
“Kita belum bisa pulang Rin, kamu harus istirahat dulu, setidaknya beberapa malam, kasihan dia kalau kamu langsung jalan”
“Baiklah, aku akan istirahat di sini”
Tetapi apa aku aman di sini? Hatiku bertanya-tanya.
Farel mengangkat nampan makan, meletakkannya di atas nakas,
“Biar aku yang menyuapi” Ia menatapku sembari menunggu jawaban.
Kali ini aku menurut, mimik wajah Farel tampak terkejut, tidak percaya, saat aku menurut padanya. Kalau biasanya aku selalu menolak apapun yang ia lakukan dan menolak perhatian yang ia berikan. Tetapi saat ini; hati, otak dan tubuhku lelah, jadi, aku lebih baik mengalah, toh yang ia lakukan untuk anaknya sendiri.
Kalau Farel memang menginginkan sebuah pernikahan, baiklah aku terima,
Urusan nyawa terancam, biarlah dipikirkan nanti, aku ingin menjalani apa yang ada di depan mata.
Sebelah alisnya terangkat saat aku membuka mulut, membiarkannya menyuapi, tetapi ia tidak banyak bicara, hanya ada suara sendok menyentuh mangkok hanya itu yang terdengar. Aku diam ia diam juga.
Suasana dalam kamar itu sangat canggung dan hening, Farel lebih banyak diam, sejak bertemu dengan teman-temannya, sifatnya tidak bisa aku tebak.
Selesai memberiku makan, ia izin keluar.
“Aku keluar sebentar, aku akan meminta seorang suster untuk menjagamu di sini, nanti aku akan datang lagi”
“Baiklah, tidak masalah”
Matanya, menatapku dengan ragu, seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu.
‘Jangan khawatir, aku akan siap mental untuk mendengar apapun yang ingin, kamu katakan padaku Pak Farel, tidak usah ragu' ucapku dalam hati.
Farel tampak beberapa kali menarik napas berat dan ia ingin bicara tetapi menunda.
Ia keluar, tidak lama kemudian seorang perawat datang untuk menggantikan Farel untuk menjagaku, saat Farel keluar dan digantikan perawat, aku bernapas lengah, aku jauh merasa tenang saat perawat wanita itu yang menemaniku.
“Sus, tolong bantu aku duduk, aku ingin ke kamar mandi, dari tadi aku menahan diri”
“Lah, kan suaminya tadi ada kan Bu, kenapa tidak meminta bapaknya yang membantu?”
“Dia lagi repot, banyak urusan,” jawabku seadanya.
"Hati-hati Bu, soalnya rahim Ibu dalam pemulihan"
Berdiri dengan sangat hati-hati ingin ke kamar mandi, baru melangkah selangkah saja aku merasa perutku ingin jatuh.
“Aduh, kok sakit bangat iya, Sus, aku merasa perut ini ingin jatuh”
“Aduh jangan dipaksa Bu, itu artinya rahim ibu belum pulih, ibu tidur saja lagi, berarti ibu harus Bed Rest”
__ADS_1
“Aduh, itu sulit Sus, itu artinya aku harus melakukan semuanya dari tempat tidur ini?”
“Iya Bu, termasuk seperti saat ini,” ujar perawat membawa pispot.
“Haaa …? apa aku separah itu Sus, aku tidak akan nyaman saat melakukannya. Aku pikir saya tidak separah itu”
“Ibu, semua juga pasien di rumah sakit ini, pasti tidak akan nyaman saat buang pipisnya di sini, tetapi ini kan demi kebaikan Debaynya," ucap sang perawat membujukku untuk menggunakan wadah itu untuk pipis.
“Sus, rasanya sangat sulit membuang ampas di dalam itu”
“Berbaringlah Bu, saya akan melakukannya. Suami Ibu kan Dokter, harus tidak masalah, kan?”
“Sayangnya aku baru kali ini jadi pasien rumah sakit, dan baru kali ini jadi pasien dia juga,”
“Enak kalau dirawat suami sendiri, apalagi suaminya seorang dokter, tampan lagi, melihat perlakuannya kemarin sama Ibu sungguh aku jadi Baper, berharap Tuhan mengirim satu lelaki seperti dokter itu untukku,” ujar suster tersenyum malu-malu.
‘Hadeh ambil saja dah … buat suster gratis, suster hanya melihat luarnya saja, tidak tahu keadaan sebenarnya’ aku membatin.
Aku berbaring dengan perasaan bercampur aduk di suruh pipis di dalam wadah itu membuat perasaanku bercampur aduk , malu, marah, kesal semua menjadi satu.
Aku harus membujuk bagian intiku agar mau membuang ampasnya di dalam pispot, saat lagi konsetrasi tiba-tiba pintu terbuka Farel masuk mataku melotot panik, wajah ini terasa panas.
‘Oh, memalukan sekali ini … ngapain sih dia masuk saat aku sedang pipis, harusnya dia datang saat aku selesai buang ampas’ aku bermonolog, wajahku terasa terbakar saat Farel meletakkan bag hitam di atas nakas dan ia duduk di kursi di samping kepalaku.
“Sudah Bu?” Perawat berwajah cantik itu mendekat.
“Apa kamu merasa sakit”
‘Hadeh, bukan sakit Pak Dokter, tapi malu’ jawabku dalam hati.
“Tidak”
“Tidak kok kamu meringis seperti itu?”
Aku membuka mata menatap wajah tampannya.
“Aku sakit saat berjalan, makanya pakai baskom itu untuk pipis”
“Itu bukan baskom Ririn, itu pispot”
“Ah, terserahlah ... mau pispot kek, mau ember kek, pokoknya pipis di situ tidak bisa keluar, biasa pipis di ****** disuruh di situ,
tidak bisa keluar, aku ingin ke kamar mandi," ucapku sewot. Perawat itu tersenyum kecil saat aku mengomelinya.
“Baiklah duduklah." Farel membuka bag yang ia bawa dan mengeluarkan kain elastis.
“Apa itu?”
__ADS_1
“Aku akan memakaikannya, ini penyangga perut hamil, agar kamu merasa nyaman”
Farel memintaku duduk untuk memasang benda itu untuk aku pakai.
“Angkat pakaiannya ke atas,” pinta Farel, aku menurut mengangkat pakaian pasien rumah sakit itu sampai ke atas dada memperlihatkan perut yang buncit padanya. Ada perasaan sangat malu saat ia melihat tubuh setengah bugil ku, mungkin untuk Farel itu sudah biasa, karena ia seorang dokter, tetapi bagiku itu hal yang memalukan, karena Farel bukan suamiku atau bukan pacar untukku. Ia berusaha memakaikannya tetapi. Tidak tepat saat aku memakai saat duduk.
“Aku akan mengangkat mu, untuk berdiri sebentar.” Farel meminta berdiri di lantai dan memakai kain elastis mirip gendongan itu di perut.
"Angkat tanganmu tinggi,” pinta Farel saat aku mengangkat dengan sikap ragu karena malu.
“Perlu saya bantu Dok?” tanya perawat cantik itu menawarkan jasa.
“Tidak usah Sus, terimakasih sudah membantu, biar saya yang merawat,” ujar Farel meminta perawat cantik itu keluar.
“Kenapa disuruh pergi, aku mau meminta untuk membantuku”
“Mulai saat ini aku yang merawat kalian berdua, katakan apa yang kamu butuhkan," ucap Farel membantu tidur kembali di ranjang.
“Tapi ini hanya perempuan yang tau”
“Katakan saja padaku, aku akan melakukannya dengan baik,”
‘Ini memalukan, tetapi aku malas berdebat, baiklah’ ucapku dalam hati, sepertinya aku akan membuang rasa malu dan gengsi ku, saat Farel merawat ku di rumah sakit ini.
“Baiklah, kalau Pak Farel memaksa, tolong belikan aku bra ukuran yang lebih besar,” ujar ku tanpa malu.
“Baiklah ukuran berapa?”
“Ha, Bapak mau beli? Ini sudah malam, ukuran 42"
"Ha? itu tidak kegedean?" Matanya, menatap bagian dada ini
'Hadeeeh ... kalau mau beli tinggal beli kenapa protes'
"Dia membengkak saat aku hamil," ujar ku menatapnya datar.
"Oh, tidak apa-apa.” Farel mengeluarkan ponsel miliknya dan ia menelepon seseorang untuk membawa perlengkapan untukku.” Sudah, tunggu beberapa menit lagi, ada lagi?”
"Tidak ada"
"Mulai saat ini, aku yang akan merawat mu di sini, jika kamu sudah pulih, kita akan pulang ke rumahku, kita akan tinggal bersama"
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA
share kasih review, kasih hadiah juga boleh …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.
__ADS_1
Jangan lupa follow IG @sonat.ha