Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Sulitnya bicara kejujuran


__ADS_3

Kini  setelah belanja pakaian dan sudah makan, Farel mengajakku pulang kembali ke hotel tempat ia menginap selama di Paris.


Dalam mobil  wajah Farel kembali menegang,  ia menghabiskan waktu perjalanan hanya diam.


“Apa semua  baik-baik saja?” tanyaku menatap wajahnya.


“Tidak baik.”


Farel kembali diam.


‘Ada apa  dengannya kenapa hanya diam, apa dia  memikirkan sesuatu?  apa aku  jahat padanya karena  menyembunyikan tentang putranya.  Baiklah aku akan  menceritakan tentang Haikal karena ia berhak untuk tahu, karena ia baik padaku hari ini’ ucapku dalam hati, sudah bersiap memberitahukan tentang putra tampannya untuk Farel. Aku yakin ia sangat senang jika sudah mengetahui tentang putranya.


“Fare-”


Kriiing …!


Kriiing …!


Baru juga akan  membuka bulut, tetapi tiba-tiba terhenti dengan  nama pemanggil di ponsel Farel.


Wanita itu menelepon Farel,  entah  kenapa ia terus saja menolak panggilan darinya.


Membuatku semakin curiga dan tiba-tiba tidak berniat memberitahukan tentang anaknya.


“Kenapa ditolak terus,  diangkat saja,” ucapku melihat ponsel di saku celananya yang berdering terus.


“Tidak penting hanya panggilan dari rumah sakit ingin cepat kembali”


“Aku sampai lupa bertanya. Bagaimana kabarmu selama empat tahun ini?” tanyaku niat ingin menyelidiki tentang kehidupan Farel. Aku memang istri Farel selama empat tahun tetapi sesungguhnya aku tidak  tahu banyak tentang Farel.


“Aku yang seharusnya yang bertanya padamu. Ceritakan padaku tentang kehidupanmu.” Farel berbalik bertanya.


‘Aku bertanya padamu , kenapa malah bertanya balik, mencurigakan’


“Tidak ada yang-”


Kriiing …!


Kriiing …!


Lagi panggilan telepon dari  tunangan Farel mungkin istrinya di matikan.


Melihat kenyataan itu sejujurnya aku tidak suka,  aku mengalihkan mataku  ke arah lain dan Farel tahu aku tidak suka dengan itu.


Dengan cepat ia silent ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.

__ADS_1


Suasana dalam mobil menjadi hening, tidak ada canda dan tidak  ada tawa yang tergurat dari dalam bibirnya, seperti yang terjadi tadi.


Dalam mobil hanya suara mesin mobil yang terdengar menderu halus.


“Aku pulang ke apartemen Sinta saja”


“Tenang saja aku tidak akan  memakanmu,” ucap Farel dengan suara datar.


“Bukan masalah itu, sepertinya Bapak lagi banyak masalah”


“Tidak”


Farel benar-benar sangat berubah moodnya sangat berubah saat wanita itu meneleponnya, membuat hati ini terus bertanya apa yang di katakan wanita itu pada Farel hingga membuatnya berubah seperti itu.


Aku membiarkannya diam,  akan lebih baik diam di saat moodnya sedang tidak bagus.


“Apa kamu yakin semua baik-baik saja, apa tidak lebih baik kamu  punya waktu sendiri? Maksudku  mungkin kamu butuh waktu sendirian,” ucapku saat kami tiba di lobby hotel.


Ia menarik napas panjang.


“Teman-teman sudah kembali ke Indonesia kemarin,  hanya aku yang tertinggal dari rombongan,” ucap Farel.


Pernyataan yang di berikan tidak sesuai dengan apa yang aku ingin dengar.


“Aku sengaja menunda kembali ke Jakarta agar aku bisa bicara dengan kamu, hati ini tidak akan tenang jika belum bicara dengan kamu.”


Aku ingin ia bercerita jujur padaku agar aku bisa bicara jujur dengannya tetapi …


“Rin aku sudah bilang padamu,  tidak ada yang menarik yang perlu di bahas dari hidupku dan tidak penting,  aku hanya ingin tahu tentang kehidupanmu”


“Farel kamu egois,  aku juga berhak tahu kabar tentang kamu -’


  Dreeet ….


Dreeet ….


Kini ponsel itu bergetar kembali menganggu obrolan kami dengan Farel.


“Kenapa tidak mengangkatnya sih, mana tahu wanita itu ingin bicara hal penting  dengan kamu. Angkat saja tidak perlu pedulikan, buka talinya dan angkat teleponnya,” ujarku mulai merasa kesal.


Wajah itu kembali menegang .


Ia membuka  ikatan tangannya dari tanganku dan memindahkannya di kursi jok mobil.


“Jangan kemana-mana aku akan segera kembali” Suaranya terdengar tegas.

__ADS_1


Aku hanya diam tidak menjawab ada perasaan tidak suka di bagian hati ini,  saat ia


bersikap seperti itu.


Dari kaca mobil aku bisa melihat wajahnya marah saat menerima telepon dan terlihat bersitegang dengan  peneleponnya.


“Haikalku tidak pantas kamu ketahui saat ini Farel,  jika kamu bersikap seperti itu,  kamu membuatku hidup dalam kebingungan saat ini, apa salahnya kamu berterus terang padaku, saat aku  memberimu waktu banyak untuk menceritakan semuanya, tetapi kesempatan itu kamu sia-siakan,” ucapku pelan, melihat dari kaca mobil, saat  Farel menelepon.


 Setelah sepuluh menit bertelepon akhirnya ia kembali.


“Maaf menunggu lama,” ucap Farel dengan wajah dingin. Sepertinya ia habis bertengkar dengan  wanita yang  menelepon.


“Tidak apa-apa.” Aku mengangkat kepalaku untuk bangun.


Masih dengan sikap diam. Farel mengeluarkan bag  belanja yang letakkan di jok belakang membawa  bag di tangannya dan menggenggam telapak tanganku dan  membawa kembali naik ke hotel.


Kali ini aku tidak takut jika harus satu ranjang  dengan Farel,  walau rasa sakit di bagian intimku masih terasa sangat perih. Tetapi yang aku takutkan saat ini, i wajah Farel yang terlihat sangat kesal.


“Aku mandi dulu, kalau kamu makan sesuatu pesan saja.” Farel masuk ke kamar mandi tetapi tidak lupa ia membawa kunci kamar.


“Baiklah” Aku mendudukkan tubuh ini di sisi ranjang.


Saat  dia ke kamar mandi aku sibuk mencari ponsel milikku , aku berharap ia tidak  bisa membuka kunci layar ponsel milikku . Karena di  ponsel itu ada pesan dari putraku Damar yang membahas tentang Haikal.


Saat mencari panik, aku  menemukan tas tangan milikku di bawah sofa,  saat Farel melemparkan tubuhku ke  ranjang dengan kemarahan  kemarin. Dengan cepat aku mematikan ponsel milikku dan mengeluarkan memory dari dalam ponsel dan menyimpannya kembali ke bawah sofa  sebelum Farel keluar dari kamar mandi dan menyelidiku.


Karena Farel sepertinya tidak mau jujur dengan kehidupan pribadinya, apa yang di lakukan Farel tadi membuatku semakin curiga.


Setelah mengamankan semuanya,  aku tidak ingin ia curiga padaku, aku menyalahkan televisi di kamar Farel, walau aku tidak mengerti apa yang mereka katakan  karena saluran televisi berbahasa Prancis, tetapi mataku mencoba menatap ke layar televisi mencoba mengalihkan perasaan yang berkecamuk di dalam dada ini.


Aku hanya berharap saat ini Farel berterus terang agar aku bisa bicara terbuka untuknya, tetapi jika farel masih tidak mau bicara jujur, jangan harap aku akan bicara tentang putraku padanya.


Bersambung ….


Maaf iya kakak semua updatenya hanya satu kemarin, harap maklum karena kesibukan di dunia nyata harus ngurus dua bocil dan ngurus jualan juga di dunia nyata.


 JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE


 KASIH BANYAK HADIAH juga  AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA  SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


                 Baca juga:


“Menikah Dengan Brondong”


Follow ig sonat.ha dan

__ADS_1


Fb Nata


__ADS_2