Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Bertemu dengan mantan kekasih gelap


__ADS_3

Tiga hari tinggal di Villa Farel, besoknya aku memutuskan akan berangkat kerja.


Saat pagi tiba, hidung mencium bau yang sangat enak, setelah mandi dan sudah rapi, aku keluar, di atas meja telah tersedia serapan pagi menggugah selera.


"Mari duduklah, kita akan serapan"


“Aku akan berangkat kerja duluan, nanti saja serapannya di hotel,” kataku tidak berselera.


“Makan saja dulu, nanti kita akan berangkat besama”


Aku duduk menyendok salad buah dalam bangkok memilih diam, duniaku terasa semakin gelap, tidak tahu harus berjalan kearah mana.


Sajian menuanya sudah sama seperti makan di restaurant.


"Saat tinggal di Jerman, aku memasak sendiri, karena masakan di sana tidak sama dengan seleraku,” Memberitahukannya tanpa aku tanya.


Aku hanya mengangguk kecil dan kembali terfokus ke makanan dalam piring.


“Apa kamu merasakan sesuatu yang sakit?” Tanya Farel, menatapku


"Tidak, terimakasih, untuk makanannya aku berangkat duluan.” Berdiri berangkat kerja.


“Eh tunggu ... Minum juga susu yang di gelas," ujarnya saat aku selesai menyantap salat buah.


“Aku tidak suka minum susu hamil rasa coklat, itu membuatku mual”


"Minum saja, asam polad sangat bagus untuk dia dan itu tidak akan membuat kamu mual"


Walau perut hampir meledak karena serapan terlalu banyak, aku meminum


Aku tidak ingin mengundang masalah, jadi apa yang diperintahkan Farel saat itu, aku menurutinya. Aku menahan napas dengan wajah memerah karena manahan mual. Itu membuatku ingin mati.


“Iya sudah, jangan dipaksa kalau kamu ingin muntah,” pinta Farel saat aku memaksa minum seperti yang di perintahkan.


“Ada apa denganmu kenapa diam saja dari kemarin”


“Tidak ada apa-apa Pak Farel, tenang saja aku akan merawatnya untukmu, aku berangkat kerja”


“Kita berangkat bersama saja, tunggu aku ganti baju”


“Tidak usah itu kendaraannya sudah datang, aku duluan saja, sampai bertemu di hotel” Meninggalkan Farel yang masih berdiri menatapku.


**

__ADS_1


Hidup satu atap dengan Farel membuat perasaan serba salah, di salah satu sisi ada rasa senang karena ada yang melindungi di saat sedang hamil, tetapi terkadang aku merasa ketakutan


otak ini terus saja memikirkan bagaimana kalau wanita itu datang dan menemukanku bersama adiknya dalam keadaan hamil.


Pagi itu sejak berangkat dari Villa Farel aku tidak memiliki semangat untuk bekerja, saat tiba di hotel, aku memilih menenangkan pikiran, jauh dari Farel jauh dari pekerjaan, aku menyusuri tepi pantai melepaskan sepatu dan menggulung celana sampai ke lutut.


Berjalan di tepi pantai, perutku sudah semakin membesar saat ini usia janin yang aku kandung sudah mau memasuki jalan enam bulan, memang kebiasaan ku kalau hamil selalu besar, baik kali ini, walau baru memasuki enam bulan tetapi sudah seperti tujuh bulan saja.


Semakin bertambah usia kehamilanku semakin tak menentu jalan pikiranku, aku butuh Farel di sisiku sebagai ayah dari janin yang aku kandung. Namun, aku tidak ingin diikat dengan satu pernikahan.


Berjalan menuju satu cafe agak jauh dari hotel, masih di tepi pantai, niat hati ingin menenangkan diri, baru saja ingin duduk. Tetapi sosok yang ingin aku hindari dan ingin jauhi saat ini menatapku dengan tatapan melongo.


'Iya, ampun apa yang akan terjadi saat ini' ucapku membatin.


Tubuh ini hampir saja tumpang, kalau aku tidak memegang sisi meja cafe, ia berdiri dan mendekat, wajahku terasa terbakar dan jantung ini berdetak dengan capat.


"Ririn!?" Matanya memindai menatapku tentunya dengan tatapan menyelidiki, melihat dari ujung kaki sampai puncak kepala dan terakhir menatap perutku yang membesar.


"M-mas Virto," ujar ku tergagap.


Ia tertawa kecil seperti tawa yang menyeringai, jiwaku semakin meronta, merasa hina bahkan terhina dari sampah.


Tetapi saat melihatnya, aku ingin sekali memeluknya aku ingin menangis di pelukannya, aku butuh seseorang untuk aku jadikan tempat menangis.


Bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini, sangat memalukan untukku.


"Baik," ucapku, dengan spontan tanganku menutupi perutku dengan syal yang aku pegang.


Suasana semakin sangat canggung, saat semua mata di dalam cafe tertuju pada kami berdua.


"Apa kamu mau kita bicara di luar?" Virto melirik pinggir pantai.


"Baiklah, boleh"


Berjalan keluar dari cafe, ia berjalan di depan dan aku mengikuti dari belakang.


Entah apa yang terjadi pada hatiku, saat melihatnya saat ini, ada bagian hati yang merasa sangat senang saat melihat Virto.


Lelaki yang sangat mencintaiku di masa lalu, hanya tempat dan cara kami saling mencintai, melalui jalan yang salah, ia suami orang lain. Melalui lima tahun bersamanya, meninggalkan banyak kenangan yang tidak terlupakan baik kenangan buruk maupun kenangan yang manis.


Perhatian dan cara ia mencintaiku, walau terkadang kasar, tetapi itu terjadi bila ia cemburu. Mungkin cinta itu, tidak akan aku dapatkan dari lelaki manapun, selain Virto. Tetapi saat ini, semua itu tidak akan terjadi lagi.


"Apa kamu sudah menikah? tanya Mas Virto saat kami berdiri di tepi pantai.

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat tiba-tiba ingin pingsan, menatap Virto dengan tatapan ragu.


"Sayang ...! kenapa kamu di sini?" Farel tiba-tiba datang memegang tanganku dan bersikap kalau aku adalah istrinya.


"Apa? Kamu menikah dengan Farel?" tanya Virto.


"Iya, dia sedang mengandung anakku, kenapa Mas ke sini?” Farel menatap tajam pada kakak iparnya.


'Oh, hal buruk apa ini, apa yang aku harus katakan, aku tidak suka hal seperti ini' aku berucap dalam hati, aku tidak tahu bagaimana menghadapi situasi saat ini.


Mata Virto menatapku dengan tatapan yang sangat kecewa, apalagi saat ia tahu, aku mengandung anak dari adik iparnya.


Aku tahu ia pasti berpikir kalau aku sengaja melakukannya. Melihat tatapan sinis yang menajam itu, membuatku ingin menghilang selamanya dari dunia ini.


"Kapan kalian menikah?" Virto belum mengalihkan matanya dariku.


Melihatnya berseragam polisi membuatnya sangat gagah dan berwibawa, ingin rasanya aku memeluknya menumpahkan segala masalah yang aku hadapi padanya.


‘Ah, aku sangat merindukanmu Mas’ ucapku dalam hati.


"Kami sudah menikah setengah tahun yang lalu ," ucap Farel berbohong, jelas-jelas kami berdua tidak menggunakan cincin nikah.


"Oh, masih baru, tapi tidak satupun dari kalian berdua memakai cincin," ujar Virto menyelidiki tangan kami berdua.


"Oh, aku meninggalkan saat mandi tadi ….Maaf hari ini, kami ada rapat jadi tidak bisa lama-lama," ucap Farel menarik tanganku menjauhi Virto yang masih terlihat diam.


Farel menuntunku menjauh dari Virto, aku bagai kerbau yang ditusuk hidung, hanya diam dan menurut saat ipar Virto menarik tanganku dan membawa kembali ke hotel.


"Ada apa denganmu?” Farel kembali mengintimidasi dengan tatapannya.


Lidahku terasa kaku, bahkan hanya jawab iya dan tidak saja, tidak mampu yang aku lakukan hanya diam.


Aku kaget melihat Virto bukan hanya itu, bahkan ia melihatku hamil anak dari iparnya, otakku masih tertuju padanya.


Melihat tatapan Virto tadi, aku tahu, ia sangat marah dan sangat kecewa. Lama bersamanya membuatku mengetahui banyak hal tentang Virto, salah satunya, jika ia menggosok hidungnya dengan jari-jari, itu artinya ia marah.


‘Bagaimana menghadapi situasi ini? Kenapa harus bertemu Virto lagi?


Bersambung


Bagaimana dengan bab ini Kakak? Kasih dong komentar kalian … Mana tahu dari setiap komentar yang masuk, saya dapat ilham dan punya ide untuk menulis bab selanjutnya.


Bersambung ....

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2