
Mata ini terpelongo melihat sikapnya yang terus memaksa ingin menikah denganku, padahal sudah jelas-jelas ia tahu siapa diri ini, aku seorang janda beranak dua, bahkan jadi perusak rumah tangga kakak perempuannya. Lalu kenapa ia mengotot akan menikahi ku? aku tidak tahu apa yang dipikirkan Farel dan apa tujuannya di balik sikap memaksa itu.
Ia memaksakan diri menikah denganku karena aku mengandung anaknya, tetapi itu bukan jadi alasan, masih banyak wanita diluar sana untuk ia jadikan untuk menanam benih darinya, tentunya akan mengahasilkan bibit yang baik.
' Lah aku … siapa?'
Aku sungguh tidak ada niat sedikitpun untuk menjadikan lelaki angkuh itu untuk ayah dari anak-anakku dan aku juga tidak ada rasa cinta padanya yang ada rasa benci.
Kesepakatan aku dan dia menikah dan memberitahukan pada Virto kalau aku istrinya, dengan begitu Virto tidak menganggu hidupku, lalu Farel menceraikan ku.
Sekarang rencananya jadi berbeda, ia ingin menikahiku untuk bertanggung jawab dengan janin yang aku kandung, aku tidak menginginkan hal itu, bukan itu ini yang aku inginkan.
Bagaimana aku akan melihat keluarga Farel jika aku menikah dengannya? lalu bagaimana dengan masa depannya? masa dokter sehebat Farel dan setampan itu, harus menikah janda yang hanya tamatan SMP. Tidak mungkin ada bagian otak Farel yang korsleting itu yang aku pikirkan.
“Aku bilang, aku akan menikah denganmu, apa kamu mendengarku?”
"AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGAN KAMU," balasku tegas.
Kami berdua saling bersitegang, ia dengan pendiriannya dan aku pun dengan pendirian ku, setelah diam beberapa saat, lalu ia berkata lagi;
"Kita akan bercerai setelah kamu melahirkan, aku akan memberikan kamu uang yang banyak."
“Kenapa kamu menginginkannya, kenapa kamu tidak bikin anak pada wanita yang tepat, wanita bai-baik? setidaknya yang kamu cintai.”
“Karena kamu sudah terlanjur hamil.”
“Itu bukan jadi alasan Pak Farel … tujuan kamu menjebak ku bukan untuk buat anak kan? Kamu hanya ingin menyelamatkan rumah tangga kakak perempuanmu , menyelamatkan dari pelakor seperti aku.
Tetapi sekarang kenapa malah berubah … kenapa, kenapa harus mempertahankan anak ini?” Tanganku menunjuk perutku yang masih terlihat datar itu.
"Karena aku manusia.”
“Haaa …? Maksudmu aku kuntilanak?”
“Ya, seorang wanita tidak akan mau membunuh darah dagingnya sendiri.”
“Duniamu terlalu sempit PAK DOKTER! Apa kau tahu wanita panggilan di luar sana ....? Mereka mengugurkan kandungan mereka setiap bulan."
“Aku tidak tahu, karena aku bukan PSK,” balas Farel.
“Tetapi kamu menidurinya, itu aku. Tanyakan pada mami yang kamu ajak kerja sama untuk menjebak ku, berapa puluh janin yang dia lenyap kan setiap bulan?”
“Sudah, berhenti bicara dan membahas tentang wanita penghibur.”
__ADS_1
"Maksudku kamu bisa memiliki anak dari wanita yang layak yang bisa kamu banggakan pada keluarga dan teman-temanmu,” ucapku lagi.
"Kamu keras kepala iya, berhenti menggurui ku, sudah dijelaskan panjang lebar, aku mau menikah dengan Ririn Wulandari.” ucap Farel.
" Bodo amat! …. Aku tidak mau, aku tetap tidak mau menikah dengan kamu dalam keadaan hamil," balasku marah.
Aku berdiri keluar dari kamar, mengumpulkan beberapa lembar pakaian, aku berencana ingin keluar dari apartemen. Karena barang-barang yang aku pakai itu Farel yang membeli, jadi aku tidak berniat membawanya, hanya beberapa potong.
Lelaki yang berprofesi dokter itu berdiri di tiang pintu dengan satu tangan di masukkan ke saku celananya, dan menatapku dengan intens.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau keluar dari sini, aku membatalkan rencana kita.”
"Tidak semudah itu Nona, kamu sudah setuju menikah denganku dan kita sudah sepakat, maka itu kita akan ... memutuskan seperti rencana kita.”
Tiba-tiba ia mengeluarkan borgol dari laci dan memborgol tanganku dengan tangannya, lalu ia melemparkan kuncinya keluar jendela apartemen.
“Apa yang kamu lakukan?”tanyaku panik. "Apa yang ingin kamu lakukan?" mata ini membelalak sebesar jengkol, karena kaget.
Tidak pernah terpikirkan olehku kalau lelaki bermata coklat itu akan melakukan hal yang gila seperti itu.
Kini, borgol besi itu sudah tersangkut di antara tanganku dan tangan Farel.
"Aku harus mengikat agar kamu tidak kabur,”ucapnya dengan santai, kedua ujung bibirnya saling bertarikan membentuk lengkungan kecil, lelaki tampan itu tertawa kecil, seolah-olah ia puas dengan hasil pekerjaannya.
"Kesepakatan kita menikah!”
"Ok, ok, begini saja kita akan menikah, tetapi Bapak akan menceraikan ku hari itu juga, bagaimana?”
"Aku berubah pikiran, aku ingin kamu jadi istriku sampai melahirkan."
"Apaaa ...? tidak boleh seperti itu! Kamu kenapa mudah mengingkari janji sih? Aku tidak mau bertemu keluargamu, aku tidak mau melihat wajah kakakmu. Aku juga tidak mau jadi istrimu," ucapku membantah.
Tetapi ia menghiraukan penolakan yang aku lontarkan, ia berjalan ke sana kemari dan aku mengikuti langkahnya bagai anak anjing peliharaan.
'Apa,apaan ini? apa dia pikir bisa melakukan semua yang ia inginkan?’
"Apa yang ingin kamu lakukan, lakukan saja aku akan mengikutinya,"pintanya santai seolah-olah ucapan penolakan yang aku lontarkan barusan hanya suara kentut baginya, bunyi dan menguap begitu saja.
Wajah tidak merasa bersalah, jika suasana hatinya lagi baik dan ia ada mau, pasti ia akan bersikap sopan dan lembut.
Tetapi jika ia sedang marah, ia akan membentak dan memanggil dengan sebutan lu fdan gue.
__ADS_1
"Tolong lepaskan ini tidak benar Pak Farel, aku ingin mandi,” ucapku mulai panik.
"Silahkan,” ucapnya dengan santai dan mengangkat kedua alisnya.
Lelah rasanya menghadapi mahluk keras kepala seperti dia, aku hanya bisa menghela napas panjang dan merasa kepala berdenyut-denyut pusing.
"Aku akan menutup mata,"ucap Farel.
"Sudah, lupakan tentang mandi , baiklah aku tidur saja," aku berjalan menuju kamarku. Tetapi ia menarik lenganku ke kamarnya.
"Kita tidur di sini saja."
"Kenapa harus memperkeruh suasana sih Pak? dengar ….! Apa nanti kata keluargamu jika tahu kamu menikah dengan janda beranak dua seorang wanita-”
“Sttt ... diam, tidak usah di lanjutkan, menempelkan satu jari di bibirku, memaksanya untuk berhenti.
Tanganku dengan cepat menyingkirkan jari-jarinya dari bibir ini.
“ Begini Pak Farel, aku hanya tamatan SMP sedangkan kamu seorang dokter."
"Siapa yang menjadikanmu istriku selamanya? aku bilang mau menikah denganmu demi kakakku dan demi anak itu.”
‘Kamu lelaki egois, hanya memikirkan dirinya sendiri, baiklah aku akan ikuti permainanmu' ucapku dalam hati.
Menentang keinginan hati Farel, sama saja kita bicara sama tembok, tidak ada arti melawan, tetapi harus mencari celah untuk bisa lepas darinya.
"Lalu kita akan bercerai?"
"Iya."
"Baiklah, aku setuju,' ucapku sedikit merasa legah
"Tetapi aku punya syarat."
"Syarat apa lagi? kamu itu terlalu banyak syarat dan mudah ingkar janji,” ucapku protes.
"Anak yang kamu kandung harus tetap hidup."
Bersambung ….
Bagaimana kakak bab hari ini?
Menarik? Marah? Tuliskan ulasan kakak di setiap bab iya.
__ADS_1
jangan lupa vote,like dan share iya … Kasih hadiah juga boleh, biar authornya semakin semangat untuk up tiap hari.
Terimakasih , Salam sehat.