
Mendengar Mas Virto menyusul sampai ke Paris membuat kepalaku bertambah sakit. Aku tidak tahu kenapa para pria-pria ini tidak mau melepaskan ku.
“Bagaiman donk … Apa yang harus aku lakukan,” ucap memegang batang leherku yang tiba-tiba terasa mengeras dan sakit.
“Gini aja deh, dari pada kamu pusing, jika lelaki yang bernama Virto itu ingin menemui mu, suruh saja dia datang ke sini”
“Tapi ini-”
“Tenang Rin, tidak akan terjadi apa-apa, ada aku di sini dan kedua orang yang akan jadi asisten mu itu, mereka akan datang dan akan menginap di sini sampai acara show nya selesai. Jadi tidak ada yang berpikir kamu macam-macam,” ujar Sinta.
Aku tahu wanita yang berprofesi sebagai dokter psikolog ini, seperti Mbah google yang punya jawaban setiap kali ada pertanyaan.
“Baiklah, tapi apa kamu yakin Farel tadi tidak mengenalmu?” tanyaku khawatir.
Dari ribuan manusia berpakaian jubah putih dalam aula besar itu, aku yakin suamimu tidak mengenalku,” ucapnya dengan yakin. Tetapi, biar seperti itu kita harus tetap hati-hati,” ucapnya kemudian.
Saat sedang mengobrol dengan Sinta, ponselku berdering, tidak ada nama pemanggil dalam layar ponselku. Namun, dari angka belakangnya sepertinya aku mengingatnya kalau itu nomor Virto.
“Siapa ?” tanya Sinta ikut melirik ke layar ponselku.
“Angkat gak iya, sepertinya Virto,” ucapku menatap Sinta.
“Sudah angkat,” pinta Sinta dengan mimik wajah yang dibuat serius.
“Oh Baiklah ….
Halo!” sapaku dengan detak jantung yang berdetak tidak seimbang.
“Rin, ini saya Virto”
Aku terdiam, butuh waktu untuk memberinya jawaban yang tepat.
“Iya Mas, ada apa?”
“Boleh bertemu, sebentar?”
“Mas Virto, di mana?”
“Di Hotel Shangri-La Paris”
“Oh itu dekat ke sini, suruh saja ia kesini,” bisik Sinta.
“Oh, baiklah Mas, gini saja Mas ke apartemen teman saya saja, nanti aku Sherlock alamatnya”
“Baiklah” Sambungan telepon di tutup.
__ADS_1
Aku mematung dalam diam, aku tidak tahu apa yang terjadi nantinya, kalau Farel tahu aku bertemu dengan Virto. Tetapi di sisi lain, aku tidak tega melihat Virto, ia sudah jauh-jauh datang dari Indonesia hanya untuk bicara denganku.
Seperti yang dikatakan Damar, menghadapinya jalan yang termudah dari pada menghindar, menghindari masalah tidak akan membuat masalah itu selesai, malah tambah berkepanjangan, hal yang tepat menghadapinya sendiri.
*
“Hai, Rin! Kenapa malah bengong ayo ganti pakaianmu, nanti Virto akan datang, dari hotel itu, ke tempat ini, hanya sepuluh menit, jalan kaki,” ujar Sinta
Menghela napas panjang, rasa di dalam dadaku kembali berkecamuk.
“Baiklah, aku akan hadapi dia dulu, apa yang dia mau lagi dariku”
“Iya, harus begitu Rin, ada waktunya kita berani maju menghadapi kalau memang di butuhkan, tetapi ada saatnya kita menghindar, menghindar bukan karena takut, tetapi karena tidak ingin semuanya bertambah kacau”
“Iya,”ucapku sok berani, padahal nyaliku ciut seperti kerupuk di siram air.
Aku takut Farel mengetahui semuanya.
Setelah berpakaian sopan dan sudah menyiapkan mental lahir batin, kini aku menunggu Virto datang. Sekitar lima belas menit, akhirnya lelaki berbadan tinggi tegap itu tiba di apartemen Sinta.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam!” jawabku dan Sinta mempersilahkan Virto duduk.
Wajahnya tampak sangat sungkan, saat ia masuk ke rumah Sinta.
“Tidak apa-apa Pak. Paris juga salah satu kota tidak pernah tidur,” balas Sinta yang ikut bergabung dengan kami.
“Iya, terimakasih Mba, sudah menerima saya bertamu,” ucapnya lagi, ia menyerahkan tentengan bag hitam.
Ia membawa Macarons sebagai buah tangan . Saat bertamu malam itu, saat Sinta menyajikan makanan beraneka warna-warna cantik itu, aku tersenyum kecil potongan ingatan masa lalu muncul lagi.
Oleh-oleh khas Prancis itu pernah ia bawa pulang ke kontrakan kami, saat kami bersama dulu, saat ia bertugas ke Prancis .
Damar dan Jeny berebut saat itu, karena warnanya sangat menarik di simpan terlalu lama , Jeny, tidak mau memakan hingga lapukkan, karena tidak bisa dimakan lagi, Lalu Jeny menangis.
Saat itu Virto berjanji pada Jeny, jika ia kembali suatu saat nanti Ke Paris, ia akan membelikannya untuknya satu box besar, mendengar janji manis itu, putri kecilku, berhenti menangisi kue macarons yang sudah jamuran itu akhirnya , ia bersedia untuk dibuang.
Aku tersenyum kecil saat melihat aneka kue-keu cantik itu disajikan saat ini.
“Aku membeli banyak untuk Jeny, kamu boleh memakan yang ini,” ucap Virto, aku tertawa sedih, mengambil satu biji dan memakannya.
Melihat ekspresi wajahku , tiba-tiba Sinta pamit membiarkan kami bicara berdua.
“Sebaiknya kalian bicara berdua, tuntaskan segala permasalahan yang kira-kira belum di selesaikan," ujar Sinta masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk kecil.
”Apa kabar Rin?” tanya Virto menatapku dengan segan.
Jika Farel tidak bisa mengalihkan tatapannya dari aku, maka pria ini, berubah. Ia bahkan tidak berani menatap wajahku, ia merasa tidak enak karena menemui ku. Mungkin ia tahu kalau aku masih istri Farel.
“Aku baik Mas, tapi untuk apa jauh-jauh datang menemui ku ke sini Mas, kenapa tidak bisa melupakan masa lalu?”
“Aku tahu Rin, aku tahu ini salah, anggap saja ini , terakhir kali ini aku menemui mu,” ucapnya dengan suara memelas.
“Apa Mas sakit?” tanyaku menatap wajahnya dan mengingat perkataan Damar.
Ia tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin meminta maaf padamu Rin, karena aku membuat hidupmu dalam bahaya”
“Tidak apa-apa Mas, mari kita lupakan masa lalu, cobalah untuk memulai membuka lembaran baru dalam hidupmu,” ucapku.
Ia tertawa getir, wajahnya terlihat sangat sedih.
“Aku sudah mencobanya Rin, saat itu, saat kamu pergi meninggalkanku, satu tahun kemudian aku mencoba membina rumah rumah tangga dengan perempuan pilihan teman dan ayahmu juga tahu. Niatku, agar aku bisa melupakan kamu. Tetapi tidak bertahan satu tahun, wanita itu meninggalkanku dengan alasan, aku tidak pernah memberinya cinta, aku sudah mencobanya Rin. Tapi jangan salah paham, aku datang kemari bukan untukku memintamu kembali padaku.
Pertama aku ingin meminta maaf padamu, apa kamu memaafkan?” tanya Virto, tiba-tiba ia meminta maaf seperti itu, seakan-akan ia mau pamit pergi ke tempat yang jauh.
“Iya aku memaafkan Mas, ini semua tidak semua sepenuhnya kesalahanmu,” ucapku menatapnya dengan tatapan hangat.
“Makasih Rin, karena kamu mau memaafkan, tadinya, aku ingin memberikan tiket ini untukmu, kamu meninggalkannya, aku berpikir itu sangat berharga untukmu karena jadi seorang desainer sudah cita-citamu sejak lama.
Maaf saat itu, aku tidak mendukungmu sepenuhnya, aku hanya memberikan mesin jahit kecil, saat mendengarmu akan mengikuti Fashion Show di Paris, aku sangat senang dan ikut bahagia untukmu. Aku ingin melihatmu untuk terakhir kalinya, apa boleh?”
“Apa semua baik-baik saja? “ tanyaku menatap wajahnya.
“Iya,” jawabnya singkat.
Bersambung …
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“Menikah Dengan Brondong”
Di jamin menghibur kakak semua di situasi saat ini dan ceritanya, menghibur.
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata