Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Pulanglah Tempatmu bukan di sini


__ADS_3

Farel masih duduk setia di sampingku, ia tidak mengatakan apa-apa, bahkan tidak membahas kejadian di dalam kamar, ia sibuk menatap layar ponselnya dan aku juga tidak ingin bilang apa-apa.


Hubunganku dengan Farel benar-benar sangat aneh dan rumit. Aku tahu Farel mungkin memiliki sedikit perasaan dan rasa cinta untukku, terlihat dari rasa cemburu dan perhatian yang ia berikan.


Namun, status sosial dan latar belakangku dan tekanan semua keluarganya, membuat jadi bimbang, aku tidak menyalahkannya untuk hal itu. Karena Farel bukanlah malaikat yang bisa bertahan dalam setiap tekanan.


'Ok, baiklah tidak apa-apa, aku masih beruntung karena ia masih mau menolong, bagaimana kalau aku dalam keadaan hamil, tetapi, ia tidak mau bertanggung jawab dan membiarkan kakaknya melenyapkan kami berdua, aku masih beruntung' ucapku dalam hati untu membuat jiwaku tenang.


Aku diam dan ia diam, bapak tukang bakso menatap kami bergantian, dengan tatapan menyelidiki, matanya menatap Farel begitu dalam, lelaki berwajah tampan bak aktor asal Turkie Burak Deniz , wajah yang terlihat terlihat tegas, namun menawan.


Tidak sengaja perban luka di lenganku tersangkut paku ujung meja , perbannya terlepas dan mengeluarkan darah segar, menetes sampai ke meja.


Abang penjual bakso itu ingin berdiri, tapi aku menolak, merentangkan telapak tangan, ia menghela napas dan menatap Farel yang tidak melihatku, aku tidak ingin memberi tahunya, bagiku .... Itu hanyalah luka kecil. Luka terbesarku, ada dalam hati ini, luka saat kakak Farel, menyebutku wanita bekas semua laki-laki.


"Sudah, ayo bayar," kataku berdiri, aku hanya membungkus luka di lenganku dengan beberapa lembar tissu.


Farel mengalihkan matanya dari ponsel, mengeluarkan pecahan uang lima puluh ribu meletakkan di atas meja,


"Ini Pak, tidak usah kembali," ujar Farel.


Bapak itu bukanya senang, malah menatapku dengan tatapan prihatin, karena luka di kakiku yang menginjak beling terpaksa berjalan pincang.


Aku hanya tersenyum kecil pada si bapak dan mengucapkan terimakasih.


"Tolong berikan aku uangmu, aku mau beli sesuatu di sana," kataku menunjuk mini market di samping warung bakso.


"Mau beli apaan?" tanya Farel, seperti biasa, ia masih memasang wajah dingin dan datar andalannya.


"Mau beli jajanan," kataku membuat alasan. "Bapak tunggu di sini saja," menunjuk kursi kayu di depan warung bakso.


Farel, tidak menolak, ia memberikan kartu miliknya padaku.


"Aku tidak punya uang cash, pakai kartu ini saja."


"Baiklah" Menerima kartu debit itu dari Farel.


Masuk ke dalam mini market dengan jalan pincang, semua orang menatap iba, karena seorang wanita hamil besar berjalan pincang, aku tidak perduli dengan tatapan prihatin semua orang.

__ADS_1


Mereka hanya melihatku dari luar saja, mereka tidak tahu, aku wanita yang tidak pantas di dikasihani, seorang pelakor dan saat ini mengandung anak dari tunangan orang lain, bukankah aku ini wanita hina?


Ah, aku membenci diriku sendiri, tetapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu, karena darah dari luka dari tanganku sudah menetes ke lantai dan mengotori pakaian yang aku pakai.


Aku membeli perban luka obat merah dan alkohol.


"Bu, apa yang bisa aku bantu," ujar pegawai mini market yang melihat tetesan darah dari tanganku.


"Bisa tolong bantu membalut lukaku, Mbak?"


"Ya Allah, berdarah" Ia panik.


"Please jangan panik, tolong bantu aku, nanti lelaki itu datang dan pasti akan memarahiku," kataku memohon.


Ia meminta temannya melakukannya, karena ia takut darah, seorang lelaki muda melakukannya dengan baik , mungkin karena terlalu lama aku kembali, Farel berpikir aku kabur, ia datang, kebetulan pada saat memotong perban luka di tanganku, ia sudah berdiri di dekat rak jualan.


"Apa yang kamu lakukan lagi?" tanya dengan wajah memerah dan rahang mengeras, para pegawai mini market tampak takut dan bubar.


"Tidak apa-apa, tadi perbannya terlepas, aku meminta masnya membalut lukanya untuk menghentikan pendarahannya, sudah selesai kok, ayo ," kataku menuju meja kasir.


Farel masih berdiri mematung, melihat seorang pegawai membersihkan tetesan darah di sepanjang lantai.


Saat ingin meminta password, aku melihat tangan Farel terkepal menahan kemarahan.


'Apa lagi yang membuatnya marah kali ini' tanyaku dalam hati, aku takut meminta password, terpaksa mundur.


Farel keluar dan ia berdiri di luar, tangannya masih terkepal .


"Hadeh ... ada apa lagi sih dengan orang ini, marah mulu. Mas, boleh gak aku bayar pakai ini," kataku membuka anting emas milikku, "ini kartu milik lelaki itu, tapi aku takut meminta password, mereka saling menatap, ini hal yang aneh untuk kedua pegawai itu.


"Tapi tidak mahal kok mbak , semuanya hanya tiga puluh lima ribu"


"Aku tidak punya uang, ini harganya ada dua ratus ribu ambil saja mbak," kataku meninggalkan antingku di meja kasir, karena antrian sudah memanjang.


Keluar menemui lelaki yang sedang marah itu. Tetapi yang terjadi ....


"Ada apa denganmu. Haaa ...! ADA APA!" teriaknya dengan marah, mengundang perhatian semua orang.

__ADS_1


"Kecilkan suaramu Pak Farel, semua orang menatap Bapak," kataku memohon, bukanya redah ia semakin marah besar


"Sebenarnya kamu Kenapa? Aku juga dalam posisi sulit, Ririn! Tolong jangan membuat aku semakin gila .…! Aku sudah membawa kamu ke rumahku.


Lalu kamu menganggapku, apa? Bapak tukang bakso itu bilang, kamu terluka karena paku di sana tadi. Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya padaku, kenapa kamu menahannya sendiri.


Aku lelah Ririiiin...! Aku capek, melihat kamu terus-terusan bersikap seperti itu padaku!


Baiklah, kamu ingin pergi … Pergilah ...! Aku tidak akan menahan ataupun mempertahankan kamu lagi, kamu selalu memperlakukanku sebagai musuh," ujar Farel meninggalkanku. Ia pulang.


Aku masih berdiri. Menatapnya berjalan, menjauh dan menghilang masuk ke dalam pintu belakang rumahnya.


"Baiklah, kalau begitu,” ucapku pelan.


"Mbak tidak apa-apa?" tanya seorang pegawai mini market memberikan anting itu kembali.


"Tidak apa-apa Mbak, boleh aku minta tolong.” Aku membuka kalungku. " Tolong berikan aku uangmu berapa saja, untuk ongkos pulang ke rumah ibuku,” kataku memohon pada wanita itu, aku ingi pergi, tetapi tidak punya ongkos.


"Tidak usah." Virto berdiri di belakangku.


"Mas apa yang kamu lakukan di sini! kamu akan mendapat masalah nanti,” ucapku panik melihat kanan- kiri.


"Kamu harus pulang Rin, tempatmu bukan di keluarga ini, kamu sama saja masuk ke kandang binatang buas,”ujar Virto


"Jangan ikut campur Mas, nanti kamu akan mendapat masalah lagi," ucapku tidak ingin menambah masalah.


"Ayo, aku akan mengantar pulang, aku tidak ingin mereka menyakitimu Rin, aku minta maaf karena membuatmu dalam masalah. Tetapi kamu harus pergi dari sini.


Marisa wanita yang nekat, ia tidak akan segan-segan membunuhmu, Kenapa kamu harus datang ke rumah mereka Ririn .. ini bukan tempatmu. Pulanglah.” Ia memegang tanganku, ingin membawaku untuk naik ke motornya, ingin menjauhkan ku dari keluarga istrinya.


Tetapi saat aku ingin pergi, tiba-tiba tangan yang lain menarik ku, Farel menarik tangan kiri ku dan Mas Virto menarik tangan kanan.


‘Oh, iya ampun …! Drama apa lagi ini?’ teriakku dalam hati, saat melihat kedua lelaki tampan itu sama-sama menarik ku yang satu di tangan kiri dan satu lagi di tangan kanan.


Bersambung ….


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH AGAR VIWERS NAIK

__ADS_1


Kasih komentar buat Bab ini iya kakak.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2