
Saat pesawat itu di delay, otakku mulai memasang sinyal waspada, aku berpikir kalau Farel yang meminta menunda. Karena aku berpikir orang kaya bisa melakukan apa saja.
‘Apa ini kerjaan, Farel?’ Aku mulai gelisah.
Karena panik, saat bertemu Farel, aku sampaikan melupakan kalau Sinta memintaku , tidak usah ke Taiwan. Tetapi langsung ke Paris.
“Oh, iya aku melupakan itu,”ucapku berdiri.
“Kenapa Teh? Apa ada masalah lagi?” Netta ikut panik, ia berdiri juga.
“Kamu tetap di sini aku akan turun,” kataku menurunkan koper dari laci penyimpanan barang.
“Haaa Kenapa, Teh?” Mata wanita itu melotot.
“Aku ketinggalan sesuatu yang sangat penting di ruang tunggu, kamu duluan saja berangkat ke Taiwan. Ingat jangan bikini gosip sembarangan,” pesanku padanya, aku sengaja tidak memberitahukan, kalau aku akan Paris.
“Iya, Teh," jawab Netta masih menatapku dengan bingung.
Berjalan menuju pintu, ke betulan tangga pesawat masih ada dan pintu juga belum di tutup.
*
“Mbak, saya ingi turun, saya ketinggalan barang penting di ruang tunggu, tadi,” ucapku ke salah satu pramugari.
“Tapi pesawat ini sebentar lagi akan berangkat, Bu”
“Tidak apa-apa Mbak, saya akan naik pesawat berikutnya, nanti.”
“Baik, Bu,” ucap pramugari ramah.
Setelah diizinkan keluar, aku mengangkat koper kecil itu dengan satu tangan berjalan cepat meninggalkan badan pesawat. Aku tidak menoleh kanan kiri tetapi hanya berjalan dengan fokus, aku takut Farel mengikuti
Kriiing ….!
Sinta calling ….
“Iya Sin”
“Rin, jadi mengambil penerbangan tujuan Paris, kan?”
“Iya ini mau beli tiket dulu”
“Tidak usah, sudah aku balikkan, buka email mu,” pintanya di ujung telepon. “Penerbangannya jam jam satu," ujarnya.
__ADS_1
“Haaa … ini sudah setengah satu, lewat lima menit,” ucapku panik.
“Iya aku teleponin dari tadi, kamu tidak angkat. Ya, sudah cepat!” Pinta Sinta.
“Adu ini gara-gara si burung kutilang Netta ni,” rutukku kesal.
Berjalan cepat, menggunakan, jurus langkah seribu, menuju counter chek-in menunjukkan ponsel pintar di tanganku.
“Oh, cepat Mbak penerbangan menuju Paris tersisa waktu 20 menit,” ujar petugas membuatku berlari lagi, tubuh ini basah karena keringat.
“Oh iya ampun. Entah berapa kali lagi aku berlari-lari lagi di bandara ini" Menyeka keringat membasahi dahiku, untung aku pakai sepatu heels pendek, kalau saja pakai sepuluh centi, aku yakin kaki ini, akan gempor.
Berlari menuju pesawat yang lebih besar lagi, berlari masuk, tidak melihat jelas classnya.
Bahkan tidak memperhatikan kursi yang aku ingin duduki. Aku hanya berlari menuju pesawat berlambang burung garuda itu, saat tiba, dengan napas tersengal-sengal, aku menjatuhkan panggulku di kursi nomor sembilan class A hanya itu, sekilas yang aku perhatikan di layar ponselku tadi.
Dengan tubuh berkeringat dan kaki terasa karam, akibat berlari, membuatku merasa lemas untuk kedua kalinya, rasa lelah itu membuatku, ingin pingsan rasanya.
“Aku harus banyak ber-olah raga ini, sepertinya aku bertambah gemuk,” ujarku menyandarkan tubuhku dan merentangkan tanganku dengan gaya terkulai lemas. Karena aku memang benar-benar ingin pingsan, tenaga makanan yang aku makan tadi pagi, ternyata hanya cukup, saat aku berlari pada ronde putaran pertama. Saat-saat Farel mengejarku tadi.
Sekarang, aku jadi merasa sangat lapar dan loyo.
“Akhirnya, aku bisa kabur dari Farel lagi” gumamku, dengan tubuh bersandar di kursi.
“Bu, tas tangannya jatuh,” ucapnya menyerahkan kembali, padaku.
“Oh, makasih Mbak, Oh, iya ampun aku ketiduran,” ucapku membenarkan kaca mata hitam yang aku pakai.
“Iya Bu, sebenarnya ini bukan tempat duduk ibu, tempat duduk Ibu ada diroom depan, class VIP nomor enam, di sebelah sana, bukan nomor sembilan, kenapa ibu malah pilih room ini?” tanya Pramugari berwajah cantik itu dengan ramah.
“Lah, lalu?” tanyaku dengan memasang wajah panik.
“Tadi Masnya mengalah, mungkin beliau tidak enak menganggu Ibu yang sedang tertidur pulas,” ucapnya lagi.
‘Iya ampun memalukan sekali, tetapi pangeran berkuda putih dari mana yang membiarkanku tidur tenang tadi? Hatiku, bertanya penasaran’
Saat aku mencoba melirik pemilik kursi yang aku sabotase itu, benar, ia seorang artis muda tanah air, saat aku ingin menyapa, rupanya, ia juga sedang tidur.
“Oklah, mungkin lain kali, menyapanya, tidak enak menganggu orang yang sedang tidur” ucapku duduk kembali.
Pramugari bertanya lagi; “Mau makan apa Bu?”
Satu kebetulan saat lapar ada tawaran makan.
__ADS_1
“Saya ingin makan nasi kuning, ada Mbak?”
“Oh, ada Bu, di tunggu, iya” Berjalan menuju dapur kabin.
Aku tersenyum kecil saat menyadari kalau Sinta memesan tipe first clash untukku, ia membuatku, menikmati kenyamanan dan segala fasilitas mewah untuk penerbangan kali ini.
“Kenapa Sinta memesan ini, untukku? Perhatian yang luar biasa,” gumamku tersenyum senang.
Aku masih ingat kata-kata Sinta padaku;
“Rin, nikmati saja hidupmu, kamu bukan Ririn yang dulu lagi saat ini … kamu sudah seorang desainer, aku yakin kariermu akan melejit suatu saat nanti. Jadi, kalau kamu ingin bertemu dengan orang-orang hebat, maka kamu juga harus masuk ke dunia mereka, bila perlu, duduk dan makan bersama mereka ,” ucapan itu yang sering Sinta ucapkan, untukku. Niatnya memang baik membawaku ingin lebih maju lagi, agar tidak di rendahkan orang lain.
Tetapi pemikiranku saat ini, sejak punya anak-anak sudah berbeda.
‘Prinsipku, bergayalah sesuai isi kantong sendiri’ itulah prinsipku saat ini.
Anak-anak jadi prioritas paling utama dalam hidup ini. Tetapi bagi Sinta tidak, aku bisa memaklumi pemikiran Sinta, karena ia belum punya anak.
Walau seperti itu, apapun masukkan dan apa yang Sinta berikan padaku, aku selalu menghormatinya. Baik penerbangan yang ia pesan untukku kali ini, aku berterimakasih untuk itu. Karena saat ini, aku mendapat pelayanan yang biasa dinikmati kalangan elite, para pejabat dan artis.
Aku tidak tahu tujuan dia memesan, first clash untuk kali ini, mungkin Sinta ingin memperlihatkan, betapa mewahnya pelayan yang biasa ia nikmati, kalau travelling ke berbagai negara. Tetapi apapun tujuan dia, aku berterimakasih untuk semua itu, Karena aku menikmati perjalanan yang sangat nyaman.
‘Terimakasih orang baik’ ucapku dalam hati.
Menikmati hidangan pembuka dan penutup yang disajikan sang pramugari berwajah cantik itu. Mereka memperlakukan diri ini, bak seorang ratu. Setelah kenyang mata tidak bisa terpejam lagi, padahal sudah malam, semua orang sudah pada tidur, aku tidak bisa tidur, karena sudah sempat tertidur pulas tadi.
Aku berharap setelah menonton mungkin akan merasa lelah dan akan tertidur, karena perjalanan masih jauh, kalau aku tidak tidur yang ada kepala akan terasa pusing nantinya.
Ku lirik jam tam tanganku sudah jam sepuluh malam, tetapi mata tidak bisa terpejam.
‘ Mungkin kalau aku membersihkan wajah ini dengan air, barang kali bisa tidur’ ucapku dalam hati.
Aku berjalan menuju kamar mandi. Tetapi saat berjalan mata ini … membelalak kaget, ada Farel duduk sedang menonton layar televisi, ia menatap layar televisi dengan fokus dan hearsed menutup daun telinganya.
Aku terdiam sejenak, ingin mundur, tetapi aku menyadari kalau Farel tidak melihatku dan mungkin ia juga tidak tahu kalau aku, satu pesawat dengannya. Ia mungkin berpikir kalau aku sudah terbang menuju Taiwan.
'Lalu a-a-apa yang terjadi? bukannya dia tadi ingin pulang ke Jakarta? Lagi-lagi fellingku eror' ujarku panik.
Bersambung ….
Maaf update lama, iya Kakak, ada urusan dunia nyata buang sangat urgent.
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,
__ADS_1
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI