
"Kok jadi pak Farel yang bawa?" tanyaku dengan sikap malas.
"Kebetulan aku juga belum makan, tadi ketiduran, ini baru bangun," ucapnya meletakkan nampan makanan."Sini duduk mari makan," pintanya dengan sikap santai seolah-lah ia tidak punya beban hidup sedikitpun.
‘Hadeeeh ... ini manusia menyebalkan sejagat raya’ rutukku dalam hati.
Sekeras apapun aku menghindari lelaki ini, ia tetap saja menemukanku. Hingga saat ini, aku belum bisa memahaminya, otakku terus saja berpikir. Kenapa ia selalu mengejar ku?
Wanita yang tidak sepadan dengannya, aku seorang janda yang sudah memiliki dua anak, bahkan punya masa lalu yang kelam. Ia seorang dokter berasal dari keluarga terhormat dan kaya.
'Aku tidak meminta untuk bertanggung jawab untuk kehamilanku, kalau ia memang ingin anak, kan, bisa mencetak dengan tunangannya, lebih jelas bibit dan tentunya, tidak membuatnya malu.
Mungkin saat itu, jika saja aku tidak mengandung anaknya, mungkin ceritanya akan berbeda, mungkin ia sudah melenyapkan ku seperti rencananya'
Aku masih berdiri menatap Farel, ia sibuk menyajikan makan malam yang ia bawa tadi.
"Duduklah, berhenti menatapku,"ujarnya menyodorkan mangkuk itu ke tanganku.
Perut sudah sangat lapar, untuk berpikir keras juga capek, agar bisa berpikir dengan jernih perlu makan.
Aku ikut duduk dan makan dengan diam, aku tahu, diam-diam Farel menatap wajah ini, ia terus saja melirik ke arahku terlebih perutku, tetapi aku memilih diam, tidak perduli dengan semua tatapan yang ditujukan untukku, apa lagi perhatian yang ia sungguhkan, bagiku perhatian yang diberikan Farel hanya kepalsuan. Aku tidak melihat ada ketulusan di sana.
Aku menyantap soup dalam mangkuk.
"Tidak bisakah, kamu memakannya dengan santai?"
"Ini sudah malam Pak Farel, kita butuh istirahat, karena aku besok harus bekerja"
"Apa kamu mengusirku?"Ia menatapku dengan lembut.
"Tidak, aku hanya terlalu capek, karena bekerja seharian," kataku merasa tubuh ini sangat lemah dan kepala terasa pusing.
"Apa pekerjaanmu di sini cepek? Berhentilah bekerja dan ikut denganku.” Farel menatapku dengan tatapan serius.
"Auuuh ... tentu saja capek Pak Farel, karena Bagian ku, hanya seorang pengawas, bukan bos," ucapku , aku mendesis kesal, aku tidak suka melihatnya, saat ia mulai bicara tentang kehidupanku, aku benar-benar tidak suka saat ia menunjukkan perhatiannya padaku.
"Baiklah, nanti aku akan membuat kamu, di posisi tidak capek lagi,” ujarnya santai.
Aku menganggapnya sebagai bualan, masih menyendok soup sendok demi sendok terakhir tiba-tiba aku merasa mual.
Uaaak ...!
Berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi dalam perut.
"Kamu tidak apa-apa?" Ia menatapku dengan tatapan panik, tangannya memegang perut ini, wajahnya tampak sangat khawatir.
"Kamu keluar saja aku mau istirahat," kataku dengan nada mengusir.
Tetapi ia masih berdiri menghiraukan permintaanku wajahnya tampak panik.
“Biarkan aku memeriksa mu,”ujar Farel, wajahnya semakin cemas saat melihatku lemas.
__ADS_1
"Gak usah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Jangan marah, aku hanya khawatir, Rin"
" Tidak usah, aku hanya masuk angin.”
"Apa kamu salah makan?”
“Pak Farel, kamu seperti wartawan banyak pertanyaan, sudah sana keluar!”
"Aku hanya bertanya, apa salah tinggal menjawab saja, aku bertanya karena aku seorang dokter”
"Iya, iya, PAk DOKTER .... Sayangnya, aku bukan pasien mu”
"Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit, kalau kamu merasa sungkan untuk aku periksa"
"Gak, tidak perlu, mengalami mual seperti ini, sudah biasa untukku," kataku mulai memijit-mijit kening yang berkedut.
"Dengar Ririn, aku hanya ingin memastikan , anakku baik-baik saja," ucapnya dengan wajah serius.
‘Anakku, anakku …!Ini orang sudah dibilangin, dia tidak berhak, masih saja ... aku pusing'ucapku dalam hati.
"Tidak akan terjadi apa-apa jangan khawatir, sudah keluar sana!" Aku menyuruhnya meninggalkan kamar.
"Ayo kita pastikan dulu ke dokter, apa kamu tidak kasihan padanya?”
"Dia tidak apa-apa, aku bilang, sana keluar," kataku mendorong tubuhnya keluar dari kamarku.
"Iya, iya keluarlah sana"
Saat ia keluar, aku juga keluar mencari apotik untuk membeli obat pusing untuk orang hamil dan obat masuk angin, seluruh badan ini terasa sangat pegal. Tetapi saat tiba di apotik di dekat hotel, aku harus gigit jari. Karena sudah malam, apoteknya tidak buka lagi, harus berjalan lumayan jauh dari hotel
'Beli besok, apa sekarang? kalau besok, aku takut tidak bisa tidur malam ini' tanyaku dalam hati.
Maka aku putuskan berjalan. Namun, saat ingin berjalan mencari apotik, tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti.
"Naiklah! Ternyata Farel mengikuti ku.
"Tidak usah," kataku menolak.
Dengan cepat ia turun dari mobil dan menggendongku dengan paksa, lalu memasukkan ke dalam mobil.
“Farel apa yang kamu ingin lakukan?”
“Diam lah Rin, sandarkan kepalamu agar rasa pusingnya berkurang.” Aku ingin keluar. Namun Farel menahan tubuh ini, membawaku dengan paksa.
“Kamu ingin menculik ku lagi?” tanyaku kesal.
“Tenanglah,” ujar Farel memegang perutku yang buncit.
“Lalu kamu membawaku kemana?”
__ADS_1
“Ke suatu tempat”
Farel membawaku ke sebuah villa yang jarak tidak terlalu jauh dari hotel tempatku bekerja.
Mobil berwarna hitam itu berhenti di sebuah villa mewah tepat di Kutai Bali berada di tepi pantai.
“Ini rumah siapa?” tanyaku ketakutan, aku berpikir Farel akan membawaku ke hadapan kakak perempuannya.
“Tenanglah, ini Villa keluargaku”
‘Villa keluarga? Apa di dalam ada Marisa?’ tanyaku dalam hati mulai memasang sikap waspada.
Melihatku tidak mau turun dari mobil, ia turun memegang tanganku, mengajak masuk ke dalam Villa.
‘Iya ampun … apa lagi sekarang?’
*
Saat di bawa masuk, aku mendengar desiran ombak dari pantai dari kaca jendela villa
di depan mata terpampang hamparan laut.
"Ini di mana? ini bukan hotel"
"Ayo kita menikah" ujar Farel.
'Menikah ... menikah lagi yang dibahas, membuat hati ini semakin lelah saja. Menikah
dengan Ipar Mas Virto? menikah dengan adik dari musuhku?' tidak akan' ucapku dalam hati.
"Kenapa hanya diam?"
"Aku tidak mau menikah dengan Kamu, aku harus ngomong berapa kali”
"Kenapa?"
"Karena kamu ipar dari Mas Virto dan adik dari Marisa, aku tidak ingin kembali ke masa lalu, aku akan membesarkan sendiri, biarkan aku menata lembaran baru dalam hidupku"
'
"Tapi aku ayah! Aku lelah membujuk mu!
"Aku tahu, tetapi aku tidak mau menikah dengan Pak Farel. karena aku tidak mau memiliki hubungan apapun dengan keluargamu"
Bersambung …
TEKAN VOTE DAN LIKE
Jangan lupa iya kakak, share kasih review, kasih hadiah …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha
__ADS_1