Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Menyusun rencana untuk bertemu dengannya


__ADS_3

Setelah menjenguk dan mengungkapkan isi hati ini, ke kuburan ibu, aku pulang.


“Kok, cepat bangat Mbak?” tanya bapak driver saat kami meninggalkan pemakaman.


“Tidak Pak dia sudah meninggal, kita bisa apa?” ujar ku sembari menutup pintu mobil.


“Tidak membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dulu, untuk ibunya”


“Saya tidak bisa baca Alquran Pak”


“Mbak Islam' kan?”


Emosiku memuncak saat, ia mempertanyakan agamaku.


“Apa maksud bapak bertanya tentang keyakinan saya, keyakinan saya hak saya,” ucapku dengan nada marah.


“Maaf Mbak, saya tidak bermaksud menilai tentang keyakinan Mbak,sebagai umat muslimah saya hanya mengingatkan barang kali tadi Mbak lupa, membawa Alquran, jika lupa, saya bisa pinjamkan itu maksud saya Mbak”


“Pak saya tidak bisa ngaji dan saya juga gak bisa sholat. Ibu saya yang sudah meninggal itu tidak pernah mengajariku,” kataku dengan dengusan kesal.


Sepertinya bapaknya terkejut dengan ucapanku, merasa bersalah karena sudah menyinggung. Terkadang, hal kecil saja, bisa jadi masalah besar, jika hati dan pikiran sedang suntuk.


“Mbak Maaf,” ujarnya kemudian


Aku hanya diam. Sepanjang perjalanan menuju sebuah penginapan, dalam mobil menjadi hening. Sampai di hotel, aku membayar ongkos lebih dan keluar dengan diam, apa yang dikatakan si bapak mungkin ada benarnya, hanya situasinya yang tidak tepat.


Aku sengaja mengganti hotel, untuk aku tinggali, agar tidak bisa ditemukan.


Setelah mendapatkan satu kamar untuk aku tinggali, dalam kamar, rasa sedih kembali menyiksa jiwa ini, aku tidak tahu harus berbuat apa.


Aku butuh Farel untuk mencurahkan semua kesedihan ini, aku tahu, mungkin dia juga mengalami hal yang sama. Mungkin lelaki itu juga merasakan kesedihan karena kehilangan eyang dan memikirkan putranya.

__ADS_1


Aku berpikir jika aku bisa bertemu dengannya dan menceritakan tentang putranya, ia pasti akan sangat senang, itu yang aku pikirkan saat itu.


"Farel akan sangat senang jika ia tahu putra sudah lahir. Ia akan sangat senang jika aku menunjukkan foto-foto putranya yang tampan ini ,” ucapku menyemangati diri sendiri, mengusap air matakau degan kasar, mencoba melupakan tentang kepergian ibu.


Saat memikirkan tentang bagaimana cara untuk menemui Farel, ponselku berdering, ku raih benda pipih berwarna putih itu dari atas nakas.


Dr. Sinta calling ….


“Iya Dok?”


“Rin,kamu dimana?” tanya dokter cantik itu di ujung telepon.


‘ Apa terjadi sesuatu dengan Haikal?’ Tanyaku dalam hati, menahan napas sebelum menjawab pertanyaan Dr. Sinta.


Saat ini hal apapun sangat mudah membuatku takut.


“Aku di hotel Dok, kenapa …?” tanyaku dengan suara bergetar.


“Iya ampun Rin, aku turut berduka cita”


“Apa Haikal baik-baik saja?” tanyaku lagi.


“Dia baik, aku mau ke Jakarta, tiba-tiba dokter seniorku memintaku datang ke sana, untuk membantunya untuk operasi malam ini. Kita bertemu di sana, aku sudah tiba di bandara, jangan kemana-kemana, tetap hati-hati,” ujar Dr. Santi.


Wanita cantik itu tahu semua tentang masalah hidupku dan ia juga kenal dengan keluarga Farel. Makanya saat menceritakan tentang hidupku, ia juga sangat khawatir karena ia tahu bagaimana orang kaya itu bertindak.


“Baiklah Dok, datanglah, aku menunggumu di sini,”ujarku, aku mengirim alamat lokasi hotel padanya.


“Baik, jangan kemana-mana iya, segala yang kamu butuhkan pesan saja ke kamar,” ucapnya ujung telepon memperingatkan, seperti seorang kakak mengingatkan adiknya.


“Baik Dok”

__ADS_1


Menunggu Dokter Sinta sekitar dua jam, pada saat siang wanita berambut panjang itu akhirnya tiba. Membawa bag hitam di tangannya.


“Aduh aku lapar Rin, ayo kita makan,” ucapnya meletakkan tas jinjingnya di atas ranjang mencuci tangan dan menyiapkan makanan yang ia bawa, menatanya di atas meja.


Seakan-akan ia tahu kalau aku belum makan siang, iya itu benar aku belum makan. Bahkan tidak ada napsu makan, pikiran ini hanya tertuju pada ibuku, penyesalan membuat dada ini terasa sangat sesak. Andai waktu bisa diputar andai aku bisa diberi kesempatan untuk mengucapkan kata maaf pada ibu, aku akan bersujud di kakinya sebagai permintaan maaf ku. Tetapi itulah hukum alam Penyesalan selalu datang terlambat.


Aku mengerti arti sakitnya kehilangan orang terdekat, aku merasa sedih saat nenek Farel meninggal, ternyata aku merasa lebih sedih lagi saat ibuku meninggal.


“Aku tidak lapar Dok, aku merasa dadaku sangat sakit, aku tidak pernah menduga akan sesakit ini, saat di tinggal olehnya, padahal aku dulu selalu bilang padanya kalau aku tidak akan merasa sedih jika ia meninggal, bahkan saat aku muda, sering sekali menyuruh ibu lebih baik mati dari pada hidup untuk menyusahkan, aku tidak diberi kesempatan untuk meminta maaf Dok," ucapku jadi curhat panjang lebar.


“Semua manusia akan meninggal Rin, hanya, cara dan waktunya yang berbeda, kita yang masih hidup ini, akan lebih mempersiapkan diri untuk penjemputan berikutnya. Aku mengerti arti kehilangan itu jauh sebelum kamu Rin, kamu bisa bayangkan dalam waktu berdekatan aku kehilangan tiga orang yang aku cintai karena ulahku,” ucapnya kemudian, ikut curhat tentang kehidupannya.


“Ini sangat berat Dok, aku butuh dia, aku harus bertemu dengannya, agar beban di dalam hati ini bisa berkurang, aku ingin gila rasanya menyimpan semu rasa dalam hati ini. Aku butuh Farel ... untuk temanku berbagi,” ucapku tiba-tiba merindukan ayah dari Haikal.


“Rin, bukanya kamu bilang kalau ia ingin menikah dengan tunangannya. Lalu bagaimana kalau sudah menikah. Apa kamu akan sanggup mendengar itu? Aku yakin dalam situasi seperti saat ini, lebih baik kamu tenangkan dulu dirimu”


“Tetapi, hati ini mengatakan tidak Dok, aku yakin, ia ingin, aku dengan putranya, karena selama ini aku bisa melihat kalau ia sangat menginginkan anaknya, aku yakin ia juga sangat senang jika tahu anak tampannya sudah lahir, Aku butuh dia Dok saat ini”


“Jujur, aku sangat khawatir, tetapi tidak apa-apa. Tapi aku akan membantumu, kebetulan besok aku akan melakukan operasi di tempat suami kamu bertugas, saat aku periksa. Ternyata ada nama Farel Taslan di sana. Karena itu aku langsung menelepon mu tadi, niatku sih aku yang menemuinya memberitahukan tentang kamu dan putramu


“Tidak Dok, biarkan aku yang menemuinya langsung, biarkan aku yang mengatakannya secara secara pribadi”


“Baiklah, aku akan membantumu, kebetulan kakak laki-lakiku juga bagian admistrasi di sana. Tapi harus makan dulu, biar kamu punya tenaga,” ujar Dr. Sinta penuh perhatian.


“Baik Dok,” ucapku memiliki sedikit semangat hidup, aku sangat bersemangat saat ingin bertemu Farel, aku ingin mengatakan semuanya padanya, aku yakin dengan menceritakan dan berbagi cerita dengannya beban di pundakku, akan berkurang. Aku berharap Farel merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.


Bersambung …


Jangan lupa like dan vote iya Kakak kasih hadiah juga, biar tambah semangat.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2