
Akhirnya Farel mau aku bujuk pulang, ia semakin yakin, saat aku memintanya membantu membawa koleksi pakaian yang di bawa Sinta saat fashion Week beberapa hari lalu.
Farel membantuku membawa beberapa koper besar dan Sinta sudah membawa beberapa koper duluan ke Bali
.
Setelah terbang puluhan jam dari Paris, akhirnya kita tiba di Bali dan memilih salah satu hotel, aku sengaja memilih di dekat rumah sakit yang disebutkan Josua, aku berniat bisa membujuk Farel ke rumah sakit. Setelah merapikan beberapa koper besar, rasa santa lelah, merasakan tubuhku tidak berdaya, untungnya kami tiba siang di Bali, aku merebahkan tubuh ini di ranjang dan teryata Farel juga mengikutiku. Setelah beberapa saat berbaring ia berkata;
*
"Kamu selalu membuatku gila, mulai saat ini detik ini, kamu akan menjadi tawananku sampai kamu menemukan anakku," ujar Farel, memiringkan tubuhnya menarik telapak tangan ini, lalu ia jadikan batalan pipinya.
Wajahnya terlihat sangat sedih, sedetik kemudian, aku merasakan cairan hangat mengalir di punggung tanganku. Saat aku menoleh, lelaki berwajah tampan itu menangis. Aku membiarkan lelaki itu menuntaskan perasaan sedihnya, hatiku juga sedih melihatnya, tetapi bersabarlah aku pasti akan membawa anak itu padanya, aku hanya butuh waktu yang tepat, aku tidak ingin kerja kerasku jadi sia-sia.
"Aku sangat merindukan kalian Rin, aku sangat berharap suatu saat bisa melihat putraku," ujarnya dengan suara bergetar.
"Maafkan aku,"kataku.
Melihatnya menangis seperti itu, aku berpikir kalau aku orang yang sangat jahat, karena menjauhkan seorang anak dari ayah kandungnya, walau ada bagian hatiku merasa kasihan pada Farel. Namun, ada bagian hati yang jauh lebih kuat yang menolak untuk mengaku pada Farel. Maka aku mengalami sakit kepala, karena konflik batin, aku takut semua yang aku lihat saat ini dan aku dengar , hanya fatamorgana, aku takut aku kecewa nanti, bersikap waspada untuk saat ini, hal yang wajar, sampai aku temukan semua kebenaran.
Farel tertidur, aku membiarkannya tertidur. Namun, tidak denganku, aku terus berpikir bagaimana caranya aku bersikap untuk saat ini.
.
Melihat Farel tertidur di atas telapak tanganku, aku mendorong tubuhnya dengan perlahan, tetapi, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu terbangun, menatapku lama dengan matanya yang terlihat merah, karena sudah sempat tidur pulas.
"Jangan coba-coba melarikan diri dariku, Ririn"
"Aku tidak bisa bergerak kepalamu berat, telapak tanganku jadi pegal"ucapku mencari alasan.
"Biarkan seperti ini, aku ingin tidur," ucap Farel menutup mata. Akan, tetapi aku merasa tidak nyaman.
"Aku ingin ke kamar mandi, aku ingin pipis," kataku melepaskan tanganku.
Sudah beberapa lama mengenal Farel, tetapi, aku belum bisa memahami arti dari tatapan matanya , tatapan itu terkadang tidak bisa aku artikan.
“Kenapa?”
__ADS_1
"Aku hanya merasa tidak terbiasa di lihatin seperti itu, aku juga merasa malu,” kataku.
"Malu padaku? bukan itu berlebihan, aku sudah bilang padamu . Kamu istriku dan ibu anakku, haruskah kamu masih malu?”
“Hal itu wajar Pak Farel, aku ini hanya wanita biasa yang bisa grogi jika di lihatin seorang lelaki,” ucapku memalingkan wajah ini.
“Rin …! Tidak bisakah kamu mencintaiku? Aku sangat mencintaimu aku tidak tahu kenapa, aku begitu mencintaimu, padahal ada banyak wanita cantik di sekelilingku. Namun, sejak aku mengenal kamu empat tahun silam, sejak malam itu, aku sudah jatuh cinta padamu, bahkan aku merasa seperti dikutuk. Karena aku begitu merindukanmu setiap saat,” ucap Farel menatapku sangat dalam tatapan mata itu terlihat sangat tulus.
Pengakuan cinta yang di lakukan Farel tidak lantas membuatku percaya begitu saja, bahkan aku tidak tahu itu ketulusan atau hanya pura-pura. Terlalu sering terluka dikecewakan sama pria, membuat hatiku keras seperti batu, sulit untuk percaya untuk beberapa hal.
Aku hanya tersenyum kecil pada Farel”Apa kamu mau meminum sesuatu?” tanyaku ingin berdiri, tetapi tangannya menarik tubuhku terjatuh diatas tubuhnya.
“Apa sesulit itu menerima cintaku?” tanya Farel meletakkan dagunya di pundak ini, kini tubuh berotot keras itu memeluk tubuh ini, dari belakang.
“Aku belum bisa menjawabnya Pak Farel”
“Jangan memanggilku dengan panggilan itu. Panggil saja aku papi atau ayah, atau abi , gitu, jangan perlakukan aku seperti orang asing Rin”
“Aku tidak terbiasa, mungkin kalau dia ada, mungkin aku akan memanggilmu seperti itu”
Dalam kamar hotel di Bali.
Lalu mau bagaimana, aku tidak bisa menjawab iya, begitu saja. Bagaimana kalau ia sudah menikah, dan sudah memiliki anak, bukanya hidupku semakin tragis, nantinya?
"Iya, aku sangat lapar," ucapku berharap ia membawaku makan di luar, aku berpikir melihat suasana luar akan membuat otak ini akan jernih berpikir.” “Aku ingin keluar untuk melihat lokasi butik itu dulu”
“Untuk apa?”
"Aku mau kerja, ingin melihat lokasi butiknya”
"Tidak usah bekerja, aku akan mencukupi segala kebutuhanmu.” Aku kaget mendengarnya, bukanya beberapa hari yang lalu ia mendukungku, tetapi kenapa kali ini ia kembali seperti killer, ia selalu berpikir, kalau aku akan melarikan diri.
"Bukan hanya untukku, ada banyak mulut yang aku harus kasih makan Pak … Kalau aku tidak bekerja, ayah , ibuku dan kedua anakku bagaimana”
"Kalau begitu bawa aku bertemu dengan orang tua dan anak-anakmu"
"A-a-apa, itu tidak mungkin , aku belum siap,” ucapku lemah, akan banyak masalah kalau Farel meminta bertemu dengan keluargaku, Dimas kata ayah masih sering satang ke rumah bersama mantan ibu mertuaku.
__ADS_1
Farel duduk di berjongkok lagi, lalu ia berkata dengan wajah terluka.
"Kenapa kamu tidak bisa mencintaiku sedikitpun Ririn, aku sudah menunggumu mencintaiku selama lima tahun, katakan padaku bagai mana agar kamu mau mencintaiku dan mau membawaku ke keluargamu”
"Pak Farel ak-"
"Tolong, jangan lakukan itu padaku Rin, aku juga manusia, aku butuh dicintai dan disayang," ujar Farel matanya terlihat sangat sendu.
Bukanya aku tidak mau aku juga akan sangat senang jika Haikal bertemu dengannya, tetapi aku butuh waktu, hingga semua yang dikatakan itu benar adanya kalau ia benar-benar belum menikah dan keluarganya mau menerima kami berdua. Aku hanya diam dan menatap Farel
"Tatapan matamu sering sekali membuatku salah menduga, tatapan matamu membuatku berpikir kalau kamu jatuh cinta padaku, padahal tidak,” ucap Farel, ia melepaskan kemeja yang di pakai, akhirnya luka di pundak itu samar-samar terlihat olehku.
"Apa yang terjadi dengan pundakmu?' tanyaku memberanikan diri.
"Itu luka … bukti nyata, untuk semua cintaku padamu, aku berharap kamu percaya padaku,” ujar Farel
Tidak ingin ia berpikir aku selalu bersikap dingin dan tidak peduli padanya
aku bertanya." Siapa?"
"Kamu"
"Aku ...?"
"Kamu tidak percaya padaku kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu Rin, memang awal mendekatimu untuk membalaskan dendam kakakku. Namum, seiring berjalan waktu aku jatuh cinta padamu"
"Apa kamu kecelakaan? Kapan? Di mana" tanyaku, saat melihat bekas luka di pundak itu.
“Iya saat kamu pergi meninggalkan rumah, malam itu, setelah aku lepas dari para preman itu , aku mencarimu kemana-mana, dari malam bahkan sampai pagi, mengelilingi semua tempat, aku kelelahan karena terus mencarimu dan mengalami kecelakaan tunggal. Aku kelelahan, lalu menabrak pembatas jalan dan mobilku terjun dari jembatan di Senen Jakarta Pusat. Jadi jangan pernah kamu berpikir, tidak melakukan apa-apa untuk kamu Rin, aku juga hampir kehilangan nyawa dan aku hampir satu tahun berada di rumah sakit untuk mendapatkan pemulihan. Apa kamu belum bisa percaya padaku?”
Bersambung …
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
__ADS_1
Follow ig sonat.ha dan
Fb Nata