
Satu Bulan di Taiwan, aku memberanikan diri, untuk menelepon anak-anakku, karena sebelumnya aku takut menelepon, takut Jeny menangis yang akan membuatku sedih dan lemah.
Namun, pikiran ini tidak tenang saat mendengar ibu tiri mereka. Tetapi, sebelumnya aku sudah menelepon Dimas ayah Jeny dan Darma. Tetapi ia mengatakan kalau istrinya baik pada anak-anak.
Aku tidak percaya, ia pasti membela wanita itu, karena ia istrinya. Aku lebih percaya pada anak-anakku.
Aku menarik napas panjang sebelum menelepon ke ponsel Darma, aku sengaja menelepon anak tampan itu, karena ia jarang menangis. Kalau adiknya, aku telepon pasti airmata dulu yang tumpah baru suara belakangan.
Aku tidak tahan bila melihatnya menangis, aku jauh lebih sakit. Jika melihatnya menangis, maka itu, aku menelepon Damar.
Ia menceritakan semuanya tentang ibu tiri mereka, bagaimana ia memperlakukan jeny dan Damar saat ayah mereka pergi bekerja. Wanita bermuka dua, jika di hadapan ayah mereka wanita itu baik. Tetapi , jika ayah mereka pergi ia akan sangat kasar pada Jeny.
Mendengar hal itu, hatiku panas, aku saja sebagai ibunya tidak pernah melakukan itu pada mereka berdua. Aku berusaha keras selama ini agar anak-anakku tidak menangis dan sedih, kamu datang entah dari mana membuat anak-anakku sedih. Lihat saja akan aku patahkan tanganmu' ucapku dalam hati, sangat geram.
Aku meminta izin pada dr. Sinta untuk pulang sebentar ke Indonesia, untuk membereskan wanita yang menyakiti anak-anakku.
Wanita cantik itu setuju dan ia malah mendukungku untuk membantu anak-anakku dari ibu tiri mereka.
“Pergilah Rin, aku sudah membeli tiket, ini ….,” ucapnya memberikan amplop putih untukku, ia membeli tiket.
“Ini beneran?” tanyaku merasa tidak enak.
“Pergilah, bantu anakmu. Singkirkan wanita itu, ke laut,” ucapnya ikut kesal.
“Baik Dok, aku akan melakukannya, setelah mengurusnya aku akan kembali ke sini secepatnya," ucapku dengan yakin.
“Baiklah, hati-hari Rin, kabarin aku jika ada masalah,” ucapnya lagi.
Sejak bertemu dengan dr.Sinta, di salah satu desa di Bali, saat ingin melahirkan Haikal, membuatku beruntung karena ia sangat baik membantuku dengan tulus.
*
Aku sengaja tidak memberitahukan anak-anak kalau aku akan datang, Tetapi aku sudah mengabari ayahku yang tinggal di Bogor.
Aku terbang dari Bandara Taeyoung Taiwan pagi dan tiba di Indonesia , Bandara Internasional Soekarno Hatta menjelang sore. Langsung menuju rumah Dimas.
Tepat pukul 18: 00 Wib, aku sampai di rumah mantan suamiku, aku ingin memberi mereka berdua kejutan. Tetapi, bukan mereka yang terkejut malah aku yang dibuat shock.
__ADS_1
Sekarang aku mengerti … kenapa putraku menangis sedih saat itu, aku bertanya tentang ibu tirinya, tanpa ia jelaskan pun, akhirnya aku paham sekarang, aku paham, bagaimana wujud ibu sambung untuk anak-anakku.
Aku diam di ambang pintu saat mendengar wanita memaki dan meneriaki Jeny.
"Kamu itu tuli, iya! saat aku panggil" teriaknya dengan suara melengking.
Aku mengarahkan kamera ponselku untuk merekam perlakuan wanita itu pada anak-anakku, aku ingin tahu, apa Dimas tahu bagaimana kelakuan istrinya pada anaknya, karena setahuku Dimas sangat sayang pada mereka berdua.
"Maaf Ma, tadi aku tidak dengar," jawab Jeny dengan suara lembut.
'Sekali kamu menyentuh putriku habis kamu di tanganku' kataku dalam hati, masih mengawasi dan merekam dari pintu yang kebetulan saat itu sedang terbuka.
"Maaf, maaf saja terus yang kamu bilang, dasar anak pelacur ..."
Jeny menangis, tidak terima ibunya dikatain pelacur, mendengar adiknya menangis Darma keluar dari kamar.
"Ibuku tidak pelacur kamu yang pelacur, aku melihatmu merayu dan tidur dengan ayah, sebelum menikah," ujar Darma dengan berani.
Sebelumnya ia anak yang sangat baik dan penurut , tidak pernah membantah orang tua, perubahan sikapnya mungkin dipicu sikap jahat ibu tiri mereka.
Aku mengepal tanganku saat ia mengambil sapu dan memukul Jeny dengan sapu di tangannya. Aku membiarkan wanita itu melakukannya, aku hanya perlu bukti atas sikap jahatnya.
Setelah mendapat bukti yang cukup, aku mematikan ponselku dan menyimpan dalam tas, aku bertindak saat ia, ingin memukul Darma.
“Kamu berani mengatai saya seperti itu, iya dasar anak-”
Aku menarik rambutnya dari belakang.
"Kamu mau apa dengan putraku?" ucapku menjambak rambutnya dari belakang, tubuhku tinggi sedangkan wanita itu lebih pendek, membuatku mudah menggapai rambutnya.
"Ibu ...!" kedua anak itu memelukku. Tapi tanganku, masih menarik rambut wanita itu, lalu memelintir dengan kuat.
"Lepaskan aku! teriak wanita bertubuh gemuk itu, saat aku menarik rambutnya mengayunkan kanan -kiri, aku terlihat seperti seekor anjing yang kesetanan, menggoyangkan rambutnya sampai rontok, tidak cukup sampai di situ aku menampar nya bolak-balik.
"Dengar iya! aku tidak pernah sekalipun memukul anak-anakku, kamu berani memukulnya!”
Teriakku marah, untungnya saat aku masuk, pintu sudah aku tutup, jadi, tidak ada yang melihat keributan di dalam rumah.
__ADS_1
"Ini balasan kamu memukulnya dengan sapu." Dengan sangat marah, aku mengambil sapu yang ia gunakan untuk memukul Jeny, lalu aku memukul kakinya lalu pinggangnya aku sengaja tidak meninggalkan jejak di tubuhnya, tetapi menyakitkan di bagian dalam.
"Tolong ..! tolong," teriaknya ketakutan.
Aku melepaskannya lalu menariknya duduk di sofa, aku berubah seperti iblis betina yang licik. Ia tidak tahu seorang ibu bisa berubah menjadi iblis sekalipun, jika melihat anak-anaknya tersakiti. Jangankan aku, tikus saja bisa mengamuk jika melihat anak-anaknya diganggu dan disakiti.
"Dengar … kalau kamu berteriak lagi, aku akan menghajar mu, sebaiknya …. Kamu. Duduk dan dengarkan aku,"ucapku santai.
"Aku akan memanggil suamiku biar kamu di usir," ucapnya dengan rambut seperti sarang tawon.
"Sebaiknya kamu rapikan rambutmu, kamu terlihat seperti orang gila ," kataku.
Darma tampak tenang melihatku, memberi pelajaran pada ibu tiri mereka, seakan-akan kedua anak malang itu, sudah lama menungguku memberi pelajaran pada ibu tiri jahat itu.
"Kamu akan aku penjarakan! Suamiku akan mengusir mu dari sini," katanya lagi.
"Dengar, manusia buntal," ucapku, sedikit menghina, tetapi keadaannya begitu adanya, wanita itu gemuk, padahal ia baru punya anak satu. Matanya plonggo saat aku berkata seperti itu.
"Aku gemuk tapi punya suami, dari pada kamu hanya wanita simpanan." ucapnya balik menghina.
"Aku bukan wanita simpanan, aku sudah menikah jauh lebih hebat dari bekas suamiku, tapi dengar, kamu yang akan di usir dari sini, kamu tidak tahu kalau rumah ini sudah aku urus jadi atas nama Darma dan warung sembako milik suamimu atas nama Jeny? Aku pintar,kan,” ucapku duduk di sofa melipat tangan santai.
"Apa? itu tidak mungkin," ucapnya panik.
"Dengar .. rumah yang kamu tempati ini, atas nama putraku, aku sudah mengurus semua harta suamimu milik anak-anakku, jadi kamu harus tahu diri dan baik-baik sama putraku, pada usia tujuh belas tahun nanti, ia akan mengusir kamu dan anakmu dari rumah ini, karena ini rumahnya," kataku, Darma terkejut, ia tidak tahu kalau rumah ayahnya atas namanya dan aku berjuang keras untuk melakukan itu dan menukarkannya, dengan tubuh ini, aku rela tidur dengan mantan suamiku saat itu, agar semua harta ayahnya jadi milik anak-anakku.
"Bohong, itu tidak benar," kata wanita itu dengan panik.
"Kamu telepon suamimu dan tanyakan padanya, ia akan mejelaskan padamu kalau kalian hanya menumpang di rumah putraku," kataku dengan yakin.
Hal itu juga membuat wajah Darma dan Jeny bersemangat. Anak lelakiku yang duduk di bangku kelas enam SD itu tersenyum puas melihat wajah wanita itu panik.
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Bersambung ….
__ADS_1
“Kakak jangan lupa baca “Menikah Dengan Brondong”
Jangan lupa follow IG @sonat.ha Fb. Nata