
Aku masih dalam mode diam, kesadaran ku belum pulih sepenuhnya, masih loading. Farel menyodorkan botol air mineral untukku, setelah ia memutar dan membuka penutup botolnya.
“Minum agar loading nya cepat,” ucapnya masih tersenyum hangat.
Aku masih ingat. Dulu saat aku tinggal bersama Farel setelah menikah, ia selalu tertawa menggodaku jika aku baru bangun, dan bersikap seperti saat ini, dulu, ia bilang kalau aku baru bangun, seperti raga tanpa jiwa.
“Apa jiwamu belum pulang ke tubuh ini?” tanya Farel, dulu empat tahun silam. Lalu menuntunku ke kamar mandi membantuku cuci muka, barulah kesadaran pulih.
Saat ini, setelah minum air putih, aku masih diam , ia sabar menunggu hingga sadar total. Mulut ini, menguap beberapa kali.
“Apa aku perlu menuntun cuci muka ke kamar mandi?” tanya Farel, melihatku yang masih mematung.
Aku menggeleng, setelah hampir sepuluh menit proses loadingnya dan akhirnya aku pulih. Ia menatapku dengan mimik wajah tampak aneh. Ah, mau gimana, kebiasaan itu memang sudah ada sejak aku masih kecil, dan sayangnya putraku Darma juga mengikuti kebiasaan ku.
Untungnya, ayahku tahu kalau itu menurun dariku. Makanya, untuk bangun pagi, Darma akan dibangunkan sepuluh menit lebih awal dari Jeny. Sepuluh menit itu, digunakan untuk bengong untuk mengumpulkan kesadarannya, butuh sepuluh menit untuk kami berdua loading untuk mengumpulkan kesadaran.
Setelah nyawaku kembali terkumpul, aku merapikan tempat dudukku dan menenteng tas kecil perlengkapan mandi ke toilet pesawat, cuci muka gosok gigi dan berdandan sedikit baru aku duduk kembali. Farel masih dengan aksinya, ia terus saja menatapku kemana tubuh ini bergerak ke situ juga matanya mengikuti.
“Ingin serapan apa?” tanya Farel menatapku, ia masih memperlakukan diri ini seperti istrinya, tidak perduli dengan penolakan yang aku berikan padanya.
“Tidak, aku tidak biasa serapan sepagi ini, mungkin nanti di bandara,” ucapku.
*
Pengumuman dari kabin pesawat, mengumumkan pesawat akan landing, aku mulai merapikan barang-barang dan merapikan penampilan. Mendengar pesawat akan mendarat, tiba-tiba wajah Farel terlihat menegang, ia berpikir kalau kami akan berpisah. Aku bisa melihat raut wajah itu, tiba-tiba mengeras, menatapku dengan tatapan mengawasi.
Aku mencoba bersikap tenang, walau dalam hatiku juga merasa sangat khawatir.
Farel dan aku akan berpisah , untuk tujuan masing-masing.
“Ayo kita berangkat bersama, aku akan menemani kamu kemana pun, kamu akan pergi,” ucap Farel dengan tatapan sendu.
“Bapak, kenapa tidak mengurus istri bapak, kenapa sibuk mengurusi saya,” ucapku sibuk merapikan rambut panjangku, aku membiarkannya terurai panjang hanya menjepitnya sedikit di belakang.
“Kamu istriku!” ucapnya ketus, wajahnya, tampak terlihat tidak suka, saat aku berdandan.
__ADS_1
“Hargai wanita yang mencintai Bapak dan berjuang bersama dengan bapak,” ucapku menatapnya tegas.
“Kamu tahu apa tentang hidupku! Kamu saja meninggalkanku empat tahun yang lalu membuat hidupku hancur,” ucap Farel.
Aku hanya menghela napas panjang masih mempertahankan sikap pura-pura lupa ingatan di depannya.
Saat melihatnya marah besar, aku kembali diam.
“Dengar, jangan pergi lagi dariku, awas kamu kalau kamu kabur lagi, diam di sini dan tunggu aku” ucapnya mengancam.
Lalu ia kembali ke kursi awalnya.
Paling penting bagiku saat ini, hanyalah karierku, aku susah payah selama tiga tahun untuk membangunnya.
Karier yang akan jadi bekalku kelak, untuk memperjuangkan anak-anakku. Modalku, untuk menyekolahkan anak-anak.
Aku ingin mereka mendapat kehidupan yang lebih baik dari ibu mereka.
Mendapat undangan ke Paris Fashion Week kali ini, bukanlah hal mudah untuk mendapatkannya. Aku menunggu seleksi, durasi selama satu tahun untuk bisa karyaku tembus seleksi untuk perhelatan kali ini.
Untuk apa aku kembali pada Farel kalau hidupku dalam tekanan dan dalam bahaya. Aku tidak akan melarikan diri darinya jika kakaknya tidak menginginkan kematian ku, aku juga tidak akan bersikap egois jika Farel tidak bersama wanita itu.
Apapun yang dikatakan Farel, aku tidak perduli, aku datang jauh-jauh ke Paris demi masa depanku karierku.
Saat burung besi itu akhirnya berhasil mendarat. Farel masih dengan sikap buru-buru membereskan berkas-berkas kerja di dalam biliknya.
Saat ia sibuk berbenah, kesempatan itu aku gunakan keluar dari pesawat, saat pintu kabin di buka, dan para penumpang dipersilahkan keluar, akulah orang pertama yang keluar dari perut burung besi itu , aku terpaksa menyerobot keluar.
“Maaf Bung, ini demi kelangsungan hidup dan untuk masa depan anakmu juga,” ucapku pelan meninggalkan Farel lagi.
Aku tahu, Farel pasti akan sangat merah saat aku meninggalkannya lagi dan ia tidak akan tinggal diam, apa lagi ia sudah tahu tujuanku datang ke negara eksotis Prancis.
Saat keluar dari pesawat, aku menyalakan ponselku lagi, baru di nyalakan Sinta sudah menelepon.
“Iya Sin!”
__ADS_1
“Rin, aku menunggu kamu di sebelah timur, iya”
“Terminal sebelah timur yang mana?” tanyaku panik.
“Ikuti saja peta yang aku kirim, aku sudah membuatnya khusus untuk kamu, saat menunggu kamu tadi. Cepatlah” Pinta Sinta mendengar suaranya panik aku jauh lebih panik lagi.
“Iya ada Farel bersamaku tadi”
“Iya, itu yang aku khawatirkan tadi dan itulah makanya aku membuat peta itu untukmu”
Aku membuka isi pesan Sinta. Benar saja , ia membuatku sebuah papan petunjuk yang sangat mudah aku pahami, mengikutinya dan akhirnya bertemu dengan Sinta.
“Aku melarikan diri dari Farel, kami satu pesawat tadi,” ucapku dengan panik, mataku melirik ke kanan dan ke kiri.
“Baiklah kemari.”
Sinta menarik ku ke kamar mandi bandara.
Ia memintaku berganti pakaian dan memakai wig warna pirang kembali, untuk menyamarkan penampilan, bukan hanya aku, bahkan ia juga ikut menyamarkan penampilannya kami berdua tampak seperti anak remaja.
umur 17 tahun dengan model rambut pirang di kepang dua dan memakai kaca mata.
Aku menghindar dar Farel kali ini, bukan hanya sekedar takut. Tetap demi karierku sebagai desainer. jika aku bersama Farel maka karier yang sudah aku bangun dengan susah payah akan kehilangan kesempatan emas.
Melarikan diri kali ini, demi karier yang lebih baik.
Bersambung …
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“Jangan lupa mampir ke cerita baruku juga iya kakak.
“Menikah Dengan Brondong”
__ADS_1