Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Diantar ayah mertua ke dokter


__ADS_3

Saat semua orang berangkat kerja dan berangkat kuliah, ini waktunya  ‘MeTime’ Aku menghirup wangi kopi caramel di dalam gelas dan duduk santai di pinggir kolam.


Rumah besar ini  benar-benar sepi, hanya beberapa  asisten rumah tangga yang sibuk,  beres-beres dan Pak Raga  sibuk membereskan  taman. Aku duduk  merentangkan kaki. Aku merasa pundak dan tubuh ini,  sangat lemah beberapa minggu ini. Aku mengurut pundakku.


“Rin!”


“Iya Abi”


“Biar Abi yang jemput Haikal nanti iya, bilang sama supir tidak usah jemput”


“Abi mau kemana?” tanyaku melihat bapak mertuaku sudah rapih. Oh,bapak mertuaku sudah tidak pakai kursi roda lagi. Ia sudah bisa berjalan


Setelah Haikal di ledek temannya saat itu, ia memutuskan melakukan pengobatan keluar negeri,  setelah  rutin melakukan pengobatan  beberapa bulan akhirnya bisa berjalan lagi.  Tentu karena Haikal, ia ingin cucunya tidak malu pada teman-temanya seperti yang pernah terjadi.


“Abi mau ke kantor dulu”


“Obat abi sudah?” tanyaku mengingatkannya, ia  harus rutin minum obat.


“Oh, sudah”


“Oh, baiklah Abi, hati-hati,” ucapku berdiri.


“Oh, Rin. Untuk ulang tahun suamimu nanti, Abi ingin mengadakan acara kecil-kecilan, Abi ingin kamu mengajak ayahmu dan Damar  dan Jeny”


“Baik Bi”


Tepat beberapa bulan lalu, setelah Indah meminta maaf dan berbaikan dengan Farel dan ia juga meminta maaf padaku.


Akhirnya semuanya berbaikan. Pada saat semuanya telah dapat menerimaku. Farel membawa ayah dan anak-anakku ke rumah, memperkenalkan pada semua keluarganya,  tanpa aku ketahui …  ia mengajak keluargaku ke rumahnya.


Membuatku kaget dan terharu. Farel membuatku tidak bisa berkata-kata, ia membuatku seakan terbang sampai ke langit.


Farel sangat hormat dan sopan pada kedua orang tuaku dan sayang pada Damar dan Jeny.


Membuatku sangat terharu dan penuh syukur memiliki suami yang sangat baik seperti dia.


“Apa kamu sakit?” tanya ayah mertua saat aku memegang batang leherku.


“Aku merasa kurang enak badan Bi, pusing, lemas, badanku rasanya sakit semua. Mungkin karena terlalu lelah karena memindahkan barang- barangku ke  ruangan baru”


“Apa mau Abi temenin ke dokter?”


“Nanti saja Bi, tunggu Farel pulang”


“Farel pulang dari luar kota kan besok. Ayo abi antar ke dokter,  tidak boleh di tunda-tunda. Kamu tidak boleh sakit, urusan rumah akan repot jika kamu sakit, kami semua bergantung padamu,” ucap abi tertawa kecil.


“Tapi … apa Abi tidak terlambat?”


“Tidak, hanya kunjungan biasa saja”


“Baiklah Bi. Ririn ambil dompet

__ADS_1


Aku sama ayah mertua sudah seperti ayah dan anak, aku tidak merasa sungkan lagi padanya seperti yang dulu-dulu.


Supir membawa mobil ayah mertua ke klinik yang dekat sekolah Haikal, biar sekalian bisa jemput Haikal dan kakaknya Oca, kedua anak itu di sekolah yang sama .


Sebuah sekolah Islam yang paling elit di kota itu. Kakek mereka memilih sekolah yang paling bagus untuk keduanya, beliau  ingin mengubah karakter si tomboy Oca,  agar lebih feminim dan di beri banyak ilmu-ilmu agama.


Hal itu berhasil, seiring waktu gadis cantik itu bisa berubah.


“Ayo, kamu masuk saja. Abi sudah menelepon dokter, kebetulan dokternya anak teman Abi,” ucapnya, ayah mertua duduk di ruang tunggu, ia khawatir melihat wajahku yang pucat.


“Sini, masuk duduk Mbak,”  ujar  dokter cantik itu dengan ramah.


“Makasi, Dok”


“Emang apa yang di rasakan sampai-sampai ayah mertua yang mengantar ke dokter. Emangnya para dokter di rumah … pada kemana,” tanya wanita itu tertawa kecil.


“Ah, jangan tanya, Dokk, mereka semua  jam terbangnya sibuk”


“Pak Bos kemana emang,  sampai harus datang kesini?”


“Dia lagi tugas di Bali satu minggu ini, besok  baru pulang”


“Apa yang dirasakan …?”


“Entahlah,  mungkin masuk angin atau aku terlalu lelah, saya  lagi persiapan mengikuti Jakarta fashion show beberapa hari lagi …”


“Oh, benar. Mbak, kan,  seorang desainer iya, aku suka mampir ke butik mbak, aku suka dengan desain terbaru Mbak,’ ujarnya kami malah sangat akrap.


“Badanku sakit, pusing, mual. Tapi …,” kalimatku terpotong dan menyambar kalender meja di depan sang dokter.


“Sepertinya dok … ternyata aku sudah telat selama dua bulan, bahkan aku tidak menyadarinya karena terlalu sibuk”


“Oh, oh, istri dokter  yang satu ini, bisa-bisanya hamil,  tapi tidak di ketahui, padahal sudah ada  mahluk kecil di rahimnya nih,” ucapnya mengarahkan alat-alat USG itu dan memperlihatkan si utun kecil yang bersemayam di rahim ini.


“Uhhh … kalau Farel sampai tahu aku terlalu sibuk, sampai tidak tahu kalau hamil, bisa-bisa dia menceramahiku satu malam,” ucapku.


Dokter cantik itu tertawa mendengarnya.


“Padahal  janinnya sudah mau  jalan dua bulan  loh Mbak,” ujarnya.


“Oh, benarkah. Pantas saja badanku rasanya tidak enak”


“Tapi selamat iya, ada penghuni baru di keluarga Taslan”


“Iya Dok”


Kami berdua keluar dari ruangan dokter.


Bapak mertua tampak menunggu dengan cemas.


“Om, selamat iya, cucunya akan bertambah lagi,” ujar dokter itu mengabari  ayah mertuaku.

__ADS_1


“Oh, iya ampun Alhamdulillah,” ucapnya wajahnya sanga bahagia.


“Rumah Om akan bertambah rame lagi”


“Iya, aku berharap cucu saya laki-laki nantinya Dok, agar kami tidak di keroyok para wanita-wanita  lagi di rumah, kami kekurangan personal lelaki di rumah,” ucap mertuaku.


“Maaf Abi, Ririn gak tahu, mungkin karena aku terlalu sibuk belakangan ini,” ucapku merasa malu.


“Farel  mendapat kado terindah di ulang tahunya kali ini, biarlah ini jadi kejutan untuk dia nanti.  Haikal akan kegirangan,  kalau dia tahu akan punya adik baru, tapi mulai saat ini, kamu harus mengurangi kesibukanmu Rin,”ucap ayah mertua dengan mata berkaca-kaca, ia merasa sangat terharu saat beliau tahu,  aku hamil lagi, ia tahu, Farel dan Haikal sangat menginginkan adik baru.


 Kami berjalan menuju sekolah Oca dan Haikal.


“Iya Bi,” ucapku, sambil menunggu anak-anak keluar kelas, kami duduk di cafe di samping sebuah butik pakaian muslim.  Mataku tiba-tiba sangat tertarik dan terpanggil untuk memakai kerudung.


“Abi ikut melihat ke arah butik.


“Apa abi tidak marah kalau Ririn tidak pakai kerudung?” tanyaku tiba-tiba,  aku ingin tahu tanggapan ayah mertuaku.


“Alangkah baiknya pakai  hijab  itu  datangnya dari dalam hati Nak, jangan karena paksaan orang lain  apalagi hanya ikut-ikutan. Abi percaya, kamu akan memakainya kalau sudah siap,” ucapnya tersenyum, sama seperti yang diucapkan Farel padaku.


Bersyukur,  aku  mendapat keluarga yang  yang berpikiran moderen dan aku di keliling para lelaki yang baik, keluarga Farel keluarga yang memiliki pemikiran yang luas.


Mereka tidak mau bersikap sok agamis yang mengukur keimanan seseorang dari penampilan,  hanya  Mbak Mona yang kadang  menyindirku untuk pakai hijab,  tetapi, aku cuek selama suamiku baik-baik saja. Namun, penampilanku juga,  selalu sopan di rumah baik keluar rumah.


“Tapi kali ini, hatiku seakan-akan terpanggil , aku sudah siap”


“Oh, bagus, Nak. Abi mendukung,” ucap Abi.


Aku masuk  ke dalam butik membeli beberapa pakaian dan ayah mertua menunggu di luar.


Saat aku keluar dari butik,  kedua anak itu  sudah keluar dari kelas juga.


“Kakek … Ibu!” Panggil Haikal berlari kearahku.


“Eeeet … Jagoan kakek sudah pulang.”


Ayah mertua menangkap tubuh Haikal,  sebelum ia menabrakku. Aku tahu beliau menjagaku dari cucunya yang ingin menabrak perutku.


Tumben ni Tante sama Kakek yang jemput kita , ada apa …? Apa hari spesial? Kita diajak makan pizza gitu, bujuk si cantik Oca sama kakeknya.”


“Boleh”


“Haaa Kakek serius, boleh?


“Ayo,” ucap ayah mertua.


“Kedua bocah itu, kegirangan” Ini pertama kalinya keinginan keduanya langsung di iyakan sang  kakek. Hari ini,  hari spesial untuk keluarga Taslan karena sebentar lagi akan ada anggota baru yang akan datang.


             Bersambung …


Jangan lupa vote dan like kakak kasih hadiah juga iya.

__ADS_1


Jangan lupa baca


“Menikah Dengan Brondong”


__ADS_2