Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Tidak ingin salah paham


__ADS_3

Akhirnya tiba di depan bandara.


“Terimakasih, karena kalian mengantarku sampai ke sini, aku berharap kalian semua mendapat kebahagian. Pesawatku sebentar lagi akan berangkat, saya akan masuk,”ucapnya buru-buru.


“Ok. Hati-hati iya Pak,” ucap Sinta mengulurkan tangannya dan diikuti ke dua wanita itu. Lalu ia mengulurkan tangannya untukku, aku masih diam menatap wajahnya.


“Rin …! itu loh … tangan Pak Virto,” ucap Sinta menyenggol pinggulku.


‘Bodoh amat dengan semuanya, aku tidak tahan lagi!’ teriakku dalam hati, aku menyambut tangannya, memegang dengan erat.


“Maafkan aku … maaf kalau aku banyak salah. Terimakasih untuk semuanya, Mas” menyalam tangannya dengan erat. Virto hanya tersenyum , ia terlihat tegar.


Sepertinya ia menepati janjinya yang akan melupakanku selamanya, aku tidak perduli aku hanya ingin dia sehat dan panjang umur, bukan untuk mengharapkan cinta


“Aku ingin kamu sehat kembali Mas, jika di masa lalu kita melakukan kesalahan, mari kita di masa tua ini, memperbaiki diri. Tolong berjanjilah agar kamu melakukan pengobatan Mas, kamu yang bilang, cinta tidak harus memiliki, aku akan bahagia, jika kamu hidup sehat walau tidak harus memiliki," ucapku.


“Baiklah Rin jangan menangis lagi,” ucap Virto bersikap takut-takut.


“ Mas berjanjilah kalau kamu akan melakukan pengobatan lagi … Ayo kita lihat anak-anak kita sukses dan kita bantu anak-anak kita mendapat kebahagian mereka,” ucapku, masih menyalam tangannya, akhirnya air mataku tumpah juga. Aku tidak perduli lagi dengan tatapan mata semua orang pada kami.


“Rin … dengar a-”


“Aku tidak perduli dengan tatapan semua orang … aku hanya ingin kamu berjanji padaku untuk sehat kembali, jangan biarkan aku memikul rasa bersalah ini seumur hidupku,” ucapku tidak mau melepaskan tanganku.


“Kamu mengabaikanku tadi, itu membuatku semakin sedih, bagaimana mungkin kamu pergi begitu saja, setelah membuatku sedih lalu kamu meninggalkanku hik … hik …hik” tangisku semakin menjadi, memegang tangan lelaki yang bukan suami, aku tidak tahu itu dosa atau bukan. Tetapi itulah luapan emosi di dalam hati ini dan perasaanku saat itu. Aku tidak bisa berpura-pura mengabaikannya seperti yang ia lakukan padaku.


“Rin … dengar! Aku melakukan itu agar kamu tidak dapat masalah dari suamimu. Aku tidak ingin suamimu salah paham, makanya aku dan Sinta bekerja sama mengabaikanmu. Karena Farel dari sejak dari malam itu mengawasiku dan bahkan kali ini, dia juga melihat kamu melakukan ini,” ucap Virto dengan mata di gerakkan ke arah parkiran mobil.


Membuatku berhenti menangis, lalu melepaskan tangan Virto.


“Aku akan menjelaskan pada Farel, aku hanya ingin kamu sehat”


Virto menatap wajahku.


“Pergilah padanya, aku melepaskanmu dengan ikhlas, aku akan sangat senang jika kamu bersamanya dia mencintaimu, dan hiduplah bahagia dengannya”

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan kamu. Aku tidak ingin kamu mati. Tolonglah pergi lagi untuk mendapatkan pengobatan,”ucapku air mata ini belum berhenti, justru semakin menganak sungai saat melihat Virto tersenyum.


“Aku akan mendapatkan kebahagiaanku dengan caraku sendiri,”ucapnya menarik kopernya ingin berangkat.


Aku masih diam.


“Mbak Sinta, Ratih, Sonya aku pergi iya. Ririn aku pergi iya jaga dirimu baik-baik. Assalamualaikum”ucap Mas Virto.


“Wassalamu'alaikum”


‘Selamat jalan Mas, aku berharap kamu sehat dan mendapatkan kebahagiaanmu, hanya itu keinginanku’ ucapku dalam hati.


Berjalan tanpa menoleh ke belakang dan menghilang di balik dinding tembok bandara.


*


“Ayo. Rin apa kamu mau berdiri di situ sampai besok?” tanya Sinta masih merasa kesal padaku.


“Kita makan dulu di sana aku lapar.” Sinta menunjuk sebuah cafe di samping bandara. Aku masih diam bahkan sampai mereka semua duduk dan menuliskan menu pesanan, aku masih bertingkah seperti mayat hidup.


“Pesan apa saja aku mau,” ucapku tidak bersemangat.


“Rin, aku masih marah padamu. Kamu tahu kenapa? Bukan karena aku tergila-gila pada Virto, kami berdua bersikap akrap seperti itu, karena suamimu mengawasi kita sejak dari malam itu. Pak Virto tidak ingin suamimu salah paham, maka itu dia bersikap abai padamu . Itu karena aku dan Pak Virto tidak ingin kamu dapat masalah, kenapa sih kamu tidak bisa berpura-pura tidak perduli padanya"


“Aku tidak bisa bersikap seperti itu Sin, aku bukan tipe wanita yang bisa berpura-pura bilang cinta padahal tidak, jika aku buruk, maka buruklah aku di luar dan di dalam. Hati tidak bisa di paksakan, aku juga bukannya ingin kembali pada Virto aku hanya kasihan dan perduli padanya. Apa itu salah?"


“Iya aku tahu, kamu bukan wanita yang munafik. Jika kamu suka, kamu akan bilang suka jika tidak maka kamu akan katakan tidak. Itulah sebenarnya membuatku suka degan kamu Rin, tidak suka munafik, jika suka iya bilang suka, jika tidak maka tidak. Tetapi malam itu, itu salah Rin, kamu tidak tahu bagaimana marahnya tatapan mata Farel saat kamu mengabaikannya.”


“Sin, tidak ada niatku untuk kembali lagi pada Virto. Tetapi, bagaimana mungkin aku mengabaikan Virto, karena aku bisa sampai ke panggung besar itu, karena kamu, Virto dan Ibu kalian mendukungku jadi desainer. Mas Virto dulu dia rela pakaiannya aku jadikan kelinci percobaan, dia rela seragam polisinya terlihat aneh saat aku merancang dan menjahit untuknya dia tidak pernah marah. Mas virto dan ibuku orang yang pertama aku ingin ucapkan terimakasih saat itu Sin, tidak ada niat untuk membuatmu marah dan membuat Farel cemburu.


“Hadeh ... kalau urusannya tentang hati memang susah sih. Cinta itu tidak berwujud dan tidak dapat di sentuh, tetapi bisa menyakiti sampai ke ubun-ubun,” ucap Sinta memutar garpu dalam piringnya dan mengangkat spaghetti itu dan memakannya dengan santai.


Tetapi saat kami sedang makan. Tiba-tiba mata Sinta melotot ke arah pintu masuk yang aku belakangi.


“Oh, gempa bumi itu sudah di mulai, aku tidak mau ikut campur,” ucapnya memakan spaghetti miliknya dengan buru-buru, aku melirik ke belakang.

__ADS_1


“Busett … Sialan,” makiku panik, melihat sosok lelaki tampan setelan jaket kulit memakai kaca mata hitam, mirip detektif swasta , duduk di sampingku.


“Tidak apa-apa, lelaki tampan itu tidak akan menyakitimu, paling dia menyiksamu di ranjang,” bisik Sinta membuatku hampir tersendak.


Dia duduk tanpa permisi, tanpa memberi salam, membuat kedua wanita itu saling berbisik


“Siapa?” tanya Sonya menatap Ratih.


“Tidak tahu.” Ratih menggeleng . Mereka berdua belum tahu, lelaki tampan yang sedang di landa kemarahan itu adalah suamiku.


“Kamu tahu kemarahan terbesar dari seorang lelaki, itu adalah cemburu,” bisik Sinta lagi menakut-nakuti, membuatku susah untuk menelan.


Makanan dalam piring ke tiga wanita itu, sudah habis, aku malah merasa tiba-tiba tidak bisa menelan makan itu lagi.


Aku menarik tisu mengusap bibirku, Farel masih diam, ia menungguku menghabiskan makananku. Tetapi tiba-tiba Sinta berdiri.


“Rin, aku akan mengantar mereka berdua ke resto, sekalian aku mau cek keadaan di sana. Kalau kamu ingin pulang ke apartemen sendiri saja. Selesaikan urusanmu dulu,” ucap Sinta berdiri di ikuti Ratih dan Sonya.


“Eh, loh aku …?” tanyaku. Belum juga mendapat jawaban tetapi ….


“Kamu. Ikut aku sekarang!” Suara bariton bernada tegas keluar dari mulut Farel, Sinta belum jalan, tetapi Farel sudah menyeret lenganku membawaku keluar dari cafe.


“Dengar aku ingin menjelaskan … Lepaskan dulu biar aku jelaskan,” ucapku memberi tawaran. Boro-Boro untuk merespon tawaranku, menoleh juga tidak, ia menyeret lenganku seperti tawanan di film-film mafia box office


Bersambung …


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,


KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR Viewer NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


“Menikah Dengan Brondong”


Follow ig sonat.ha dan


Fb Nata

__ADS_1


__ADS_2