
“Iya saat kamu pergi meninggalkan rumah, malam itu, setelah aku lepas dari para preman itu , aku mencarimu kemana-mana, dari malam bahkan sampai pagi, mengelilingi semua tempat, aku kelelahan karena terus mencarimu dan mengalami kecelakaan tunggal. Aku kelelahan, lalu menabrak pembatas jalan dan mobilku terjun dari jembatan di Senen Jakarta Pusat. Jadi jangan pernah kamu berpikir, tidak melakukan apa-apa untuk kamu Rin, aku juga hampir kehilangan nyawa dan aku hampir satu tahun berada di rumah sakit untuk mendapatkan pemulihan. Apa kamu belum bisa percaya padaku?”
“Kamu tidak pernah menikah?” tanyaku, menyelidiki Farel.
“Kamu tidak percaya padaku?”
“Jangan tanya hal seperti itu padaku Farel”kataku dengan wajah sinis.
“Baiklah, ini periksa,” ucap Farel memberikan dompetnya, tanpa merasa malu, aku membuka isi dompet itu dan mengeledah semuanya, foto dalam dompetnya, foto aku dan ia saat aku hamil Haikal.
“Nah, periksa semuanya, aku juga tidak akan memakai ini jika aku sudah menikah ,” ucap Farel menunjukkan jari-jarinya, ia menunjukkan cincin kawin yang tersemat di jari manisnya.
“Ha …! Kamu bohong, kamu baru memakainya saat di pesawat aku tidak melihatnya,” ucapku melotot protes.
“Ririn, apa kamu tahu suamimu ini seorang dokter? Jika kami masuk ke ruang bedah mana boleh pakai cincin , makanya aku memakainya di kalung ini,” ucap Farel menunjuk kalung yang di pakai.
“Oh”
“Ah …Oh … Ah …OH! Lalu cincin punya kamu mana?” tanya Farel melotot padaku.
“Aku lupa, mungkin aku menghilangkannya. Kemana iya?” tanyaku mencoba mengingat.
“Aku sudah menduganya kamu akan melakukan itu,” ucap Farel.
Matanya menatapku dengan tatapan sinis.
Setiap kali melihat mata itu, mengingatkanku pada si tampan Haikal, mata Farel persis seperti yang dimiliki Haikal. Semakin aku melihatnya, mereka berdua semakin mirip, seperti pinang di belah dua, bahkan tahi lalat kecil di bawah hidung tidak luput, ikut diborong sama putranya, tidak mau meninggalkan sedikitpun ketampanan ayahnya.
Kata orang, kalau anaknya mirip bangat sama ayahnya, itu artinya suaminya sangat cinta sama istrinya.
‘Ah, masa lelaki tampan ini cinta mati padaku atas dasar apa?’ Tanyaku dalam hati, mengingat kata-kata itu aku tersenyum kecil
'Bagaimana reaksinya nanti saat Farel bertemu putranya?’ tanyaku dalam hati.
“Kamu kenapa tersenyum?” Tanya Farel menatapku dengan kedua ujung alis itu, saling bertemu.
“Ah, tidak, aku hanya mencoba mengingat cincinku … sepertinya, aku jual”
“Ckkk dasar , cincin kawin saja tidak berharga untuk kamu, apa lagi aku,” ucap Farel mengalihkan wajahnya.
__ADS_1
"Saat kamu kabur hari itu, aku mencarimu kemana-mana dari malam ketemu pagi dan ketemu malam lagi tanpa makan apa-apa, aku selalu berpikir kamu pingsan di jalan, aku mencari ke setiap tempat. Hingga kecelakaan itu terjadi, aku hampir satu tahun untuk pemulihan," ujar Farel. Hatiku merasa sedih saat mendengar semua cerita Farel.
"Aku hanya takut mati saat itu,"kataku mencari pembelaan diri.
"Itu memang kelakuan kakaku, hal itulah yang membuatku hampir gila saat itu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Satu sisi dia kakakku di satu sisi lagi ada kamu dan anakku.”
Aku hanya diam mendengar semua penjelasan Farel.
“Tetapi percayalah itu tidak akan terjadi lagi,” ucap Farel dengan suara berat, wajahnya tampak mendung.
"Apa kabar dengan kakakmu?"tanyaku memberanikan diri.
Wajahnya sangat sedih saat mendengar pertanyaanku.
"Dia sudah tenang dan bahagia"
"Oh, syukurlah kalau dia bahagia, aku tidak merasa bersalah lagi," kataku dengan tulus.
"Dia meninggalkan dunia ini, karena aku," ucap Farel menahan air mata.
"Apaaa ...!?" jantungku seakan-akan ingin melompat dari rongga dada mendengar hal itu dari Farel.
"Iya, dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri'
"Maksudmu kakakmu meninggal?" tanyaku dengan tubuh bergetar, aku sungguh tidak tahu kalau Marisa sudah meninggal, Virto juga tidak pernah memberitahukannya padaku saat ia datang ke Paris.
"Iya, dia bunuh diri, karena aku. aku menyalahkannya dan menuduhnya penyebab kamu pergi dan peyebab eyang meninggal …. tepat saat aku berbaring koma di rumah sakit, ia melakukannya, aku juga tidak mengetahui bagaimana persisnya, mereka yang bercerita padaku,” ucap Farel, ia mengalihkan wajahnya menahan perasaan sedih itu. Hal yang sangat wajar kalau ia merasa sedih. Aku sungguh terkejut mendengarnya.
Aku menunduk, ikut merasakan kesedihan Farel, walau aku sangat membenci Marisa, tetapi tidak ada niatku dan keinginan hati ini, untuk ia mengalami nasib tragis seperti itu. Menurut pengakuan Farel kakaknya menembak kepalanya menggunakan pistol milik ayah Farel. Ia merasa bersalah karena eyang meninggal karena ia, ia juga merasa bersalah saat melihat Farel terbujur koma di rumah sakit. Semua keluarga menyalahkannya. Pada akhirnya ia memilih jalan hidup yang tragis itu.
Tidak terbayangkan apa yang dirasakan ayah mertuaku, melihat putrinya meninggal menggunakan senjata miliknya dan melihat satu putranya berbaring koma di rumah sakit dan sebelumnya sudah menguburkan ibunya. Itu artinya dalam kurung waktu beberapa hari ada dua orang yang meninggal di rumah Farel saat itu.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. ' Ya Allah, pada akhirnya berakhir seperti ini juga, Maaf, tenanglah di alammu’ ucapku dalam hati.
*
Farel kembali berbaring di ranjang hotel, ia bahkan tidak mau menemui kakaknya dan tidak mau pergi ke rumah sakit. Kini aku memikirkan bagaimana cara agar aku bisa membawanya ke
rumah sakit agar ia bisa mendapat penanganan dokter.
__ADS_1
"Apa sakit?" tanyaku.
"Tidak, ini yang sakit ," ujar Farel menunjuk dadanya sendiri. "Hatiku sakit saat kamu meninggalkanku, hidupku hancur, Rin'
"Apa luka itu parah?" tanyaku lagi.
Ia hanya tersenyum kecil, tidak menjawab pertanyaanku. Tetapi saat mataku melihat lebih jelas, ada banyak luka lebam di tubuhnya. 'Apa ini? apa memang parah?' tanyaku dalam hati, seketika hati ini terasa sakit saat melihat bekas luka di pundak Farel
"Tidurlah bersamaku, mari ke sini," ujar Farel menepuk bantal di sisinya diatas ranjang.
"Katakan padaku, apa sakitnya parah? jangan membuatku jadi khawatir."
"Aku sekarat Rin, aku kesakitan, tetapi sakit itu tidak sebanding saat kamu meninggalkanku”
Aku duduk di sisi ranjang menatap wajah Farel mencoba mencari kebenaran lewat tatapannya, bola mata berwarna coklat itu terlihat begitu sendu, tetapi sebesar apapun aku mencari tahu, aku tidak pernah berhasil menemukan kebenaran lewat matanya.
"Sekarat bagaimana?" tanyaku, menuruti kemauannya aku berbaring di samping Farel.
"Kecelakaan hari itu, mematahkan tulang belakangku dan harus di pasang pen, setiap kali aku merasa capek dan bergerak aktif pen akan bergeser aku merasa sangat sakit"
"Jadi suntikan itu untuk penahan rasa sakit?" tanyaku, karena sebelum kami berangkat dari Paris, ia menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya.
"Iya, pemakai jangka lama tidak bagus, tetapi aku ...ah sudahlah, mari tidur bersamaku, mungkin besok-besok aku tidak akan tidur bersamamu lagi,' ucap Farel membuatku terdiam.
"Apa kamu sakit parah? tolong katakan padaku?"
"Aku, akan mengatakannya jika kamu mau tidur bersamaku"
“Mari kita periksa ke rumah sakit, kita akan menemui anakmu, asal kamu mau dioperasi,” kataku menatapnya dengan tatapan serius, aku pikir, sudah saat aku mengungkapkan tentang putranya.
Bersambung …
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata.