaku gelagapan, saking paniknya aku mondar mandir bagai gangsing rusak di ruang tamu di apartemen Sinta.


“Kan, Damar sudah bilang kalau Om Virto masih sering datang ke rumah dan sering mengajak Damar mai-”


“Ibu, tidak tanya itu Mar yang ibu tanya kenapa dia bisa tahu?” tanyaku dengan suara penekanan.


“Saat dia main kerumah, om itu, menemukan tiket Ibu di depan rumah kita, iya sudah aku dan Jeny di tanya terus sama Om Virto, akhirnya kami ngaku kalau itu milik ibu,” ujarnya kemudian.


“Lalu apa kata ayah?” tanyaku.


“Iya ayah terus terang kalau ibu pulang ke Indonesia,” ujar Damar . (Ayah yang dimaksud Damar adalah ayahku mereka berdua memanggil ayahku dengan sebutan ayah juga bukan kakek).


“Lah! kenapa kalian memberitahukannya,” ucapku marah.


“Itu jatuh Mar …. Jatuh! Bukan ibu sengaja,” ujarku dengan suara lemah.


“Iya tinggal hadapi saja Bu, temui Om Virto kasihan, selama ini dia terus saja menunggu ibu, dia juga banyak membantu kami selama ini, ada atau tidak Ibu, dia masih perhatian sama kami selama ini, Ayah juga dukung Ibu sama Om Virto, dia baik Bu,” ujar Damar


Kini keluarga, anak-anakku mendukung hubunganku dengan Virto.


“Mar, Ibu sudah bilang, kan. Ayah Haikal masih suami, Ibu”


“Tinggal minta cerai aja kali Bu, empat tahun tanpa ada komunikasi, apa itu masih bisa di sebut suami,” ucap Damar ketus. “Om Virto saat ini sudah duda, aku dan Ayah mendukung Ibu,” ucapnya kemudian.


“Tidak semudah itu, Mar”


“Mudah Bu, kalau, ibu berani menghadapinya, jangan melarikan diri lagi darinya. Om Virto selama ini saat ibu tidak ada, dia tetap perhatian sama aku dan Jeny , sama seperti dulu, saat Ibu bersamanya. Bu, Damar khawatir dengan keadaan Om Virto sepertinya ia sakit,” ucap Damar.


“Mar, Ibu tidak bisa, aku tutup teleponnya,” ucapku melempar ponsel itu ke samping di atas sofa.


*


Saat jarum jam itu bertengger di angka 11 malam, aku masih duduk mematung di ruang tamu.

__ADS_1


Diiit …!


Suara kode pintu apartemen Sinta. Wanita cantik itu, akhirnya pulang dari seminar.


“Eh, Rin belum tidur? Kan, aku sudah minta untuk tidur duluan,” ucap Sinta menjatuhkan panggulnya di sofa sampingku.


“Ada apa?” tanya kemudian melihat wajahku yang kusut.


“Sinta, maafkan aku, aku membuat semuanya bertambah runyam,” ucapku lesu.


“Ada apa memangnya?” tanya Sinta menatapku dengan tatapan serius.


Aku menghembuskan napas panjang.


“Hidupku akan terguncang lagi, harusnya aku tidak pulang ke Indonesia, selamanya. Jika aku tahu akan seperti ini,” ucapku menyesal.


“Apa sih?” tanya Sinta, semakin gusar.


“Virto menyusulku ke Prancis ini”


“Haaa! Kok bisa?” Sinta ikut panik.


“Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan tiketku dan foto indentitasku, saat dia datang kerumah, dia menemukanya tergelatak di halaman depan rumah”


“Waduh." Sinta ikut panik.


“Bagaimana donk … cara aku menghadapi mereka berdua, bertemu Farel saja sudah membuat duniaku gempar, apa lagi bertemu mereka berdua sekaligus”


“Baiklah ,dari pada kamu pusing …. nikahin saja dua-duanya,” ucap Sinta.


“Haaa?” Mataku tebelalak mendengarnya.


Wanita cantik itu, ia terkekeh memegang kepalanya. Sinta saja pusing, memikirkan caranya, apa lagi aku yang menghadapinya langsung?


“Sin, dua istri bisa. Tetapi dua suami tidak ada dan tidak boleh dalam agama”


“Biar ada, kalau lelaki bisa memiliki dua istri, kenapa wanita tidak boleh memiliki dua suami. Buktinya Dropadi dalam kitab Mahabharata dari India memiliki lima suami,’ ujarnya kemudian .


Membuat kepala ini bertambah puyeng.


"Jangan pergi jauh-jauh ke India Sin, kita bahas yang di sini dulu, bagaimana kalau Virto datang menemuiku? Jika aku bertemu maka aktingku pura-pura lupa ingatan pada Farel akan sia-sia.


Lebih parahnya lagi, Farel, akan menggila dan mengamuk , jika tahu, aku bertemu dengan Virto. Bagaimana ini?”


Bersambung ….

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,


KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


__ADS_2