Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Diculik


__ADS_3

Meminta izin ke kamar mandi, itu hanya alasan untuk menghindar dari Farel, aku tidak ingin bertemu Farel dan tidak ingin membahas masa lalu dengan lelaki itu.


Saat ia masih duduk menunggu, aku sudah berbelok ke samping hotel. Tentu saja ingin menghindar darinya lagi.


Farel benar, melarikan diri memang kebiasaan ku, aku kembali melakukannya pada Farel saat ini, saat aku meminta izin ke kamar mandi, aku tidak ingin kembali, aku sengaja menghindar darinya, aku tahu ia tidak akan tinggal diam, akan mencari di setiap ruangan hotel.


Tetapi, fakta kalau Farel mengetahui kehamilanku, membuatku kembali tidak berdaya aku tidak ingin lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu mendekatiku.


Aku merasa hidup ini kembali dalam bahaya, ingatanku kembali pada ancaman yang dilakukan Marisa padaku dan kembali mengingat percakapan Farel malam itu.


‘Tidak, aku tidak boleh di sini , selagi masih ada Farel’ ucapku dalam hati.


Akhirnya festival yang diselenggarakan hari ini berjalan lancar, semua berjalan sesuai rencana. Saat semua orang merayakan dengan gembira, aku duduk lemas di dalam ruangan staf pegawai, lutut ku lemas tidak bertenaga, hatiku merasa tidak tenang. Aku hanya duduk di sana satu hari ini, tubuh ini seolah tidak punya semangat.


Bahkan aku tidak berani bertemu dengannya hari ini, seolah-olah aku telah melakukan kesalahan besar, aku seperti habis mencuri sesuatu yang besar dari Farel, sehingga membuatku tidak berani bertemu dengannya.


Saat melamun sendirian, suara pintu terbuka, Bayu datang, ia membawa makan malam di dalam nampan.


“Aku tahu kamu di sini bumil, ini makan …! tidak bagus kamu menahan lapar, kasihan anak kamu,” ujar lelaki itu meletakkan nampan yang berisi makanan.


“Terimakasih Pak Bayu, tetapi, aku merasa tidak lapar.”


“Makanlah, biar kamu punya tenaga untuk melarikan diri dari lelaki itu.


“Kok, Bapak tau?”


“Dari sejak tadi, ia sudah mencari kamu kemana-mana, ia bertanya ke semua pegawai hotel, tetapi, tidak ada satu orangpun yang melihatmu, tapi aku tahu kamu pasti ke sini, karena kamu suka melihat ketinggian” Bayu duduk di sampingku.


Tidak ingin mati lemas karena kelaparan , aku memaksa diri untuk makan, agar ada tenaga untuk menghindar dari Farel.


“Apa dia ayahnya anakmu?” tanya Bayu dengan mata menatap hamparan pantai dari balik jendela kaca di ruangan itu .


“Iya, tetapi aku tidak ingin dia datang ke sini.”


“Hadapi Rin, bukan menghindar, masalah tidak akan selesai hanya karena kamu pergi atau menghindar.”


Bayu memberi nasihat, semua yang dikatakan lelaki bertubuh tinggi kurus ini, benar, harusnya aku menghadapi Farel bukan malah bersembunyi seperti saat ini.

__ADS_1


“Baiklah, kamu benar, ayo turun,” ujar ku mengajak Bayu turun


Setelah mengobrol santai dengan Bayu di lantai bawah, aku berpisah dengannya, karena sudah lumayan malam.


Setelah membereskan semua pekerjaan, aku berpikir ingin langsung tidur, Berjalan sengaja lewat samping, agar tidak bertemu lagi dengan Farel, baru juga membuka pintu bagian samping, ternyata pria itu sudah menungguku diluar, berjalan beberapa langkah, suara itu menghentikan-ku.


"Aku sudah menduga kalau kamu akan melarikan diri."


"Bapak, ngapain di sini?"


" Menunggumu."


Kini aku jadi bingung, apa aku harus lanjut jalan atau masuk lagi ke dalam hotel atau memilih menghadapi Farel seperti yang dikatakan Bayu, belum juga aku menemukan jawabannya.


Sebuah tangan besar menutup mulutku dari belakang dengan sapu tangan, menit kemudian, tubuhku langsung ambruk, aku dibius dan dibawa entah kemana.


‘Aku tahu ini akan terjadi, jika ada Farel di sini’ aku membatin terlelap dalam tidur.


**


Aku terbangun saat mendengar suara ayam berkokok, hal itu sudah biasa di telingaku, tinggal di tepi pantai sering mendengar ayam berkokok. Tetapi yang membuatku terbangun, aku merasa ke pala ini, sangat sakit.


Saat membuka mata, aku terkejut, karena aku berada di tempat yang asing, dengan keadaan tangan terikat di kursi kayu, dua orang laki-laki bertato sedang menjagaku. Aku di sekap di rumah kosong, di pinggir hutan.


‘Manusia kejam, siapa yang tega melakukan ini? tega sekali menculik, wanita yang sedang hamil ?’ batinku berteriak. Aku takut si kecil dalam rahimku kenapa-kenapa.


"Hei lepaskan aku!" siapa kalian?” tanyaku ketakutan, takut terjadi hal buruk padanya.


"Jangan berisik!” Ucap seorang berambut gondong.


"Siapa yang menyuruh kalian? lepaskan aku. Aku sedang hamil, kenapa kalian tega melakukan ini!” teriakku dengan tubuh bergetar.


Tiba-tiba seorang dari mereka menutup mulut ini dengan sapu tangan, membuatku tidak bisa bersuara.


"Jika kamu masih berisik lagi, aku akan menghabisi mu, saat ini juga."


"Aku ingin ke kamar mandi, aku tidak tahan lagi," ucapku dengan suara teriakan yang tidak begitu jelas, aku ingin kabur, ia malah melemparkan baskom plastik ke depanku.

__ADS_1


"Lakukan saja di situ," ucapnya dengan kasar.


Aku mulai ketakutan, berharap ada malaikat baik menyelamatkanku dari penculikan ini. Apa yang aku takutkan terjadi juga, bertemu dengan Farel dan ia tahu aku hamil, membuat nyawaku dalam bahaya. Itu juga alasanku tidak ingin bertemu dengannya, tidak semua orang bisa dipercaya.


'Siapapun yang datang menolong mu aku rela jadi budaknya' ucapku bernazar dalam hati. Aku tidak ingin mati konyol di tempat ini dengan sia-sia, aku masih ingin melihat anak-anakku.


Saat di tengah kepanikan ku, tiba-tiba aku mendengar suara ribut di luar, beberapa orang mendatangi rumah tempat aku di sekap.


"Kami mendengar rumah ini dijadikan tempat penculikan?" tanya kepala dusun pada penjahat yang berambut panjang.


Sedangkan salah satu dari mereka mulai menyeret ku, ingin membawaku melalui pintu samping. Namun, dari jendela muncul sosok lelaki tinggi yang tidak asing bagiku, dengan gerakan cepat ia memukul kepala bagian belakang lelaki jahat itu hingga ia tersungkur jatuh pingsan.


Dengan tangan dan mulut masih ikat, ia mengangkat tubuh ini, membawa berlari menuju hutan, setelah lumayan jauh, ia baru menurunkan dari gendongannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Farel dengan panik, keringat membasahi pakaian dan keningnya menetes peluh segede jagung.


Farel malaikat penyelamatku saat itu.


"Kamu terluka, kita akan cari pertolongan," matanya melihat kanan kiri dengan sikap waspada.


Aku masih diam, apa yang terjadi hari ini membuatku takut, takut pada Farel juga, aku berpikir kalau semua ini ulah Farel.


"Tenanglah jangan takut," ujar Farel, mencoba menyakinkan ku, saat melihat tubuhku gemetaran, Farel ingin memeluk, ingin menenangkan ku.


Farel tahu aku ketakutan, saat itulah aku mendorong tubuhnya dengan kuat, aku menumpahkan tangisan .


“Aku tahu hari ini akan terjadi saat kamu datang,” ucapku memeluk perut ini, lelaki yang profesi seorang dokter itu tampak bingung.


"Siapa mereka? kenapa melakukan itu padaku?" tanyaku memeluk perut ini dengan erat, aku tidak ingin hal buruk terjadi padanya.


“Aku tidak tahu Rin, percayalah,” ucapnya dengan tatapan mata sendu. Aku menggeleng tidak percaya.


“Salah satu dari mereka preman yang pernah ingin membunuhku. Apa kamu ingin membunuhku? Apa kamu berkerja sama dengan kakakmu?”


Bersambung …


Jangan lupa kasih dukungan iya kakak Vote, like, share kasih review agar cerita ini bisa masuk Rank. Terimakasih Kakak.

__ADS_1


.Jangan lupa follow IG @ sonat.ha


__ADS_2