Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Mendapatkan dukungan


__ADS_3

Pada saat malam kedua, aku kembali datang mengetuk kamar eyang, berharap wanita tua itu, menerimaku di kamarnya, berada sendirian di kamarku malam itu, membuatku merasa semakin sedih. Jadi, aku memutuskan, memberanikan diri mengetuk pintu kamar eyang.


Tok ... Tok …!


"Iya masuk," suara orang tua terdengar dari kamar.


Aku masuk membawa bantal, kedua alisnya terangkat ke atas.


"Eyang ... aku tidur di sini iya, aku takut tidur di kamarku sendirian,"ucapku mengelus perutku yang buncit.


Tiba-tiba wajahnya menurun, menjadi tatapan yang iba, mungkin ia tidak tega melihatku tidur sendirian dalam keadaan hamil.


"Baiklah," ucapnya akhirnya mengalah.


"Terimakasih Eyang," aku memeluk tubuh tuanya dengan senang, baru kali ini, aku merasa sangat nyaman di depan orang lain. Mungkin karena bayi yang aku kandung masih ada hubungan dara


dengan oran tua itu.


Bahkan saat aku memeluk dan mencium pipinya, ia tidak menolak, ia bahkan mengusap perutku dan mengusap punggung tanganku.


“Maaf kemarin aku melukaimu, Nak,” ucapnya dengan sedih ”Kamu harus kuat sayang, apapun yang terjadi nantinya, Eyang bisa melihat kamu orang yang baik, luka batin lah yang membuatmu salah memilih jalan," ucapnya dengan lembut, membuat hati ini terasa tersentuh.


"Terimakasih Eyang”


“Tidurlah terlebih dulu, nanti aku tidur sangat malam, karena Eyang punya kebiasaan susah tidur," Ia memintaku tidur duluan.


"Eyang tidurlah bersamaku, aku akan tidur jika ada seseorang yang bercerita, aku juga susah tidur belakangan ini," kataku membujuk.


Eyang tidak bisa menolak, ia mengarahkan kursi rodanya dan aku membantunya untuk berbaring di denganku.


Saat ia berbaring aku memeluknya rasanya sangat nyaman, kalau biasanya orang tua ada bau tubuh yang khas, tetapi, eyang tidak, ia wanita yang sangat bersih dan selalu menjaga penampilannya walaupun sudah terlihat sepuh.

__ADS_1


Dulunya wanita itu, istri seorang pejabat, jadi Eyang masih menerima uang pensiun dari mendiang suaminya. Semua ia ceritakan diceritakan padaku, tentang masa lalu kehidupannya dan tentang rumah tangga anak-anaknya.


Ia bercerita panjang lebar, saat aku memeluknya, ia membelai pucuk kepalaku dengan lembut, kata-katanya sering sekali membuatku ingin menangis. Ternyata ia wanita yang luar biasa yang bisa memberi nasihat-nasihat yang menenangkan jiwa, ternyata eyang wanita yang mengayomi.


Sayang sekali, kalau anak dan cucunya tidak bisa mengambil hatinya, padahal ia aslinya wanita yang lemah lembut dan taat pada agama.


Mataku sudah mulai sangat berat, saat aku menoleh ternyata Eyang sudah tertidur pulas dengan tangan masih di atas kepala, aku merasa sangat mengantuk seperti habis makan obat tidur.


Eyang sudah mulai mendengkur, saat aku ingin menarik selimut, aku mendengar suara Farel di depan kamar Eyang, sepertinya lelaki itu mencari ku lagi.


Aku mendengar pintu kamar Eyang terbuka,


"Abi, lihat Ririn tidur sama Eyang," ujar Farel, mendengar suara mereka sangat jelas, tetapi aku tidak mau bangun. Aku pura-pura tidur pulas.


"Bagaimana ia bisa seakrap itu sama ibuku, selama ini belum ada orang yang mendekatinya, setelah kematian ayah," ujar pak Ali.


"Tapi Pak, hanya Non Ririn yang membuat Eyang jadi tenang dan bisa tertawa senang seperti hari ini, obat yang biasa selalu di tolak saat Non Ririn yang memberinya, ia mau meminumnya,” ujar perawat eyang.


‘Ada apa dengan bapak mertuaku ini? Apa ia jadi perhatian padaku?’ tanyaku dalam hati.


Aku jadi ingat ungkapan ini; Berikanlah cinta yang tulus pada siapapun, kamu akan mendapatkan balasannya, saat aku akrab dengan eyang, bapak mertuaku berubah.


Padahal beliau salah satu orang yang menentang aku datang ke rumah mereka. Karena Farel sudah bertunangan dengan anak sahabatnya, tetapi, malam itu, Ayah mertuaku seakan-akan memberitahu lampu hijau.


Ayah Farel menjadi perhatian padaku, saat ia tahu aku bisa menaklukkan hati ibundanya, selama ini, belum ada keluarga yang dekat dengan eyang, bahkan cucunya menyebutnya gangguan jiwa dan tidak berani mendekat.


Karena sering teriak-teriak dan marah-marah. Namun, saat bersamaku Eyang berubah jadi wanita yang lemah lembut dan mengayomi.


Sebenarnya ia bukan gila ataupun kasar, eyang hanya ingin keluarganya menganggapnya sebagai keluarga dan menerimanya bergabung dengan keluarga. Namun tidak ada yang menerimanya, itulah membuatnya bertingkah seperti itu, demi mendapatkan perhatian mereka semua.


“Lukanya sudah sembuh Pak," jawab suster.

__ADS_1


“Tapi …. Tidak apa-apa Ririn tidur dengan Eyang, Sus?” tanya Farel terdengar khawatir.


“Ibu saya pernah hamil juga Rel, ia tidak akan menyakiti cicitnya, Ririn tahu itu,” ujar Pak Ali terdengar sewot.


“Farel, hanya khawatir Abi, bagaimana kalau Eyang nanti menendang perut Ririn,” ujar Farel lagi.


Kedua bapak anak itu tampak berdebat membela masing-masing diantara kami berdua.


“Iya ampun Rel, kaki ibuku, kan, sakit. Iya udah sana angkat istri kamu kalau kamu khawatir,” ujar Pak Ali, seolah-olah memberi sinyal kalau ia sudah mau menerimaku sebagai menantu karena aku dekat dengannya ibunya.


‘Terimakasih Eyang, berkat eyang bisa menerimaku, bapak mertua ini, sepertinya sudah mau menerimaku’ucapku dalam hati.


“Benar Bi, boleh?” tanya Farel bersemangat.


“Iya kalau kamu khawatir ibuku akan menendang perut istrimu, iya bawa saja,’ ujar Pak Ali, terserat makna tersembunyi dalam dukungannya.


“Tidak usah Pak Farel ... kasihan, nanti eyang kecewa lagi. Tadi Non Ririn susah payah, untuk meminta izin tidur disini,” ucap Suster, ia selalu membelaku dan memberi kesan baik tentang diri ini, pada keluarga Farel.


"Tuh ... dengar, Ibuku akan sedih lagi nanti kalau kamu membawa pergi Istrimu dari sini,"ujar Pak Ali.


"Baiklah, biarkan mereka tidur, besok suruh Ririn serapan bersama kita di rumah, kalau ibu sudah tenang bawa juga," ucap Pak Ali


"Baik Pak" suster yang merawat eyang mengangguk setuju.


Farel dan ayahnya keluar dari kamar, kembali kerumah utama, malam itu , aku merasakan tidur dengan sangat nyenyak. Hanya di kamar eyang aku bisa tidur dengan pulas, aku merasa mendapat perlindungan di kamar itu.


Bersambung …


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


Maaf iya kakak semua, baru bisa update satu beberapa hari ini, karena urusan di dunia nyata belum clear, harus bolak balik pergi, jadi hanya bisa satu bab

__ADS_1


__ADS_2